LEMBAR PENGESAHAN
Dinamika Konflik Intrapersonal dalam Proses Transformasi Identitas Profesional: Studi Kasus Dokterpreneur di Surabaya
Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Doktor
Oleh
ANDRI SULAKSONO
0109012220013
PROGRAM DOKTOR ILMU MANAJEMEN
SCHOOL OF BUSINESS AND MANAGEMENT
UNIVERSITAS CIPUTRA
SURABAYA
2024
DISERTASI
Dinamika Konflik Intrapersonal dalam Proses Transformasi Identitas Profesional: Studi Kasus Dokterpreneur di Surabaya
Oleh:
ANDRI SULAKSONO
0109012220013
telah dipertahankan didepan penguji pada tanggal: 20 Nopember 20xx
dinyatakan telah memenuhi syarat
Tim Promotor,
Prof. Dr. Burhan Bungin, M.Si., PhD., CIQaR., CIQnR., CIMMR.
Promotor
Dr. Ir. Liliana Dewi, M.M., CFP.
Ko-Promotor
Mengetahui,
Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ciputra
Prof. Dr. Murphin Sembiring
NIP: xxx
Dinamika Konflik Intrapersonal dalam Proses Transformasi Identitas Profesional: Studi Kasus Dokterpreneur di Surabaya
Nama Mahasiswa : Andri Sulaksono
NIM : 0109012220013
Program Studi : S3 Manajemen
Minat : Entreprenerial
Tim Promotor
Promotor : Prof. Dr. Burhan Bungin, M.Si., Ph.D., CIQaR., CIQnR., CIMMR.
Ko-Promotor 1 : Dr. Ir. Liliana Dewi, M.M., CFP.
Ko-Promotor 2 :
Tim Penguji Internal
Penguji I : Prof. Dr. Thomas Stefanus Kaihatu, M.M.
Penguji II :
Penguji III :
Tim Penguji Eksternal
Penguji I :
Tanggal Ujian : 20 Februari 202X
Nomor SK Penguji :
PERNYATAAN ORISINALITAS DISERTASI
Saya, (Andri Sulaksono, 0109012220013), menyatakan bahwa;
Disertasi saya ini adalah asli dan benar-benar hasil karya saya sendiri, dan bukan hasil karya orang lain dengan mengatasnamakan saya, serta bukan merupakan hasil peniruan atau penjiplakan (plagiarism) dari karya orang lain. Disertasi ini belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik baik di Universitas Ciputra, maupun di perguruan tinggi lainnya.
Dalam disertasi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya, dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis disertasi ini, serta sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku di Universitas Ciputra
Surabaya, …………………
atas materai
10.000
Andri Sulaksono
NIM. : 0109012220013
DAFTAR ISI
1. 1. Latar Belakang Masalah 2
1. 1. 1. Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD) 5
1. 1. 2. Disrupsi sebagai Dokterpreneur 7
1. 1. 3. Transformasi Dokter ke Dokterpreneur 12
1. 1. 4. Faktor Pendorong Transformasi sebagai Dokterpreneur 14
2. 1. Paradigma Penelitian dan Metode Penelitian 19
2. 1. 1. Paradigma Post Positivis 24
2. 1. 2. Metode Kuasi Kualitatif 25
2. 2. 1. Identifikasi Celah Penelitian 30
2. 2. 3. Pemilihan Metodologi 32
2. 2. 4. Mengonfirmasi Temuan 33
2. 3. 1. Jenis Literatur Review 66
2. 3. 2. Signifikansi Literatur Review 67
2. 3. 3. Sejarah dan Definisi Entrepreneur 71
2. 3. 4. Jenis-Jenis Entrepreneurship 79
2. 3. 5. Teori-Teori Kewurausahaan (Entrepreneurship) 92
2. 3. 6. Teori-Teori Dokter Entrepreneur (Entrepreneurship Bidang Kesehatan) 99
2. 4. Tinjauan Kritis dan Celah Penelitian 102
2. 4. 1. Tinjauan Kritis Teori-Teori Kewirausahan 113
2. 4. 2. Tinjauan Kritis Teori-Teori Dokterpreneur (Entrepreneurship di Bidang Kesahatan) 123
2. 5. 15 Langkah Penelitian The True Quasi Qualitative 129
3. 1. Landasan Filosofis dan Pendekatan Penelitian 133
3. 2. Objek dan Informan Penelitian 134
3. 3. Metode Pengumpulan Data 136
BAB 4 SEJARAH ILMU KEDOKTERAN 143
4. 1. Sejarah Ilmu Kedokteran 143
4. 1. 1. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Pra Sejarah 144
4. 1. 2. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Mesir Kuno 147
4. 1. 3. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman India 149
4. 1. 4. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Cina 151
4. 1. 5. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Yunani 156
4. 1. 6. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Romawi 167
4. 1. 7. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Islam 170
4. 1. 8. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Pembaharuan Eropa (Zaman Renaisans) 182
4. 1. 9. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Modern 183
4. 1. 10. Perkembangan Ilmu Kedokteran Indonesia 185
4. 2. Perubahan Paradigma Ilmu Kedokteran 191
4. 2. 1. Paradigma Magis-Religius ke Paradigma Rasional-Empiris 192
4. 2. 2. Paradigma Humoralisme ke Paradigma Mikrobiologi 192
4. 2. 3. Paradigma Biomedis ke Paradigma Biopsikososial 193
4. 3. Dampak Perubahan Paradigma terhadap Praktik Kedokteran 194
BAB 1
PENDAHULUAN
Dalam konteks medis modern, peran dokter semakin kompleks dan tanggung jawab semakin meningkat, bersamaan dengan perkembangan tersebut, tantangan peran dokter di luar bidang medis telah menuntut dokter untuk tidak hanya memiliki keahlian klinis yang mendalam, tetapi juga keterampilan manajerial, kepemimpinan, komunikasi, dan pengambil keputusan yang komprehensif.
Konsep entrepreneurial dokter (dokterpreneur) adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan profesionalisme klinis medis dengan prinsip-prinsip entrepreneur ke dalam dunia kedokteran. Konsep ini dipandang sebagai jawaban atas perubahan peran dokter yang semakin kompleks sesuai dengan perkembangan Zaman.
Tulisan ini akan mengkaji karakteristik entrepreneurial dokter (dokterpreneur) agar bisa selaras mengiringi perkembangan dunia kedokteran serta bagaimana konsep dokterpreneur ini bisa diterapkan dalam dunia layanan kesehatan milenial untuk menciptakan praktik medis yang unggul dan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kualitas layanan medis. Integrasi ini juga diharapkan nilai tambah dalam aspek profesionalisme dan kompetensi dokter.
Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, masalah penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
1. 1. Latar Belakang Masalah
“…relieve the sick from their suffering and blunt their ailment’s vigour” (Hippocrates).
Kutipan yang disampaikan Hippokrates diatas, terjemahannya adalah mengurangi penderitaan orang sakit dan melemahkan kekuatan penyakit, dapat diartikulasikan tentang sebuah konsep kesehatan, yang menggambarkan semangat untuk melakukan tindakan untuk mengurangi penderitaan yang dirasakan oleh orang sakit, dan pada saat yang sama dilakukan usaha menekan kekuatan penyebab penyakit pada tubuh atau makna singkatnya adalah bagaimana usaha dokter dalam menjalankan profesi dokter harus berpikir dan bertindak secara holistik.
Seorang dokter adalah individu yang memiliki keahlian, pengetahuan, dan sertifikasi untuk melakukan praktik kedokteran dalam rangka membantu menjaga atau memulihkan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Dokter bertemu dan berkomunikasi secara mendalam dengan pasien untuk mendiagnosis, menentukan terapi, dan mengedukasi pasien dari berbagai penyakit dan cedera.
Sejarah tentang dunia kedokteran adalah sebuah perjalanan panjang yang melibatkan berbagai perubahan besar dalam paradigma, praktik, dan teknologi. Dari metode tradisional hingga teknologi canggih, perkembangan ini mencerminkan upaya manusia untuk memahami dan mengobati penyakit. Awalnya, praktik kedokteran didasarkan pada kepercayaan dan ramuan herbal, namun seiring berjalannya waktu, metode ilmiah dan teknologi medis modern mulai diterapkan. Inovasi-inovasi seperti penemuan mikroorganisme, pengembangan vaksin, dan teknik bedah mutakhir telah merevolusi cara dokter mendiagnosis dan mengobati pasien, menjadikan kedokteran sebagai salah satu bidang paling dinamis dan vital dalam sejarah peradaban manusia.
Peradaban tertua yang memiliki catatan medis adalah Mesir Kuno. Dalam sebuah tulisannya, Baker (2013) menyebutkan bahwa di masa Mesir Kuno, para dokter dikenal sebagai syaman, yang pada saat itu diyakini memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang penyakit dan penyembuhannya. Dimasa berikutnya muncul tokoh yang bernama Hippokrates, yang dikenal sebagai bapak kedokteran, berhasil mengembangkan teori bahwa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan empat cairan tubuh, yaitu darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam. Hippokrates dan pengikutnya juga mendirikan sekolah kedokteran di Kos (Kos adalah sebuah pulau di Yunani yang terletak di Laut Aegea, dekat dengan pantai barat Turki), di mana mulai dikenalkan pendekatan rasional terhadap penyakit dan pengobatan.
India kuno juga berperan dalam perkembangan dunia kedokteran, dengan praktik kedokteran Ayurveda berkembang sekitar 1500 SM. Ayurveda berfokus pada keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa, dan menggunakan berbagai herbal dan terapi alami untuk pengobatan.
Pada periode Abad Pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran di Eropa mengalami stagnasi dan kemunduran yang signifikan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pengaruh dominan institusi gereja dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk praktik medis. Biara-biara menjadi pusat utama perawatan kesehatan, menyediakan layanan perawatan bagi individu yang menderita sakit dan cedera (Baker, 2013). Meskipun demikian, pengetahuan medis pada era tersebut sangat terbatas dan seringkali didasarkan pada kepercayaan religius serta takhayul yang berlaku di masyarakat, bukan pada pemahaman ilmiah yang sistematis. Praktik pengobatan pada masa itu lebih banyak mengandalkan ritual keagamaan, tanpa adanya pemahaman mendalam tentang fisiologi manusia atau patologi penyakit.
Sementara Eropa memasuki abad kegelapan, dibelahan bumi lainnya, yaitu di dunia Islam, abad pertengahan adalah masa keemasan peradaban, termasuk dunia kedokteran. Ilmuwan seperti Al-Razi (Rhazes) dan Ibn Sina (Avicenna) membuat kontribusi besar dalam bidang kedokteran. Al-Razi menulis sebuah ensiklopedia medis yang menjadi rujukan utama pengobatan di Eropa selama berabad-abad dan Ibn Sina menulis The Canon of Medicine, yang menjadi standar pengajaran sekolah kedokteran di universitas-universitas Eropa hingga masa Renaisans.
Dunia kedokteran semakin berkembang dari masa ke masa, hingga pada abad ke-17, dengan ditemukannya mikroskop oleh Antonie van Leeuwenhoek membuka mata manusia terhadap dunia mikroorganisme, yang akhirnya sangat mempengaruhi pada pemahaman tentang penyakit infeksi. Abad ke-20 diwarnai dengan penemuan-penemuan penting yang mengubah praktik medis secara mendasar, seperti perkembangan ilmu genetika, bioteknologi, dan farmakologi membawa dunia kedokteran ke tingkat yang lebih tinggi, yang memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang penyakit dan pengobatan. Perkembangan berlanjut hingga abad ke-21, dimana teknologi digital mengubah cara dokter memberikan layanan kesehatan. Telemedisin adalah diagnosis dan perawatan pasien jarak jauh melalui teknologi komunikasi, dimana memungkinkan dokter untuk melakukan konsultasi jarak jauh, memberikan akses ke perawatan kesehatan bagi pasien di daerah yang jauh dan terpencil. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) juga mulai digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis, tindakan, dan perawatan kesehatan.
Peran dokter dalam sistem kesehatan telah berkembang menjadi lebih kompleks, tanggung jawab yang terus meningkat dan semakin besar tantangan peran di luar bidang medis menuntut dokter untuk tidak hanya memiliki keahlian klinis yang mendalam, tetapi juga keterampilan manajerial, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan komunikasi atau keahlian-keahlian lain yang mendukung aktifitas dokter. Fenomena ini menimbulkan berbagai tantangan dan kompleksitas masalah dalam aplikasinya sehari-hari.
1. 1. 1. Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD)
Menurut Pyrgakis (2010); O’Dowd (2022); Niazi (2023), profesi dokter dikarakterisasi sebagai suatu profesi yang memegang peranan sentral dalam struktur masyarakat. Salah satu fungsi dan tanggung jawab utamanya adalah melaksanakan serangkaian proses berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah kedokteran dengan tujuan memelihara kesehatan masyarakat. Pendekatan ini mencakup empat tahap utama, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dalam perjalanan karier seorang dokter, selain melayani pasien di rumah sakit, lembaga layanan kesehatan, atau institusi pendidikan baik pemerintah maupun swasta, dokter juga membuka praktik mandiri yang disebut sebagai Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD). Pelayanan kesehatan di TPMD sejatinya telah lama ada, dan merupakan hasil dari proses perkembangan berkelanjutan dalam sektor kesehatan yang menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat serta kemajuan teknologi kedokteran.
Pada zaman kuno, praktik medis dilakukan oleh tabib atau penyembuh yang biasanya memberikan pelayanan kesehatan di rumah pasien atau di tempat umum seperti pasar dan tempat ibadah. Dalam tulisannya, Baker (2013) menyebutkan bahwa di zaman Mesir kuno, dokter yang dikenal sebagai syaman memberikan layanan medis di rumah pasien atau di kuil yang juga berfungsi sebagai pusat kesehatan dan di masyarakat Yunani dan Romawi kuno, praktik medis juga dilakukan di rumah pasien oleh dokter zaman itu, termasuk Hippokrates.
Pada abad ke-18, dokter-dokter di Eropa mulai membuka praktik medis di rumah atau di lokasi khusus untuk memberikan perawatan kesehatan. Klinik pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Klinik Leopold di Wina Austria, yang didirikan oleh Dr. Leopold Auenbrugger pada tahun 1784. Klinik ini berfokus pada pendidikan dan pelatihan dokter muda serta sebagai tempat perawatan pasien (Baker. 2013).
Pada abad ke-19, konsep klinik mengalami perkembangan pesat disertai dengan banyak didirikan rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan, terutama di kota besar. Walaupun seperti itu, praktik dokter di rumah tetap menjadi komponen penting dalam rantai layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di daerah pedesaan dan komunitas kecil yang memiliki akses terbatas ke rumah sakit. Di Amerika Serikat, misalnya, dokter seperti Dr. Ephraim McDowell melakukan operasi besar di rumah pasiennya pada awal abad ke-19 (Starr. 1982).
Memasuki abad ke-20, kemajuan dunia kedokteran semakin pesat, dan semakin mempermudah dokter memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Pada tahun 1900-an, banyak dokter di Amerika Serikat dan Eropa membuka praktiknya di rumah, menyediakan layanan medis langsung di tempat tinggalnya atau klinik kecil yang dirikannya (Stevens. 1971). Salah satu contoh terkenal adalah Dr. Elizabeth Blackwell (wanita pertama yang memperoleh gelar medis di Amerika Serikat), yang pada tahun 1857 mendirikan klinik di New York City bersama saudara perempuannya untuk menyediakan perawatan medis khusus bagi wanita dan anak-anak (Blackwell. 1895).
1. 1. 2. Disrupsi sebagai Dokterpreneur
Pembukaan TPMD oleh dokter menunjukkan aktifitas entrepreneur. Hal ini mencerminkan bahwa pada dasarnya seorang dokter mempunyai kemampuan dalam mengelola bisnis medis secara mandiri, dengan melibatkan aspek-aspek seperti administrasi, manajemen, keuangan, pemasaran, dan pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dokter, pasien, dan klinik.
Istilah entrepreneur pertama kali muncul dalam kamus bahasa Prancis berjudul Dictionnaire Universel de Commerce yang disusun oleh Jacques des Bruslons dan diterbitkan pada tahun 1723 (Navale. 2013). Di Inggris, kata adventurer memiliki makna yang serupa dengan entrepreneur. Kata entrepreneur mulai digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1762, sedangkan istilah entrepreneurism (kewirausahaan) muncul pada tahun 1902, dan istilah entrepreneurship (kewirausahaan) juga pertama kali digunakan pada tahun yang sama (Carlen. 2016). Perkembangan terminologi ini mencerminkan evolusi konsep kewirausahaan dalam konteks sejarah dan budaya yang berbeda, menunjukkan bagaimana gagasan kewirausahaan telah diadopsi dan disesuaikan dengan berbagai bahasa dan masyarakat.
Pada abad ke-20, sekitar tahun 1930, entrepreneurship (kewirausahaan) diteliti oleh Joseph Schumpeter, yang sebelumnya telah diteliti oleh beberapa ekonom lainnya, seperti Carl Menger (1840–1921), Ludwig von Mises (1881–1973) dan Friedrich von Hayek (1899–1992). Menurut Schumpeter, seorang entrepreneur bersedia dan mampu mengubah ide atau penemuan baru menjadi inovasi yang sukses (Schumpeter. 1976). Makna entrepreneur, menggunakan apa yang Schumpeter sebut, yaitu sebagai angin kencang kreatif yang menghancurkan (the creative destruction theory of entrepreneurship) (Jones, & Murtola. 2012) yang artinya, kemunculan inovasi secara bersamaan menghancurkan industri lama dan mengantarkan industri baru dengan pendekatan baru. Schumpeter menambahkan bila perubahan ekonomi yang dibawa oleh pengusaha yang berinovasi adalah kondisi normal dan secara bersamaan menciptakan produk baru dan model bisnis baru. Schumpeter juga menunjukkan bahwa lingkungan yang senantiasa berubah, memberikan informasi baru tentang alokasi sumber daya yang optimal untuk meningkatkan profitabilitas dan kemampuan inovasi sangat diperlukan pada masa perubahan ini (Schumpeter. 1934).
Kegiatan entrepreneur senantiasa mengarah pada pertumbuhan ekonomi, yang menurut teori pertumbuhan endogen disebut sebagai residu, yang berarti, inovasi dan peningkatan efisiensi yang dihasilkan oleh aktivitas kewirausahaan dianggap sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi. Sebuah deskripsi alternatif oleh peneliti Israel Kirzner, yang lahir 1930, menunjukkan bahwa sebagian besar inovasi merupakan perbaikan yang bertahap, seperti penggantian kertas dengan plastik dalam industri sedotan minum. Bagi Schumpeter, entrepreneur menghasilkan industri baru dan kombinasi baru dari input yang ada saat itu. Schumpeter mencontohkan kombinasi mesin uap dengan teknologi gerobak yang menghasilkan kereta tanpa kuda. Dalam hal ini, inovasi baru (yaitu mobil) bersifat transformasional, hal itu tidak segera menggantikan kereta kuda, tetapi pada waktunya akan melakukan perbaikan bertahap yang mengarah ke industri otomotif modern.
Dokter memulai bertransformasi sebagai dokterpreneur dengan membuka praktik sendiri dimana harus mengelola berbagai aspek bisnis, termasuk administrasi, manajemen keuangan, pemasaran, dan pengelolaan pasien. Ini membutuhkan keterampilan kewirausahaan yang sering kali tidak diajarkan dalam pendidikan kedokteran tradisional.
Rokom (2013) menuliskan, dalam suatu kesempatan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, M.P.H, menjelaskan bahwa keprofesionalan dokter dalam bertugas diharapkan mempunyai 5 peran ini (The Five Stars Doctor), yaitu sebagai:
Penyedia pelayanan kesehatan (Care provider), yang bertanggung jawab bagi kebutuhan fisik, sosial, dan mental dari pasien. Memastikan bahwa pasien menerima layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara integratif dan sesuai standar terbaik yang dimiliki.
Pengambil keputusan (Decision-maker), yang mampu memberikan keputusan terbaik dengan efikasi pengobatan dan biaya yang dibutuhkan.
Komunikator yang baik (Communicator), yang mampu berkomunikasi dengan pasien, keluarga dan lingkungan sekitar, memberikan persuasi dan edukasi demi peningkatan kesehatan pasien.
Pemimpin masyarakat (Community Leader), yang berperan sebagai pemimpin tenaga kesehatan dan masyarakat serta memberikan masukan dan arahan terkait peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Pengelola manajemen (Manager), yang memiliki kapasitas manajemen yang memadai dalam menyediakan layanan kesehatan bermutu.
Penelitian yang dilakukan oleh Sergeant., & Hategan. (2023); Dickinson., Snelling., Ham., & Spurgeon. (2017); Nadareishvili., Bazas., Petrosillo., Berce., Firth., Mansilha., Leventer., Renieri., Zampolini., & Papalois. (2023); Sonsale & Bharamgoudar. (2017), menyoroti perlunya peningkatan kompetensi kualifikasi dan kompetensi dokter sebagai pelaku utama penyediaan pelayanan kesehatan. Dimana pada era globalisasi saat ini, peran dokter tidak hanya terbatas pada keterampilan medis, tetapi juga menuntut penguasaan ilmu pendukung seperti ilmu manajemen, ilmu kepemimpinan, dan ilmu komunikasi. Hal ini dianggap sebagai hal yang penting dan pokok dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, kesejahteraan tenaga kerja, serta mengembangkan model perawatan inovatif yang memberikan dampak positif pada produktivitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Dalam tulisannya, Gayathri dan Warrier (2022) menyatakan bahwa dalam perjalanan kariernya, seorang dokter tidak hanya dituntut untuk bekerja sesuai dengan keterampilan medisnya saja, tetapi juga menghadapi tugas-tugas selain keterampilan medis, seperti tugas mengatur sumber daya tenaga kesehatan dan merancang strategi optimal untuk fasilitas kesehatan atau pasien. Terlebih lagi, di era globalisasi ini, dokter menjadi prioritas utama yang terlibat dalam aktifitas struktural organisasi kesehatan (Garelick., & Fagin. 2005), dengan tujuan untuk menghindari kesalahan komunikasi antara dokter dan manajemen, ketika urusan dokter ditangani oleh pihak-pihak selain dokter (Spehar., Frich., & Kjekshus. 2012).
Müllner (2003) menyatakan bahwa disamping kompetensi klinis, kemampuan untuk terlibat dalam bidang-bidang struktural organisasi kesehatan merupakan kualitas penting yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Penelitian oleh Francis. (2003); Vincenzo., Angelozzi., & Morandi. (2021); Voirol., Pelland., Lajeunesse., Pelletier., Duplain., Dubois., Lachance., Lambert., Sader., & Audetat. (2021) menunjukkan bahwa keterlibatan dokter dalam jabatan struktural dapat secara efektif meningkatkan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, penelitian oleh Prenestini., Sartirana., & Leg. (2021); Antonacci., Whitney., Harris., & Reed. (2023) memberikan bukti bahwa pengelolaan manajemen yang buruk dalam layanan kesehatan dapat menjadi hambatan serius dalam implementasi intervensi perbaikan layanan kesehatan.
Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, praktik medis di rumah atau klinik mengalami transformasi besar. Indikasi kemunculan dokterpreneur lebih jelas ketika dokter mulai mengadopsi teknologi baru dan pendekatan bisnis modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan mereka. Contoh nyata dari ini adalah meningkatnya penggunaan telemedisin, sistem rekam medis elektronik, dan berbagai alat kesehatan digital yang memudahkan manajemen praktik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, telemedisin adalah diagnosis dan perawatan pasien jarak jauh melalui teknologi komunikasi. Telemedisin bukan hanya memperluas jangkauan dokter tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi pasien untuk mendapatkan perawatan medis tanpa harus meninggalkan rumah. Konsep telemedisin mulai diperkenalkan, yang memungkinkan dokter untuk memberikan konsultasi dan perawatan medis jarak jauh melalui internet (Bashshu., Shannon., Krupinski., & Grigsby. 2013). Hal ini sangat membantu dokter untuk memberikan layanan optimal kepada pasien, terutama di daerah yang sulit dijangkau atau selama keadaan darurat seperti saat pandemi COVID-19 (Monaghesh., & Hajizadeh. 2020).
1. 1. 3. Transformasi Dokter ke Dokterpreneur
Transformasi dokter konvensional menjadi dokterpreneur dapat ditelusuri kembali ke tahun 1980-an, ketika sistem pelayanan kesehatan mulai berubah secara global. Pada era ini, banyak negara mulai menerapkan reformasi dalam sistem kesehatannya untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan (Investopedia. 2022). Business Dictionary (2018), menyebutkan bahwa di Amerika Serikat, salah satu perubahan ini adalah dengan diperkenalkannya program Health Maintenance Organizations (HMO) yang mendorong efisiensi biaya dan peningkatan kualitas melalui kompetisi. HMO merupakan salah satu jenis asuransi kesehatan yang menyediakan perawatan kesehatan komprehensif bagi anggotanya melalui jaringan penyedia layanan kesehatan yang terpilih. Karakteristik utama HMO adalah jaringan penyedia terbatas, di mana pasien hanya dapat memperoleh perawatan dari penyedia yang terdaftar dalam jaringan HMO. Selain itu, setiap anggota HMO harus memilih seorang dokter primer yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh perawatan kesehatan, dan pasien harus memperoleh rujukan dari dokter primer untuk dapat mengakses spesialis atau perawatan lainnya.
Lebih lanjut, HMO menawarkan biaya yang relatif terjangkau bagi anggotanya, di mana pasien umumnya hanya membayar biaya co-payment yang terjangkau (rendah), yang harus dibayar oleh pasien setiap kali pasien melakukan kunjungan ke penyedia layanan kesehatan yang terdaftar dalam jaringan HMO. HMO juga memiliki fokus pada pencegahan, di mana organisasi ini mendorong anggotanya untuk melakukan pemeriksaan rutin dan tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan, dengan tujuan meminimalkan biaya perawatan jangka panjang. Ini umumnya tidak mencakup perawatan di luar wilayah kecuali dalam keadaan darurat. Pasien pemegang HMO mengharuskan untuk tinggal atau bekerja di area layanannya agar memenuhi syarat untuk pertanggungan.
Perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan sistem berkontribusi besar terhadap transformasi ini. Teknologi telemedisin, rekam medis elektronik, dan aplikasi kesehatan digital telah membuka peluang baru bagi dokter untuk mengembangkan praktik di luar batasan fisik tradisional. Dengan perkembangan teknologi ini, dokter dapat mengakses lebih banyak pasien, mengelola data kesehatan dengan lebih efisien, dan memberikan perawatan yang lebih terpersonalisasi. Kesadaran akan pentingnya manajemen dan inovasi dalam praktik medis mulai tumbuh pada akhir abad ke-20. Dokter mulai memahami bahwa untuk bertahan dalam lingkungan yang kompetitif, dokter perlu mengembangkan keterampilan entrepreneur, seperti manajemen bisnis, pemasaran, dan inovasi produk atau layanan (Audretsch., Bozeman., Combs., Feldman., Link., Siegel., Stephan., Tassey., & Wessner. 2002). Hal ini mendorong banyak dokter untuk mengambil kursus tambahan atau memperoleh gelar dalam manajemen kesehatan atau administrasi bisnis (Hyz., Lament., & Bukowski. 2021).
1. 1. 4. Faktor Pendorong Transformasi sebagai Dokterpreneur
1. 1. 4. 1. Tuntutan Peningkatan Layanan Kesehatan
Pasien masa kini memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap layanan kesehatan. Perkembangan zaman menuntut layanan kesehatan dengan akses cepat, layanan berkualitas tinggi, serta pengalaman pasien yang lebih baik. Untuk memenuhi tuntutan ini, para dokter perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inovatif dan efisien dalam praktik. Dengan mengintegrasikan konsep kewirausahaan, seperti creative destruction yang diperkenalkan oleh Joseph Schumpeter, diharapkan dokter akan dapat terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Pendekatan ini memungkinkan dokter untuk menggantikan metode lama dengan yang baru dan lebih efektif, sehingga memenuhi target peningkatan layanan kesehatan (Lindgren., & Packendorff. 2009).
1. 1. 4. 2. Persaingan dan Globalisasi
Persaingan yang semakin ketat di sektor kesehatan, baik di tingkat lokal maupun tingkat global, mendorong para dokter untuk merumuskan strategi kewirausahaan. Globalisasi memungkinkan pasien untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan dari seluruh dunia dengan lebih mudah, yang pada gilirannya meningkatkan kompetisi antar penyedia layanan kesehatan. Untuk tetap kompetitif, dokter harus mengadopsi pendekatan inovatif dan efisien dalam praktik (Neergaard., & Ulhøi. 2007).
1. 1. 4. 3. Regulasi dan Kebijakan
Perubahan dalam regulasi dan kebijakan kesehatan juga mendorong para dokter untuk menjadi lebih inovatif. Beberapa negara telah mengadopsi kebijakan yang mendukung inovasi dan kewirausahaan di sektor kesehatan, seperti insentif pajak untuk penelitian dan pengembangan, serta dukungan pemerintah untuk perusahaan rintisan di bidang kesehatan. Dengan demikian, para dokter terdorong untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan guna memenuhi target peningkatan kualitas layanan kesehatan (Shane., & Venkataraman. 2000).
1. 2. Masalah Penelitian
Untuk mendalami fenomena kebutuhan sinergitas antara kedokteran dan entrepreneur, pemahamannya, serta penerapannya, peneliti merumuskan dua masalah penelitian yang akan dijadikan sebagai bahan diskusi dengan informan, yaitu:
Bagaimana dokter mengatasi konflik internal yang muncul akibat transformasi sebagai dokterpreneur?
Dokter sering kali menghadapi dilema antara memberikan perawatan medis yang optimal dan menjalankan bisnis yang menguntungkan. Karena ada kekhawatiran bahwa fokus pada aspek kewirausahaan dapat mengaburkan komitmen dokter terhadap etika medis dan kesejahteraan pasien (kesembuhan dan kepuasan atas layanan kesehatan). Hal ini dapat menyebabkan stres dan kebingungan peran, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kompetensi dokter dan kualitas pelayanan kesehatan pada pasien.
Bagaimana dokter menghadapi sikap resisten terhadap perubahan yang muncul akibat transformasi menjadi dokterpreneur?
Dokter konvensional yang sering kali menunjukkan resistensi terhadap perubahan, terutama ketika perubahan tersebut melibatkan adopsi teknologi baru atau metode bisnis yang tidak konvensional. Resistensi ini dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk ketidakpastian tentang manfaat perubahan, ketidaknyamanan dengan teknologi baru, atau kekhawatiran tentang dampak perubahan terhadap praktik klinis mereka.
1. 3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian yang telah diajukan oleh peneliti, maka dalam penelitian ini, peneliti berupaya untuk:
Menganalisis pandangan dokter dalam mengatasi konflik internal yang muncul akibat transformasi sebagai dokterpreneur?
Menganalisis bagaimana dokter dalam menghadapi sikap resisten dokter terhadap perubahan yang muncul akibat transformasi menjadi dokterpreneur?
1. 4. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian diharapkan memiliki manfaat. Manfaat tersebut bisa bersifat teoritis maupun praktis. Untuk penelitian kualitatif, manfaat penelitian lebih bersifat teoritis, yaitu untuk pengembangan ilmu, namun tidak menolak manfaat praktisnya yaitu menyelesaikan masalah (Sugiyono. 2021).
1. 4. 1. Manfaat Teoritis
Merancang suatu teori baru, model materi pelatihan, kerangka berpikir, atau kurikulum yang dapat diterapkan oleh dokter atau lembaga berwenang yang bertujuan untuk menghasilkan praktisi medis dengan kualitas yang lebih unggul. Dalam konteks ini, model mengacu pada panduan yang menggambarkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Kerangka berpikir mengatur prinsip-prinsip dasar yang membentuk pendekatan dalam mengembangkan kompetensi medis. Sedangkan kurikulum merinci materi pembelajaran, metode pengajaran, dan evaluasi yang relevan untuk mencapai tujuan tersebut. Kualitas yang lebih baik mencakup aspek profesionalisme, etika, komunikasi, serta penguasaan ilmu kedokteran dan keterampilan klinis.
1. 4. 2. Manfaat Praktis
Beberapa temuan kunci menyoroti manfaat praktis dari melibatkan dokter dalam peran manajerial:
Kinerja organisasi pelayanan kesehatan yang lebih baik
Dokter adalah strata tertinggi dalam organisasi kesehatan, yang diharapkan mampu berlaku sebagai pemimpin terkait dengan pengelolaan sumber daya tenaga kesehatan yang lebih baik dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Menyeimbangkan tujuan manajemen dan medis
Para pemimpin medis harus menyeimbangkan tujuan organisasi dan medis, antara keuntungan dan kemanfaatan yang dibagikan kepada pasien. Ini memerlukan kredibilitas di antara rekan sejawat yang didukung berbagai keterampilan dan pengetahuan.
Peningkatan profesionalisme dokter
Partisipasi dalam peran manajerial yang mengarah pada peningkatan pengetahuan tentang pentingnya berkolaborasi dengan ilmu pendukung ilmu keterampilan medis, yang diharapkan mendukung usaha peningkatan pelayanan kesehatan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Paradigma Penelitian dan Metode Penelitian
Paradigma penelitian adalah paradigma Post Positivism dan menggunakan metode penelitian The True Quasi Qualitative.
Paradigma
Paradigma adalah kerangka kerja konseptual yang sangat penting untuk mempelajari fenomena tertentu dalam berbagai disiplin ilmu. Paradigma ini memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana penelitian harus dilakukan, data apa yang relevan untuk dikumpulkan, dan bagaimana hasil penelitian tersebut harus diinterpretasikan dengan tepat. Istilah paradigma kali pertama diperkenalkan dalam konteks ilmu pengetahuan oleh Thomas Kuhn pada tahun 1962 dalam bukunya yang terkenal, The Structure of Scientific Revolutions. Dalam karya tersebut, Kuhn mendefinisikan paradigma sebagai keseluruhan konsep, teori, metode, dan standar yang dianut oleh komunitas ilmiah tertentu pada suatu periode waktu tertentu. Paradigma berfungsi sebagai peta jalan bagi para ilmuwan, yang memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk memahami fenomena alam dan sosial, serta menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang sah dan dapat diterima dalam konteks ilmiah.
Menurut Kuhn, paradigma dapat berubah seiring waktu melalui apa yang disebutnya sebagai revolusi ilmiah. Ketika data atau temuan baru tidak lagi dapat dijelaskan oleh paradigma yang ada, peneliti mulai mempertanyakan paradigma tersebut. Proses ini sering kali memicu diskusi dan debat di kalangan ilmuwan, yang akhirnya dapat menyebabkan munculnya paradigma baru yang lebih sesuai dengan data dan pengetahuan yang ada. Proses ini dikenal sebagai pergeseran paradigma, dan merupakan bagian penting dari perkembangan ilmu pengetahuan. Pergeseran ini tidak hanya mengubah cara kita memahami fenomena, tetapi juga dapat mempengaruhi arah penelitian di masa depan.
Paradigma dalam penelitian tidak hanya memengaruhi cara peneliti mengumpulkan dan menganalisis data, tetapi juga cara mereka memandang dunia dan memahami realitas di sekitar. Karena itu, paradigma senantiasa dikaitkan dengan asumsi-asumsi filosofis yang mendasari penelitian, seperti ontologi (studi tentang apa yang ada), epistemologi (studi tentang pengetahuan), dan metodologi (studi tentang metode penelitian). Dengan memahami paradigma penelitian, diharapkan dapat menjadikan peneliti lebih baik dalam membangun pengetahuan dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas.
Berikut beberapa jenis paradigma dalam penelitian:
Paradigma Positivis
Paradigma positivis sering digunakan dalam ilmu-ilmu alam, seperti fisika, kimia, dan biologi, serta dalam ilmu sosial yang bersifat kuantitatif seperti psikologi eksperimental. Paradigma ini berfokus pada pengukuran dan observasi yang objektif.
Ontologi: Realisme, yang menyatakan bahwa realitas adalah objektif dan dapat diukur dengan metode ilmiah yang tepat. Dalam paradigma ini, peneliti percaya bahwa ada kebenaran yang dapat ditemukan melalui penelitian yang sistematis.
Epistemologi: Empirisme, yang menekankan pentingnya observasi dan eksperimen untuk memperoleh pengetahuan. Peneliti dalam paradigma ini berusaha untuk mengumpulkan data yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik.
Metodologi: Penelitian kuantitatif, dengan fokus pada pengukuran, eksperimen, dan statistik untuk menguji hipotesis. Metode ini sering kali melibatkan penggunaan instrumen yang terstandarisasi untuk mengumpulkan data.
Paradigma Post Positivis
Paradigma post positivis sering digunakan dalam penelitian ilmu sosial, terutama ketika peneliti ingin menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena yang diteliti.
Ontologi: Realisme kritis, yang mengakui bahwa realitas memang ada secara objektif, tetapi pengetahuan kita tentang realitas tersebut selalu tidak sempurna dan dipengaruhi oleh bias. Ini berarti bahwa peneliti harus menyadari keterbatasan dalam pemahaman mereka.
Epistemologi: Verifikasi dan falsifikasi sebagai cara untuk mendekati kebenaran, dengan pengakuan terhadap subjektivitas peneliti. Dalam paradigma ini, peneliti berusaha untuk menguji hipotesis dengan cara yang lebih terbuka dan fleksibel.
Metodologi: Kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dengan penekanan pada triangulasi untuk meningkatkan validitas temuan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang fenomena yang diteliti.
Paradigma Interpretatif
Paradigma interpretatif kerap digunakan dalam penelitian sosial dan humaniora, seperti antropologi, sosiologi, dan studi budaya, di mana pemahaman terhadap makna dan interpretasi individu dianggap penting.
Ontologi: Konstruktivisme, yang menyatakan bahwa realitas adalah hasil dari konstruksi sosial dan tidak ada realitas objektif yang independen dari interpretasi manusia. Dalam paradigma ini, peneliti berfokus pada bagaimana individu membangun makna dari pengalaman mereka.
Epistemologi: Subjektivisme, yang mengakui bahwa pengetahuan dihasilkan dari pengalaman dan interpretasi individu. Peneliti dalam paradigma ini berusaha untuk memahami perspektif partisipan dan bagaimana mereka melihat dunia.
Metodologi: Penelitian kualitatif, dengan fokus pada pemahaman fenomena sosial dari perspektif partisipan melalui metode seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis teks. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna yang lebih dalam dari pengalaman individu.
Paradigma Kritis
Paradigma kritis kerap digunakan dalam penelitian yang berfokus pada isu-isu sosial, politik, dan ekonomi, seperti studi gender, kajian postkolonial, dan teori kritis.
Ontologi: Realisme historis, yang melihat realitas sebagai konstruksi sosial yang terbentuk oleh kekuasaan, ideologi, dan sejarah. Dalam paradigma ini, peneliti berusaha untuk memahami bagaimana struktur sosial mempengaruhi individu dan kelompok.
Epistemologi: Perspektif kritis yang menekankan pada emansipasi dan perubahan sosial sebagai tujuan utama dari penelitian. Peneliti dalam paradigma ini berusaha untuk mengidentifikasi ketidakadilan dan memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan.
Metodologi: Pendekatan kualitatif yang sering kali melibatkan partisipasi aktif dari subjek penelitian untuk mengidentifikasi dan menantang struktur-struktur dominasi dalam masyarakat. Metode ini memungkinkan peneliti untuk bekerja sama dengan partisipan dalam proses penelitian.
Paradigma Pragmatis
Paradigma pragmatis kerap digunakan dalam penelitian terapan dan interdisipliner, dimana tujuan utama adalah untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah praktis.
Ontologi: Perspektif pluralistik, yang mengakui bahwa realitas dapat dipahami melalui berbagai cara dan tidak terikat pada satu perspektif tertentu. Dalam paradigma ini, peneliti terbuka terhadap berbagai pendekatan dan metode.
Epistemologi: Pendekatan yang bersifat praktis dan berorientasi pada solusi, di mana pengetahuan dianggap sah jika berguna dan dapat diterapkan untuk memecahkan masalah. Peneliti dalam paradigma ini berfokus pada hasil yang dapat diimplementasikan.
Metodologi: Kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan konteks spesifik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memilih metode yang paling sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian mereka.
Dengan memahami berbagai jenis paradigma penelitian ini, kita dapat lebih baik menghargai keragaman pendekatan yang ada dalam dunia penelitian. Setiap paradigma memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan pemilihan paradigma yang tepat sangat penting untuk mencapai tujuan penelitian yang diinginkan.
2. 1. 1. Paradigma Post Positivis
Creswell., & Poth (2018) menyatakan post positivisme berkembang dari positivisme, namun mengakui ketidakpastian dalam semua pengamatan. Paradigma ini berpendapat pengetahuan ilmiah tidak sepenuhnya objektif karena bias dan keterbatasan pengamatan manusia.
Post positivisme adalah paradigma yang mengakui keterbatasan metode kuantitatif dalam memahami realitas. Penganutnya berpendapat bahwa meski pengetahuan dapat diperoleh melalui observasi dan eksperimen, semua temuan bersifat sementara dan dapat direvisi. Paradigma ini menekankan triangulasi (penggunaan beragam sumber data dan metode) untuk mendapatkan gambaran realitas yang lebih utuh.
Dalam post positivisme, realitas dianggap terukur dan objektif, namun selalu dipengaruhi nilai dan sudut pandang subjektif peneliti. Ini berarti penelitian tidak pernah sepenuhnya bebas nilai, dan interpretasi hasil selalu mengandung unsur subjektivitas. Karenanya, penelitian post positivis berupaya mengurangi bias melalui teknik validasi seperti triangulasi dan pengecekan anggota.
Menurut Rahardjo (2023), post positivisme mendorong triangulasi dan validasi data untuk meningkatkan objektivitas, namun tetap mengakui sifat tentatif pengetahuan yang dapat direvisi berdasarkan bukti baru. Ia juga menyatakan realitas bersifat jamak dan heterogen, sehingga sulit digeneralisasi. Namun, post positivisme masih sejalan dengan positivisme dalam beberapa aspek, seperti pendekatan saintifik, reduksionisme, logika, penekanan pada data empiris, hubungan kausal antar-variabel, determinisme, dan landasan teori. Aliran ini dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Karl R. Popper, Thomas Kuhn, dan Richard Rorty.
2. 1. 2. Metode Kuasi Kualitatif
Menurut Creswell (2014), pendekatan deskriptif kualitatif memiliki fokus utama untuk memberikan deskripsi yang mendalam tentang suatu fenomena tanpa bermaksud mengembangkan teori atau menjelaskan hubungan sebab akibat. Pendekatan ini sangat cocok untuk penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan "apa" dan "bagaimana" sesuatu terjadi dalam konteks tertentu. Hal ini seringkali dilakukan melalui pengumpulan data kualitatif yang dapat berupa wawancara, observasi, atau analisis dokumen. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul, tanpa memaksakan interpretasi yang bersifat teoritis atau kausal. Dengan demikian, peneliti dapat memahami fenomena yang diteliti secara lebih komprehensif.
Rahardjo (2023), menerangkan bahwa arti kuasi dalam KBBI (2001) adalah hampir seperti atau seolah-olah. Secara semantik, kuasi kualitatif dapat diartikan sebagai sesuatu yang mirip dengan kualitatif atau seolah-olah kualitatif. Namun, pada kenyataannya, pendekatan ini tidak sepenuhnya kualitatif. Oleh karena itu, desain kuasi kualitatif dapat diartikan sebagai desain atau metode penelitian yang seolah-olah kualitatif atau mirip dengan kualitatif. Sebagaimana diketahui, setiap metode penelitian berangkat dari suatu asumsi dasar filosofis atau paradigma tertentu yang menjadi panduan dalam menangkap dan memahami realitas yang ada di sekitar kita.
Desain kuasi kualitatif berangkat dari paradigma post positivisme. Paradigma ini juga sering disebut sebagai paradigma tengah antara positivisme dan interpretif. Post positivisme berasumsi bahwa seorang peneliti tidak mungkin memperoleh kebenaran absolut sebagaimana pandangan paradigma positivisme. Alasannya adalah dalam proses penelitian, terutama saat mengumpulkan dan menganalisis data, selalu ada kelemahan atau kekurangan yang mungkin terjadi. Misalnya, data yang diperoleh bisa jadi tidak valid atau kredibel, data yang dikumpulkan mungkin kurang lengkap, analisis yang dilakukan bisa jadi tidak tepat, dan berbagai masalah lainnya yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Bungin (2022) menyatakan bahwa istilah deskriptif kualitatif adalah istilah yang murni darinya untuk menggantikan istilah kuasi kualitatif. Namun, dia kemudian meninggalkan istilah deskriptif kualitatif dan kembali menggunakan istilah kuasi kualitatif. Bungin menyebutkan bahwa kuasi kualitatif itu belum sepenuhnya kualitatif dan kuasi kualitatif yang sesungguhnya adalah kualitatifnya metode kuantitatif. Atau dengan kata lain, kuasi kualitatif ialah metode kuantitatif yang telah dikualitatifkan, sehingga belum sepenuhnya kualitatif. Oleh karena itu, istilah kuasi digunakan untuk menggambarkan kondisi ini.
Menurut Bungin (2022), satu-satunya metode kualitatif murni dalam penelitian sosial adalah metode Grounded Research. Dalam metode ini, penelitian tidak berangkat dari teori yang sudah ada, melainkan peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data. Ada doktrin yang kuat dalam Grounded Theory bahwa all is data. Peneliti yang menggunakan pendekatan Grounded mengesampingkan teori yang ada. Justru, teori dibangun berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan. Kalaupun ada teori yang digunakan, itu dimaksudkan untuk mengonfirmasi temuan yang didapat, bukan untuk menjadi sandaran dalam memahami realitas, apalagi untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan.
Melalui penelitian Grounded, seorang peneliti kualitatif akan menemukan teori baru (discovering a new theory), bukan sekadar mengkonstruksi teori (constructing a theory). Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh antropolog Clifford Geertz tentang The Religion of Java pada tahun 1960 menghasilkan temuan bahwa masyarakat Jawa terbagi atas tiga kelompok, yaitu santri, abangan, dan priyayi. Penelitian ini adalah contoh penelitian kualitatif yang benar-benar kualitatif, bukan kuasi kualitatif. Dalam mengawali penelitiannya, Clifford Geertz tidak menggunakan teori yang sudah ada. Namun, di akhir penelitian, dia menemukan teori yang dianggap berkontribusi besar dalam studi antropologi modern. Meskipun banyak pertentangan yang muncul, nyatanya hingga kini teori tersebut masih digunakan oleh para akademisi di bidang antropologi. Bagi mereka yang masih bingung dengan metode Grounded, studi yang dilakukan oleh Clifford Geertz bisa menjadi contoh yang jelas dan mudah dipahami.
Disertasi ini menggunakan pendekatan kuasi kualitatif. Dalam format laporannya, peneliti akan menggunakan teori sejak awal penelitian. Teori digunakan untuk memahami realitas yang sedang diteliti. Dengan menggunakan teori, seorang peneliti seperti dipandu oleh suatu pandangan konseptual terhadap realitas yang diteliti. Peneliti bukanlah makhluk bebas yang dapat memahami realitas sebagaimana adanya. Dengan berbekal teori, seorang post positivis masih terikat pada pandangannya dalam memaknai realitas yang ada. Di akhir penelitian, peneliti membuat kesimpulan bahwa temuannya merevisi atau mengembangkan teori yang telah ada dan digunakan dalam penelitiannya. Bisa saja melalui penelitian yang serius, peneliti kuasi kualitatif menolak teori yang telah ada. Oleh karena itu, dalam post positivisme, peran teori sangat penting dan harus ada dalam setiap penelitian yang dilakukan.
Dengan demikian, pendekatan kuasi kualitatif ini memberikan ruang bagi peneliti untuk mengeksplorasi fenomena yang ada dengan cara yang lebih fleksibel, meskipun tetap dalam kerangka yang terstruktur. Peneliti dapat menggali lebih dalam tentang konteks dan makna dari data yang diperoleh, sehingga hasil penelitian dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang fenomena yang diteliti. Pendekatan ini juga memungkinkan peneliti untuk beradaptasi dengan situasi yang dinamis di lapangan, sehingga dapat menghasilkan temuan yang lebih relevan dan aplikatif.
Secara teknis, dalam format penelitian kuasi kualitatif, peneliti akan menempatkan teori pada bab kajian pustaka setelah melakukan kajian terhadap studi-studi terdahulu. Kajian terdahulu ini sangat penting bagi peneliti untuk menemukan ruang kosong atau state of the arts dalam penelitian yang sedang dilakukan. Melalui kajian ini, peneliti dapat mengetahui siapa saja yang telah melakukan penelitian di bidang yang sama, apa masalah yang mereka teliti, metode apa yang digunakan, serta hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Jika penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan (field research), calon peneliti juga harus memahami dengan jelas di mana penelitian tersebut dilakukan, yang dikenal sebagai lokus penelitian. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang konteks penelitian sangat penting untuk menghasilkan temuan yang valid dan bermanfaat.
2. 2. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu memiliki peran yang signifikan dalam penulisan disertasi dan menjadi elemen yang sangat penting dalam penyusunan disertasi. Kajian ini tidak hanya membantu peneliti dalam merumuskan masalah penelitian yang akan diteliti, tetapi juga menyediakan kerangka teoretis dan metodologis yang akan digunakan dalam penelitian tersebut. Dengan memahami penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, peneliti dapat menghindari pengulangan dan menemukan aspek baru yang perlu dieksplorasi.
Dalam bagian ini, kita akan mengeksplorasi beberapa alasan utama mengapa penelitian terdahulu sangat penting dalam laporan disertasi. Ini termasuk bagaimana mereka membantu mengidentifikasi celah penelitian yang ada, menyediakan landasan teoretis yang kuat, membantu dalam pemilihan metodologi yang tepat, dan memungkinkan konfirmasi atau kontradiksi temuan yang ada, sehingga memperkaya hasil penelitian.
2. 2. 1. Identifikasi Celah Penelitian
Salah satu alasan utama mengapa penelitian terdahulu sangat penting adalah karena mereka membantu peneliti mengidentifikasi celah dalam pengetahuan yang ada. Setiap penelitian ilmiah berupaya untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah yang belum terselesaikan. Dengan meninjau literatur yang ada, peneliti dapat menemukan area di mana pengetahuan masih terbatas atau belum terjamah. Celah ini menjadi dasar untuk merumuskan pertanyaan penelitian yang signifikan dan relevan. Sebagaimana dikemukakan oleh Ridley (2012), tinjauan literatur yang komprehensif memungkinkan peneliti untuk memahami konteks penelitian mereka dan menentukan kontribusi unik yang dapat mereka berikan dalam bidang ilmu tersebut. Selain itu, identifikasi celah penelitian juga membantu peneliti untuk tidak mengulangi penelitian yang sudah ada. Dengan mengetahui apa yang telah diteliti sebelumnya, peneliti dapat menghindari duplikasi dan memastikan bahwa disertasi menawarkan wawasan baru atau sudut pandang yang berbeda. Ini juga membantu dalam memperkuat argumen mengapa penelitian tersebut layak dilakukan dan relevan dengan isu-isu yang sedang berkembang dalam disiplin ilmu tertentu.
Lebih jauh lagi, pemahaman yang mendalam tentang penelitian sebelumnya memungkinkan peneliti untuk membangun fondasi yang kuat bagi studi peneliti. Dengan cara ini, diharapkan dapat mengembangkan metodologi yang lebih baik dan lebih tepat, serta memilih pendekatan yang paling sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi komunitas akademik dan masyarakat luas. Dengan demikian, penelitian terdahulu tidak hanya berfungsi sebagai referensi, tetapi juga sebagai pendorong inovasi dan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. 2. 2. Landasan Teori
Penelitian terdahulu berperan sebagai fondasi teoretis yang krusial dalam penyusunan disertasi. Setiap kajian ilmiah membutuhkan kerangka teoretis yang kokoh untuk memandu pengumpulan data dan analisis. Kerangka ini umumnya dibangun berdasarkan teori, model, atau konsep yang telah teruji dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Hart (1998), tanpa landasan teoretis yang kuat, suatu penelitian cenderung kehilangan arah dan sulit memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks disertasi, tinjauan komprehensif terhadap penelitian terdahulu memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi dan memilih teori yang paling relevan dengan permasalahan penelitian yang sedang diteliti. Lebih lanjut, peneliti dapat menguji, memperluas, atau bahkan memodifikasi teori-teori tersebut dalam konteks yang baru. Dengan demikian, penelitian terdahulu tidak hanya menyediakan dasar teoretis yang solid, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan teori baru dan inovasi metodologis.
Kerangka teoretis yang kuat juga berfungsi sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis atau pertanyaan penelitian yang spesifik. Kerangka ini membantu peneliti dalam merancang metodologi yang tepat dan dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Sebagai contoh, jika suatu teori telah banyak digunakan dalam penelitian sebelumnya namun belum diuji dalam konteks tertentu, peneliti dapat menguji teori tersebut dalam konteks yang baru. Hal ini tidak hanya memperkuat validitas teori tersebut, tetapi juga memperkaya pemahaman kita tentang penerapan teori dalam berbagai situasi.
2. 2. 3. Pemilihan Metodologi
Penelitian terdahulu berperan krusial dalam membantu peneliti memilih metodologi yang paling tepat untuk kajian mereka. Setiap permasalahan penelitian memerlukan pendekatan metodologis yang spesifik, dan seringkali, penelitian sebelumnya memberikan petunjuk berharga mengenai metode yang paling efektif. Creswell (2014) menekankan bahwa dengan meninjau metodologi yang telah diterapkan dalam penelitian sebelumnya, peneliti dapat mengidentifikasi pendekatan yang paling sesuai dengan tujuan dan pertanyaan penelitian mereka.
Misalnya, jika penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode kualitatif sangat efektif dalam mengeksplorasi fenomena tertentu, peneliti dapat memilih untuk menggunakan pendekatan yang serupa dalam disertasinya. Sebaliknya, jika terdapat keterbatasan dalam metodologi yang digunakan dalam penelitian sebelumnya, peneliti dapat berupaya memperbaiki atau mengembangkan pendekatan yang lebih baik. Dengan demikian, penelitian terdahulu tidak hanya membantu dalam pemilihan metodologi yang tepat, tetapi juga mendorong inovasi dalam desain penelitian.
Lebih lanjut, pemahaman mendalam mengenai metodologi yang digunakan dalam penelitian sebelumnya membantu peneliti dalam merancang instrumen penelitian, mengumpulkan data, dan menganalisis hasil. Peneliti dapat belajar dari kekuatan dan kelemahan metodologi yang telah digunakan dalam penelitian sebelumnya dan menerapkan pelajaran tersebut dalam kajian mereka sendiri. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas penelitian, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri peneliti dalam melaksanakan studi mereka.
2. 2. 4. Mengonfirmasi Temuan
Penelitian terdahulu juga memiliki peran penting dalam mengonfirmasi temuan penelitian. Dalam disertasi, peneliti seringkali membandingkan hasil penelitian mereka dengan temuan yang sudah ada untuk melihat kesamaan atau perbedaan. Hal ini membantu dalam menempatkan temuan penelitian dalam konteks yang lebih luas dan memahami implikasi dari temuan tersebut. Machi dan McEvoy (2016) menyatakan bahwa dengan merujuk pada penelitian sebelumnya, peneliti dapat memperkuat argumen mereka atau menunjukkan bagaimana temuan mereka menantang atau memperluas pemahaman yang ada.
Sebagai contoh, jika hasil penelitian peneliti sejalan dengan temuan-temuan sebelumnya, hal ini dapat memperkuat validitas penelitian dan memberikan bukti tambahan mengenai kebenaran hipotesis yang diuji. Namun, jika temuan penelitian berbeda dari penelitian sebelumnya, hal ini dapat membuka diskusi baru mengenai faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil atau mengenai keterbatasan penelitian sebelumnya. Dengan demikian, penelitian terdahulu membantu peneliti dalam menempatkan hasil penelitian mereka dalam perspektif yang lebih luas dan berkontribusi pada diskursus akademik yang sedang berlangsung.
Selain itu, dengan mengonfirmasi temuan, peneliti juga dapat menunjukkan relevansi dan signifikansi penelitian mereka. Misalnya, jika temuan penelitian bertentangan dengan temuan sebelumnya, hal ini dapat menunjukkan adanya variabel lain yang perlu dipertimbangkan atau bahwa konteks penelitian memainkan peran yang lebih besar dari yang diperkirakan. Hal ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita mengenai fenomena yang diteliti, tetapi juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut.
Berikut paparan penelitian-penelitian terdahulu peneliti yang berisi judul penelitian, peneliti, metode penelitian, hasil penelitian, persamaan dan perbedaan dengan penelitian peneliti dalam disertasi ini.
The Physician on a Board of Directors: Bane or Benefit? (Dove Medical Press, 2022) .
Metode Penelitian: Analisis kualitatif menggunakan wawancara mendalam dengan dokter yang menjadi anggota dewan direksi rumah sakit untuk mengeksplorasi peran dan dampaknya pada manajemen rumah sakit.
Hasil Penelitian: Dokter yang duduk di dewan direksi memiliki pengaruh yang signifikan dalam pengambilan keputusan klinis dan non-klinis, namun mereka sering kali menghadapi konflik antara komitmen profesional dan tuntutan bisnis.
Persamaan: Penelitian peneliti soal Dokterpreneur menghadapi konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
Should clinicians accept management responsibilities? (Fellowship of Postgraduate Medicine, 1992).
Metode Penelitian: Studi konseptual yang mengevaluasi argumen tentang apakah dokter harus mengambil peran manajemen di rumah sakit atau klinik.
Hasil Penelitian: Perdebatan seputar peran dokter dalam manajemen mengungkapkan bahwa banyak dokter merasa tidak dilatih untuk peran manajerial dan bahwa tanggung jawab tersebut dapat mengalihkan fokus mereka dari perawatan pasien.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
The challenges of becoming and being a clinician manager: a qualitative exploration of the perception of medical doctors in senior leadership roles at a large Australian health service (BMC Health Services Research, 2021)
Metode Penelitian: Studi kualitatif berbasis wawancara dengan dokter yang memegang peran manajerial senior di layanan kesehatan besar di Australia.
Hasil Penelitian: Dokter yang mengambil peran manajerial sering mengalami tekanan dari ketidaksesuaian antara tanggung jawab klinis dan manajerial. Mereka juga merasakan kurangnya pelatihan manajemen sebagai hambatan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
Medicine and management: looking inside the box of changing hospital governance (BMC Health Services Research, 2016)
Metode Penelitian: Studi observasional yang menganalisis perubahan dalam tata kelola rumah sakit dan bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi hubungan antara dokter dan manajemen.
Hasil Penelitian: Ditemukan bahwa perubahan dalam tata kelola rumah sakit sering kali memicu konflik antara dokter dan manajer, terutama ketika tujuan bisnis bertentangan dengan praktik klinis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
Medical Leadership: Doctors at the Helm of Change (McGill Journal of Medicine, 2009)
Metode Penelitian: Artikel review yang membahas peran dokter dalam memimpin perubahan di sektor kesehatan.
Hasil Penelitian: Dokter memiliki peran penting dalam memimpin perubahan di sektor kesehatan, namun mereka sering kekurangan pelatihan dalam manajemen dan kepemimpinan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
Medicine, management, and modernisation: a “danse macabre”? (BMJ, 2003)
Metode Penelitian: Analisis teoretis tentang dampak modernisasi manajemen rumah sakit pada praktik medis.
Hasil Penelitian: Modernisasi manajemen di rumah sakit sering kali menyebabkan ketegangan antara dokter dan manajer, dengan dokter merasa bahwa tujuan manajemen dapat mengkompromikan kualitas perawatan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif dan studi kasus.
Managers attempt to hijack community medicine (British Medical Journal, 1985)
Metode Penelitian: Studi kasus yang mengamati upaya manajer untuk mengambil alih peran dokter dalam pengobatan komunitas.
Hasil Penelitian: Upaya ini memicu resistensi dari kalangan dokter yang merasa bahwa manajer tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang aspek klinis pengobatan komunitas.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan.
Teaching trainees about management and leadership (BMJ, 2011).
Metode Penelitian: Artikel review tentang pentingnya mengajarkan manajemen dan kepemimpinan kepada dokter dalam pelatihan.
Hasil Penelitian: Pendidikan manajemen dan kepemimpinan dianggap penting untuk mempersiapkan dokter dalam menghadapi tanggung jawab non-klinis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Management and medicine: Odd couple no more. Bonding through medical management research (Karolinska Institute, 2010)
Metode Penelitian: Artikel ulasan yang membahas pentingnya penelitian manajemen medis sebagai jembatan antara manajemen dan kedokteran.
Hasil Penelitian: Ditemukan bahwa penelitian manajemen medis dapat membantu menyatukan dokter dan manajer dalam mencapai tujuan bersama.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Trends in doctor-manager relationships (BMJ, 2003).
Metode Penelitian: Artikel review yang mengeksplorasi tren dalam hubungan antara dokter dan manajer.
Hasil Penelitian: Hubungan antara dokter dan manajer terus berkembang, dengan ketegangan yang sering muncul akibat perbedaan tujuan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Poor Working Relationship between Doctors and Hospital Managers - A Systematic Review (medRxiv, 2022).
Metode Penelitian: Tinjauan sistematis yang menganalisis hubungan kerja yang buruk antara dokter dan manajer rumah sakit.
Hasil Penelitian: Hubungan kerja yang buruk sering kali disebabkan oleh perbedaan dalam tujuan, komunikasi, dan kurangnya pemahaman tentang peran masing-masing.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Exploration of the mediating role of physicians’ managerial attitude in the relationship between their self-efficacy and workplace performance (Emerald Publishing, 2022)
Metode Penelitian: Studi kuantitatif yang meneliti hubungan antara sikap manajerial dokter, efikasi diri, dan kinerja di tempat kerja.
Hasil Penelitian: Sikap manajerial dokter memainkan peran mediasi yang signifikan dalam hubungan antara efikasi diri dan kinerja mereka, dengan dokter yang memiliki sikap manajerial yang positif cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Ethical challenges for medical professionals in middle manager positions: a debate article (BioMed Central, 2015).
Metode Penelitian: Artikel debat yang mengeksplorasi tantangan etis yang dihadapi oleh profesional medis dalam posisi manajerial menengah.
Hasil Penelitian: Profesional medis dalam posisi manajerial sering menghadapi dilema etis yang kompleks, terutama ketika harus menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kebutuhan pasien.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Doctors and Managers: Poor Relationships May Be Damaging Patients—What Can Be Done? (BMJ, 2003)
Metode Penelitian: Studi kualitatif yang menggunakan wawancara dan analisis dokumentasi untuk mengeksplorasi hubungan antara dokter dan manajer serta dampaknya pada kualitas perawatan pasien.
Hasil Penelitian: Hubungan yang buruk antara dokter dan manajer dapat merugikan pasien, terutama karena perbedaan tujuan dan pendekatan dalam manajemen dan praktik klinis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Doctors as Managers: Investors and Reluctants in a Dual Role (Health Services Management Centre, 2004)
Metode Penelitian: Studi kualitatif yang menganalisis pengalaman dokter yang memegang peran manajerial, menggunakan wawancara mendalam.
Hasil Penelitian: Dokter sering kali merasa terpecah antara peran mereka sebagai penyedia layanan medis dan sebagai manajer. Beberapa menganggap peran manajerial sebagai investasi yang bermanfaat, sementara yang lain merasa enggan atau tidak siap.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Developing the Doctor Manager: Reflecting on the Personal Costs (Middlesex University dan Oxford Health Care Management Institute, 1995).
Metode Penelitian: Studi reflektif yang mengkaji biaya pribadi dan tantangan yang dihadapi dokter yang mengambil peran manajerial.
Hasil Penelitian: Peran manajerial membawa biaya pribadi yang signifikan bagi dokter, termasuk stres dan konflik waktu antara tanggung jawab klinis dan manajerial.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
‘It’s an Interesting Conversation I’m Hearing’: The Doctor as Manager (SAGE Publications, 2003)
Metode Penelitian: Analisis kualitatif tentang bagaimana dokter melihat peran mereka sebagai manajer melalui wawancara dan observasi.
Hasil Penelitian: Dokter melihat peran manajerial sebagai peran yang menarik namun sering kali mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan tanggung jawab klinis dan manajerial.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
The Doctor–Manager Relationship (Cambridge University Press, 2005)
Metode Penelitian: Ulasan literatur tentang hubungan antara dokter dan manajer serta dampaknya pada sistem kesehatan.
Hasil Penelitian: Hubungan antara dokter dan manajer sering kali penuh dengan ketegangan dan konflik yang mempengaruhi efektivitas sistem kesehatan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Clinicians’ Experiences of Becoming a Clinical Manager: A Qualitative Study (BioMed Central Ltd., 2012).
Metode Penelitian: Studi kualitatif dengan wawancara mendalam untuk memahami pengalaman klinisi yang beralih ke peran manajerial.
Hasil Penelitian: Klinik menghadapi banyak tantangan dalam transisi ke peran manajerial, termasuk kurangnya pelatihan dan dukungan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Physician Entrepreneurs, Self-Referral, and Conflicts of Interest: An Overview (Kluwer Academic Publishers, 2003).
Metode Penelitian: Ulasan literatur tentang dokter sebagai pengusaha dan konflik kepentingan yang terkait.
Hasil Penelitian: Dokter yang terlibat dalam kewirausahaan sering kali menghadapi konflik kepentingan antara keuntungan finansial dan etika medis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Engaging Doctors in Management: The Need to Start Early (BMJ Publishing Group Limited, 2017).
Metode Penelitian: Ulasan dan analisis tentang pentingnya mempersiapkan dokter untuk peran manajerial sejak dini.
Hasil Penelitian: Memulai pelatihan manajerial lebih awal dapat membantu dokter lebih efektif dalam peran manajerial dan mengurangi resistensi.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Doctors and Managers Need to Speak a Common Language (BMJ, 2003).
Metode Penelitian: Studi kualitatif yang mengeksplorasi kebutuhan akan bahasa dan komunikasi yang sama antara dokter dan manajer.
Hasil Penelitian: Komunikasi yang efektif antara dokter dan manajer sangat penting untuk mengurangi konflik dan meningkatkan kinerja.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Management in Medicine or Medics in Management? The Changing Role of Doctors in German Hospitals (Bode & Maerker. 2014).
Metode Penelitian: Studi empiris tentang perubahan peran dokter dalam manajemen rumah sakit di Jerman.
Hasil Penelitian: Peran dokter dalam manajemen rumah sakit di Jerman telah berubah, dengan dokter semakin terlibat dalam keputusan manajerial.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
The Interplay Between Managerialism and Medical Professionalism in Hospital Organisations from the Doctors’ Perspective (Correia, 2013).
Metode Penelitian: Studi kualitatif yang menilai interaksi antara manajerialisme dan profesionalisme medis dari perspektif dokter.
Hasil Penelitian: Dokter sering mengalami ketegangan antara nilai-nilai manajerial dan profesionalisme medis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Managers’ Perceptions of the Manager Role in Relation to Physicians: A Qualitative Interview Study of the Top Managers in Swedish Healthcare (von Knorring et al., 2010).
Metode Penelitian: Studi kualitatif dengan wawancara manajer top di layanan kesehatan Swedia tentang persepsi mereka terhadap peran manajerial dokter. Hasil Penelitian: Manajer top sering memiliki pandangan berbeda tentang peran dokter dalam manajemen, yang dapat menyebabkan ketegangan dan konflik.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Role-meanings as a Critical Factor in Understanding Doctor Managers' Identity Work and Different Role Identities (Cascón-Pereira et al., 2016).
Metode Penelitian: Studi kualitatif yang mengeksplorasi bagaimana dokter manajer membentuk dan mempertahankan identitas mereka dalam peran ganda.
Hasil Penelitian: Identitas dokter manajer sering kali terpengaruh oleh bagaimana mereka memaknai peran mereka dan bagaimana mereka menavigasi perbedaan antara peran klinis dan manajerial.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
A Mixed Methods Assessment of the Management Role of Physicians (Rechtien et al., 2022).
Metode Penelitian: Pendekatan metode campuran untuk menilai peran manajerial dokter, termasuk survei kuantitatif dan wawancara kualitatif.
Hasil Penelitian: Dokter yang memegang peran manajerial menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterampilan manajerial dan integrasi peran.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
A Qualitative and Quantitative Study of Medical Leadership and Management: Experiences, Competencies, and Development Needs of Doctor Managers in the United Kingdom (Ireri et al., 2011).
Metode Penelitian: Studi campuran yang mengeksplorasi pengalaman, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dokter manajer di Inggris.
Hasil Penelitian: Dokter manajer memiliki kebutuhan pengembangan yang signifikan dalam hal keterampilan kepemimpinan dan manajemen.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Medical Leadership, a Systematic Narrative Review: Do Hospitals and Healthcare Organisations Perform Better When Led by Doctors? (Clay-Williams et al., 2017.
Metode Penelitian: Ulasan sistematis naratif tentang kinerja rumah sakit dan organisasi kesehatan yang dipimpin oleh dokter.
Hasil Penelitian: Kepemimpinan medis dapat mempengaruhi kinerja rumah sakit dan organisasi kesehatan, tetapi efektivitasnya bervariasi.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Doctors as Managers: Investors and Reluctants in a Dual Role (Forbes et al., 2004).
Metode Penelitian: Studi kualitatif tentang bagaimana dokter melihat peran mereka sebagai manajer dan tantangan yang mereka hadapi.
Hasil Penelitian: Dokter sering kali memiliki pandangan ambivalen tentang peran manajerial, dengan beberapa melihatnya sebagai investasi dan yang lain merasa enggan.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Management in Medicine or Medics in Management? The Changing Role of Doctors in German Hospitals (Bode & Maerker, 2014).
Metode Penelitian: Studi empiris tentang perubahan peran dokter dalam manajemen rumah sakit di Jerman.
Hasil Penelitian: Peran dokter dalam manajemen telah berubah secara signifikan, dengan lebih banyak keterlibatan dalam keputusan manajerial.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
The Interplay Between Managerialism and Medical Professionalism in Hospital Organisations from the Doctors’ Perspective (Correia, 2013).
Metode Penelitian: Studi kualitatif tentang interaksi antara manajerialisme dan profesionalisme medis dari perspektif dokter.
Hasil Penelitian: Dokter mengalami ketegangan antara nilai manajerial dan profesionalisme medis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
Physicians at Mid-Career are Exploring Entrepreneurial Possibilities to Adapt to the Changing Profession and Adapt to New Challenges (Johnson, 1992).
Metode Penelitian: Ulasan tentang bagaimana dokter di pertengahan karier mengeksplorasi peluang kewirausahaan untuk menghadapi perubahan dalam profesi.
Hasil Penelitian: Dokter di pertengahan karier sering mencari peluang kewirausahaan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam profesi medis.
Persamaan: Konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Perbedaan: Resistensi terhadap teknologi dan metode bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan, pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus.
2. 2. 5. Kesimpulan
Sebanyak 33 (tiga puluh tiga) penelitian terdahulu memiliki persamaan dengan penelitian peneliti yakni semua penelitian mencerminkan tantangan dalam mengelola peran ganda dokter dan pentingnya dukungan serta pelatihan untuk dokter dalam peran manajerial. Penelitian terdahulu juga menyadari tantangan terkait etika, resistensi terhadap perubahan, dan kebutuhan untuk dukungan tambahan.
Perbedaan bila dibandingkan dengan penelitian peneliti adalah peneliti lebih berfokus pada tantangan teknologi terbaru dan peran dokterpreneur dalam konteks era milenial, sementara beberapa artikel lain mungkin lebih fokus pada tantangan yang lebih umum atau dari perspektif waktu yang berbeda. Penelitian peneliti memberikan rekomendasi konkret untuk dukungan organisasi, sedangkan beberapa studi lain mungkin kurang spesifik dalam hal solusi atau rekomendasi.
2. 3. Literature Review
Literatur review adalah evaluasi kritis dari karya-karya yang telah diterbitkan oleh peneliti lain mengenai topik tertentu. Literatur review mencakup berbagai jenis sumber, seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan sumber lainnya yang relevan. Tujuannya adalah untuk menyajikan gambaran umum tentang apa yang sudah diketahui, mengidentifikasi teori utama, metode, dan temuan penelitian yang relevan, serta mengungkapkan tren dan celah dalam literatur yang ada.
2. 3. 1. Jenis Literatur Review
Literatur Review Tradisional atau Naratif
Jesson., Matheson., & Lacey (2011), menulis jenis ini adalah yang paling umum dan sering digunakan dalam penelitian sosial dan humaniora. Peneliti mengumpulkan dan merangkum informasi dari berbagai sumber tanpa menggunakan metodologi yang sistematis.
Literatur Review Sistematis
Menurut Booth., Sutton., & Papaioannou (2016), merupakan pendekatan yang lebih ketat dan terstruktur. Literatur review sistematis melibatkan proses yang transparan dan reproduktif dalam memilih dan menganalisis literatur, seringkali menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas.
Literatur Review Meta-Analisis
Pendekatan ini menurut Cooper (2010), lebih kuantitatif dan biasanya digunakan untuk mensintesis hasil dari beberapa studi empiris yang mengeksplorasi pertanyaan penelitian yang sama, memungkinkan peneliti untuk menggabungkan data dan menemukan pola atau tren umum.
2. 3. 2. Signifikansi Literatur Review
Literatur review memungkinkan peneliti untuk memahami teori-teori utama dan konsep-konsep yang mendasari topik yang di teliti. Ini membantu dalam mengembangkan kerangka teoritis yang kuat untuk penelitian (Creswell. 2014).
Dengan meninjau literatur yang ada, peneliti dapat mengidentifikasi celah atau area yang kurang diteliti, yang kemudian dapat dijadikan fokus penelitian baru (Randolph. 2009).
Machi., & McEvoy (2016), menyatakan bahwa literatur review membantu peneliti mengetahui apa yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga dapat menghindari duplikasi dan fokus pada kontribusi baru untuk bidang tersebut.
Fink (2019), menulis bahwa memahami metode dan hasil penelitian sebelumnya, peneliti dapat merancang penelitian yang lebih baik dan lebih relevan, meningkatkan kualitas dan validitas temuan.
Literatur review membantu dalam menempatkan penelitian baru dalam konteks yang lebih luas, yang memungkinkan peneliti untuk menunjukkan bagaimana penelitian menjadi relevan dan bagaimana itu berkontribusi pada bidang yang lebih luas (Galvan. 2014).
Menurut Creswell (2014), literatur review memiliki beberapa tujuan utama, yaitu menginformasikan kepada pembaca hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya (Cooper. 2010; Marshall., & Rossman. 2011).
Literatur review juga dapat menyediakan kerangka kerja dan tolok ukur untuk mempertegas pentingnya penelitian tersebut, seraya membandingkan hasil-hasilnya dengan penemuan-penemuan lain. Semua atau beberapa alasan ini bisa menjadi dasar bagi peneliti untuk menuliskan literatur-literatur yang relevan ke dalam penelitiannya (Boote., & Beile. 2005)
Pendekatan lain dalam menulis literatur review adalah dengan membuat ringkasan detail tentang topik penelitian dan referensi-referensi yang terkait dengan topik ini untuk nantinya dikembangkan kembali dalam bab khusus, biasanya dalam bab dua, yaitu Tinjauan Pustaka.
Singkatnya, bagaimanapun literatur review ini ditulis, yang jelas hal ini akan sangat bergarntung pada jenis penelitian yang hendak dilakukan, apakah kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran.
Pada umumnya, literatur review dapat berupa beberapa bentuk. Cooper (2010) membahas empat tipe, yaitu kajian pustaka yang (a) menggabungkan apa yang telah dikatakan dan dilakukan orang lain, (b) mengkritisi penelitian dari para peneliti sebelumnya, (c) membangun jembatan di antara topik-topik terkait, dan (d) mengidentifikasi isu-isu sentral dalam suatu bidang.
Dengan perkecualian mengkritisi penelitian-penelitian dari para peneliti sebelumnya, sebagian besar disertasi dan tesis berperan menggabungkan literatur, mengaturnya menjadi serangkaian topik yang saling berkaitan (seringkali dari topik yang sifatnya umum menjadi topik yang lebih khusus), dan merangkum literatur dengan menunjukkan isu-isu sentral.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan literatur secara konsisten berdasarkan asumsi-asumsi yang berasal dari para informan, tidak memberi ruang bagi pandangan pribadi peneliti. Penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian tersebut haruslah eksploratif. Hal ini berarti bahwa peneliti tidak boleh terlalu banyak menulis tentang topik atau populasi yang tengah diteliti. Sebaliknya, penulis harus berusaha mendengarkan opini partisipan dan membangun pemahaman berdasarkan pada apa yang ia dengar.
Namun demikian, penggunaan literatur dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beragam cara. Untuk penelitian yang berorientasi teoretis, seperti etnografi atau etnografi kritis, literatur-literatur tentang konsep kebudayaan atau teori kritis diperkenalkan terlebih dahulu dalam laporan atau proposal sebagai kerangka kerja orientasi.
Namun demikian untuk penelitian grounded theory, studi kasus, dan fenomenologi, literatur jarang sekali digunakan untuk membangun tahap-tahap penelitian secara keseluruhan.
Menurut Creswell (2014), untuk pendekatan kualitatif yang didasarkan pada opini partisipan, ada tiga model penempatan tinjauan pustaka. Model pertama, peneliti bisa saja memasukkan tinjauan pustaka dalam pendahuluan, artinya, dengan posisi ini, pustaka/literatur berfungsi untuk menjelaskan latar belakang "teoretis" atas masalah penelitian, seperti siapa saja yang telah menulis mengenai masalah ini, siapa saja yang telah menelitinya, dan siapa saja yang telah menunjukkan upaya-upaya penelitian ke arah itu. Penyajian latar belakang teoretis ini, tentu saja, sangat bergantung pada literatur-literatur atau penelitian-penelitian yang tersedia. Peneliti dapat mencari model seperti ini di berbagai penelitian kualitatif yang menerapkan jenis strategi penelitian yang berbeda-beda.
Model kedua adalah dengan menempatkan tinjauan pustaka di bagian terpisah. Model ini biasanya diterapkan dalam penelitian kuantitatif atau dalam jurnal-jurnal yang berorientasi kuantitatif. Meski demikian, dalam penelitian kualitatif yang berorientasi pada teori, seperti etnografi, teori kritis, dan advokasi atau emansipatoris, peneliti juga dapat menempatkan tinjauan pustaka di bagian terpisah.
Model ketiga, peneliti menyertakan bagian khusus, seperti "Bacaan/Literatur Terkait," di akhir penelitian. Penempatan ini dimaksudkan untuk membandingkan dan membedakan antara hasil atau kategori yang muncul dalam penelitian derngan hasil atau kategori yang terdapat dalam literatur.
Dalam disertasi ini, peneliti menggunakan literatur review sesuai yang apa yang ditulis Cooper (2010), (a) menggabungkan apa yang telah dikatakan dan dilakukan orang lain, (b) mengkritisi penelitian dari para peneliti sebelumnya, (c) membangun jembatan di antara topik-topik terkait, dan (d) mengidentifikasi isu-isu sentral dalam suatu bidang.
Sedangkan model penempatan tinjuan pustaka seperti disebutkan Creswell (2014) adalah sesuai model pertama yakni peneliti bisa saja memasukkan tinjauan pustaka dalam pendahuluan. Artinya, dengan posisi ini, pustaka/literatur berfungsi untuk menjelaskarn latar belakang "teoretis" atas masalah penelitiarn, seperti siapa saja yang telah menulis mengenai masalah ini, siapa saja yang telah menelitinya, dan siapa saja yang telah menunjukkan upaya-upaya penelitian ke arah itu.
Berikut literature review peneliti yang disesuaikan dengan topik atau judul disertasi.
2. 3. 3. Sejarah dan Definisi Entrepreneur
Seorang entrepreneur adalah individu yang menciptakan dan/atau berinvestasi dalam satu atau lebih bisnis, menanggung sebagian besar risiko dan menikmati sebagian besar imbalannya. Proses mendirikan bisnis dikenal sebagai kewirausahaan (entrepeneurship). Pengusaha umumnya dipandang sebagai inovator, sumber ide, penyedia barang, dan penyedia jasa.
Definisi lebih sempit yakni entrepreneurship sebagai proses merancang, meluncurkan, dan menjalankan bisnis baru, seringkali mirip dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau sebagai kemauan untuk mengembangkan, mengatur, dan mengelola usaha bisnis bersama dengan segala risikonya untuk menghasilkan keuntungan. Orang-orang yang menciptakan bisnis ini sering disebut sebagai pengusaha (entrepreneur).
Di bidang ekonomi, istilah entrepreneur digunakan untuk entitas yang memiliki kemampuan menerjemahkan penemuan atau teknologi menjadi produk dan layanan. Dalam pengertian ini, entrepreneurship menggambarkan kegiatan baik dari perusahaan mapan maupun bisnis baru.
2. 3. 3. 1. Abad ke-17
Entrepreneur (pengusaha) berasal dari bahasa Prancis. Kata ini pertama kali muncul dalam kamus Prancis berjudul Dictionnaire Universel de Commerce yang disusun oleh Jacques des Bruslons dan diterbitkan pada tahun 1723. Khusus di Inggris, istilah entrepreneur atau pengusaha disebut adventurer.
Studi entrepeneurship kilas balik pada karya ekonom Irlandia-Prancis Richard Cantillon pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, yang merupakan dasar bagi ekonomi klasik. Cantillon mendefinisikan istilah entrepreneur kali pertama dalam Essai sur la Nature du Commerce en Général atau Esai tentang Sifat Perdagangan Secara Umum, sebuah buku yang dianggap William Stanley Jevons sebagai tempat lahirnya politik ekonomi.
Menurut Cantillon, seorang entrepreneur adalah seseorang yang membayar harga tertentu untuk suatu produk dan kemudian menjualnya kembali dengan harga yang tidak pasti. Mereka membuat keputusan tentang memperoleh dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya, sambil mengakui risiko dalam menjalankan usahanya sendiri. Dengan kata lain, seorang entrepreneur adalah orang yang berani mengambil risiko finansial dalam bisnis dan mengelola sumber daya dengan inovasi untuk mencapai keuntungan.
Cantillon mengartikan pengusaha sebagai seseorang yang berani mengambil risiko dengan sengaja mengalokasikan sumber daya (seperti modal, tenaga kerja, dan waktu) untuk memanfaatkan peluang bisnis. Tujuan utama pengusaha adalah memperoleh omset atau profit maksimal. Cantillon juga membedakan antara fungsi pengusaha dan pemilik, di mana pemilik menyediakan uang untuk memulai bisnis, sedangkan pengusaha aktif terlibat dalam mengelola bisnis sehari-hari
2. 3. 3. 2. Abad ke-18
Jean-Baptiste Say, seorang ekonom Prancis pada abad ke-18, memberikan definisi yang luas tentang entrepreneurship. Menurut Say, seorang entrepreneur adalah agen ekonomi yang mengalokasikan sumber daya ekonomi dari area yang kurang produktif ke area yang lebih produktif dan menghasilkan hasil yang lebih besar. Dengan kata lain, pengusaha menciptakan sesuatu yang baru dan unik, serta mengubah atau mengalihkan nilai. Say dan Richard Cantillon, keduanya berasal dari sekolah pemikiran Prancis dan dikenal sebagai fisiokrat, memiliki pandangan yang serupa tentang peran pengusaha dalam menggerakkan pembangunan ekonomi (Crammond. 2020).
2. 3. 3. 2. 1. Josiah Wedgwood (Buy One Get Free One)
Pada abad 18, Josiah Wedgwood (1730–95) adalah seorang inovator produk yang selalu mencari inovasi dalam bahan yang digunakan dan bentuk desain tembikarnya. Ia aktif berkolaborasi dengan perusahaan lain, seniman, dan industri. Selain itu, Wedgwood juga mengenalkan sejumlah inovasi dalam pemasaran dan ritel, termasuk surat pemasaran langsung, jaminan uang kembali, penjual keliling, dan “beli satu gratis satu”. Dengan pendekatan ini, ia berhasil menciptakan permintaan konsumen yang revolusioner. Judith Flanders, seorang sejarawan, bahkan menyebut Wedgwood sebagai salah satu pengecer terbesar dan paling inovatif dalam sejarah (Flanders. 2009; Dodgson., & Gann. 2010) dan sejarawan lain, Tristram Hunt menyebut Wedgwood sebagai pengusaha yang sulit, brilian, dan kreatif. Wedgwood memiliki dorongan pribadi dan bakat luar biasa yang mengubah cara bekerja dan hidup (Hunt. 2021).
2. 3. 3. 3. Abad ke-19
Pada abad pertengahan di Jerman, pengrajin harus memperoleh izin khusus untuk beroperasi sebagai pengusaha. Izin ini dikenal sebagai Kleiner Befähigungsnachweis atau bukti kompetensi kecil. Namun, bagi perajin yang memegang sertifikat Meister, pelatihan magang tidak lagi diperlukan. Lembaga sertifikasi ini diperkenalkan pada tahun 1908 setelah periode yang disebut kebebasan perdagangan (Gewerbefreiheit), yang diperkenalkan pada tahun 1871 di Reich Jerman. Pada tahun 1935 dan 1953, bukti kompetensi yang lebih besar diperkenalkan kembali (Großer Befähigungsnachweis Kuhlenbeck), yang mengharuskan pengrajin untuk mendapatkan sertifikat pelatihan magang Meister sebelum diizinkan mendirikan bisnis baru
Di kekaisaran Ashanti, juga dikenal sebagai Asante, didirikan pada abad ke-17 oleh Raja Osei Tutu dan Okomfo Anokye, yang sekarang berada di selatan Ghana, pengusaha sukses adalah orang yang memiliki kekayaan, pengakuan sosial, dan pengaruh politik, yang disebut Abirempon, yang berarti orang-orang besar. Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas Masehi, sebutan Abirempon telah digunakan untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam perdagangan yang menguntungkan negara. Negara memberikan penghargaan kepada pengusaha yang mencapai prestasi ini dengan Mena (ekor gajah), yang merupakan lencana heraldik.
2. 3. 3. 4. Abad ke-20
Pada abad ke-20, kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi fokus perhatian. Joseph Schumpeter, seorang ekonom, mempelajari kewirausahaan pada tahun 1930-an. Selain itu, ekonom Austria lainnya seperti Carl Menger (1840–1921), Ludwig von Mises (1881–1973) dan Friedrich von Hayek (1899–1992) juga turut membahasnya. Schumpeter mengemukakan teori kewirausahaan yang mengaitkan inovasi dan perubahan teknologi dengan upaya para pengusaha. Menurut Schumpeter, seorang entrepreneur adalah orang yang bersedia dan mampu mengubah ide atau penemuan baru menjadi inovasi sukses. Ia menggambarkan kewirausahaan sebagai angin kencang kreatif yang menghancurkan (creative destruction). Artinya, inovasi akan merusak struktur ekonomi yang ada, tetapi membuka pintu bagi peluang baru atau inovasi yang lemah akan digantikan oleh inovasi baru yang lebih kuat di pasar dan industri. Ini mencakup produk baru dan model bisnis baru yang menciptakan perubahan dan pertumbuhan ekonomi. Istilah kewirausahaan pertama kali muncul pada tahun 1902 dan terus relevan hingga saat ini (Mehmood., Alzoubi., Alshurideh., Al Gasaymeh., & Ahmed. 2019).
Sudah menjadi perdebatan, bahwa entrepreneurship atau kreativitas yang menghancurkan ini bertanggung jawab atas dinamisme industri dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Israel Kirzner menawarkan deskripsi alternatif. Ia berpendapat bahwa sebagian besar inovasi sebenarnya adalah perbaikan yang bertahap. Contohnya, menggantikan kertas dengan plastik dalam pembuatan sedotan minum. Meskipun tampak sederhana, perubahan ini dapat memiliki dampak positif pada efisiensi dan lingkungan.
Bagi Schumpeter, kewirausahaan menghasilkan industri baru dan kombinasi baru dari input yang ada saat ini. Contoh awal yang diberikan oleh Schumpeter adalah kombinasi mesin uap dan teknologi pembuatan gerobak untuk menghasilkan kereta tanpa kuda. Transformasi ini tidak segera menggantikan kereta kuda, tetapi secara perlahan, melalui perbaikan bertahap, mengurangi biaya dan meningkatkan teknologi, yang akhirnya mengarah ke industri otomotif modern.
Dalam teori ekonomi mikro tradisional, pengusaha seringkali tidak secara eksplisit dimasukkan ke dalam kerangka teoritis. Pengusaha dianggap sebagai aktor tersirat, yang disebut sebagai agen x-efisiensi. Namun, menurut Schumpeter, pengusaha bukan hanya agen x-efisiensi, melainkan juga pemangku risiko. Keseimbangan ekonomi tidak selalu sempurna, dan lingkungan yang terus berubah memberikan informasi baru tentang alokasi sumber daya yang optimal untuk meningkatkan profitabilitas.
Awalnya, para ekonom melakukan upaya pertama untuk mempelajari konsep kewirausahaan secara mendalam. Alfred Marshall, misalnya, memandang pengusaha sebagai kapitalis multi-tasking dan mengamati bahwa dalam keseimbangan pasar yang benar-benar kompetitif, tidak ada tempat bagi pengusaha sebagai pencipta aktivitas ekonomi. Artinya dalam keseimbangan pasar yang benar-benar kompetitif, konsep pengusaha sebagai pencipta aktivitas ekonomi menjadi lebih kompleks. Dalam keadaan ini, pasar dianggap sangat efisien dan tidak ada ruang bagi perubahan signifikan atau inovasi yang mengganggu. Semua sumber daya dan faktor produksi telah ditempatkan dengan optimal, dan harga mencerminkan kondisi pasar yang sempurna.
2. 3. 3. 5. Abad ke-21
Pengusaha adalah pemimpin yang bersedia mengambil risiko dan melakukan inisiatif, mengambil keuntungan dari peluang pasar dengan merencanakan, mengatur, dan menyebarkan sumber daya, seringkali dengan berinovasi untuk menciptakan produk atau layanan baru atau meningkatkan yang sudah ada.
Pada tahun 2000-an, konsep kewirausahaan diperluas dari asal-usulnya dan masuk dalam bisnis nirlaba. Kewirausahaan sosial muncul, di mana tujuan bisnis tidak hanya mencari keuntungan finansial, tetapi juga tujuan sosial, lingkungan, atau kemanusiaan. Bahkan, konsep wirausaha politik juga menjadi bagian dari perdebatan.
Paul Reynolds, pendiri Global Entrepreneurship Monitor, mengemukakan bahwa ketika tenaga kerja di Amerika Serikat memasuki fase pensiun, sebanyak lima puluh persen dari total pekerja pria telah memiliki pengalaman berwirausaha selama minimal satu tahun.
Lebih lanjut, Reynolds menyatakan bahwa dua puluh lima persen dari populasi pekerja terlibat dalam aktivitas kewirausahaan selama periode enam tahun atau lebih. Fenomena ini mengindikasikan bahwa partisipasi dalam pendirian usaha baru merupakan fenomena yang lazim di kalangan tenaga kerja Amerika Serikat sepanjang perjalanan karir mereka. Dalam konteks yang lebih luas, selama beberapa tahun terakhir, kewirausahaan telah diposisikan sebagai faktor krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di negara-negara Eropa Barat.
Aktivitas kewirausahaan dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur organisasi dan tingkat inovasi yang terlibat. Spektrum kewirausahaan mencakup berbagai skala, mulai dari proyek individual yang dilaksanakan secara paruh waktu hingga usaha berskala besar yang melibatkan tim dan berpotensi menciptakan lapangan kerja yang signifikan.
Sejumlah besar kewirausahaan yang dikategorikan sebagai bernilai tinggi cenderung mencari pendanaan melalui modal ventura atau sumber-sumber pendanaan alternatif untuk mengakumulasi modal yang diperlukan dalam pengembangan dan ekspansi usaha. Terdapat beragam institusi yang berfungsi untuk memberikan dukungan kepada calon wirausahawan, termasuk di antaranya adalah lembaga pemerintah yang bersifat spesifik, inkubator bisnis (yang dapat berstatus sebagai entitas profit, non-profit, atau berafiliasi dengan institusi pendidikan tinggi), lembaga ilmu pengetahuan, serta organisasi non-pemerintah. Kategori terakhir ini mencakup berbagai jenis organisasi, termasuk lembaga non-profit, organisasi amal, yayasan, dan kelompok advokasi bisnis seperti Kamar Dagang.
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2002, melibatkan 58 profesor sejarah bisnis, menghasilkan peringkat tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah bisnis Amerika. Henry Ford menduduki posisi teratas, diikuti oleh Bill Gates, John D. Rockefeller, Andrew Carnegie, dan Thomas Edison. Urutan berikutnya ditempati oleh Sam Walton, J.P. Morgan, Alfred P. Sloan, Walt Disney, Ray Kroc, Thomas J. Watson, Alexander Graham Bell, Eli Whitney, James J. Hill, Jack Welch, Cyrus McCormick, David Packard, Bill Hewlett, Cornelius Vanderbilt, dan George Westinghouse (Blaine., & Folsom. 2003).
Dalam konteks yang berbeda, sebuah survei yang dilaksanakan pada tahun 1977 terhadap akademisi di bidang manajemen mengidentifikasi lima tokoh perintis utama dalam pengembangan konsep manajemen. Mereka adalah Frederick Winslow Taylor, Chester Barnard, Frank Bunker Gilbreth Sr., Elton Mayo, dan Lillian Moller Gilbreth (Heames., & Breland. 2010).
2. 3. 4. Jenis-Jenis Entrepreneurship
2. 3. 4. 1. Budaya
Menurut Christopher Rea dan Nicolai Volland, kewirausahaan budaya melibatkan praktik individu dan kolektif yang ditandai oleh mobilitas antara profesi budaya dan mode produksi budaya. Dalam bukunya The Business of Culture (2015), Christopher Rea dan Nicolai Volland mengidentifikasi tiga jenis wirausahawan budaya: (1) kepribadian budaya, yaitu individu yang membangun merek kreativitas pribadi sebagai otoritas budaya dan memanfaatkannya untuk menciptakan serta mempertahankan berbagai perusahaan budaya. (2) Taipan, yaitu pengusaha yang membangun pengaruh substansial di bidang budaya dengan menggabungkan kepentingan industri, budaya, politik, dan filantropi. (3) Perusahaan kolektif, yaitu organisasi yang terlibat dalam produksi budaya dengan tujuan mencari keuntungan atau nirlaba.
Pada 2000-an, muncul sebagai bidang studi dalam kewirausahaan budaya. Beberapa orang berpendapat bahwa pengusaha harus dianggap sebagai operator budaya yang terampil (Lounsbury., & Glynn. 2001) yang menggunakan cerita untuk membangun legitimasi, dan merebut peluang pasar dan modal baru (Hjorth., Steyaert. 2004; Gartner. 2007; Patriotta., & Siegel. 2019).
2. 3. 4. 2. Etnis
Plakat di London untuk memperingati pengusaha Yahudi Sir Jack Cohen yang pada tahun 1919 mendirikan Tesco, jaringan supermarket terbesar di Inggris.
Kewirausahaan etnis, sebuah fenomena yang merujuk pada aktivitas bisnis mandiri yang dijalankan oleh individu dari kelompok ras atau etnis minoritas di Eropa dan Amerika Utara, telah menjadi fokus penelitian akademis yang signifikan. Studi-studi ini secara komprehensif menganalisis pengalaman dan strategi yang diterapkan oleh wirausahawan etnis dalam upaya untuk mencapai integrasi ekonomi ke dalam arus utama masyarakat Amerika Serikat dan Eropa.
Penelitian-penelitian terdahulu telah mengidentifikasi beberapa kasus klasik, termasuk komunitas pedagang Yahudi di kedua wilayah tersebut, wirausahawan Asia Selatan di Inggris, serta kelompok etnis Korea, Jepang, dan Tiongkok di Amerika Serikat. Di Eropa, khususnya Prancis, fokus penelitian juga mencakup komunitas Turki dan Afrika Utara (Ibrahim., & Galt. 2011; Rashid. 1997).
Di Inggris, kontribusi wirausahawan etnis terhadap perkembangan industri tertentu sangat signifikan. Sebagai contoh, industri fish and chips, yang kini menjadi ikon kuliner Inggris, diinisiasi oleh pengusaha Yahudi. Joseph Malin mendirikan establishment fish and chips pertama di London pada dekade 1860-an. Selanjutnya, Samuel Isaacs memperkenalkan konsep fish and chips restaurant pada tahun 1896, yang kemudian berkembang menjadi jaringan 22 restoran (Jolles. 2011).
Dalam bidang industri olahraga, kontribusi wirausahawan etnis juga terlihat jelas. Pada tahun 1882, dua bersaudara Yahudi, Ralph dan Albert Slazenger, mendirikan perusahaan Slazenger, yang kini dikenal sebagai salah satu merek peralatan olahraga tertua di dunia. Perusahaan ini memegang rekor sebagai sponsor olahraga terlama, dengan menyediakan bola tenis untuk turnamen Wimbledon sejak tahun 1902 (Lowerson. 2004).
Pengakuan terhadap kontribusi wirausahawan etnis juga tercermin dalam berbagai bentuk penghargaan publik. Sebagai contoh, di London terdapat plakat yang didedikasikan untuk mengenang Sir Jack Cohen, seorang pengusaha Yahudi yang pada tahun 1919 mendirikan Tesco, yang kini telah berkembang menjadi jaringan supermarket terbesar di Inggris.
Pada dekade 2010-an, studi mengenai kewirausahaan etnis telah mengalami perkembangan signifikan, dengan fokus penelitian yang semakin beragam. Beberapa kasus yang menjadi objek penelitian mencakup pemilik usaha dari komunitas Kuba di Miami, pengusaha motel beretnis India di Amerika Serikat, serta pemilik bisnis keturunan Tiongkok di berbagai kawasan Chinatown di seluruh Amerika Serikat.
Meskipun kewirausahaan menawarkan peluang yang substansial bagi kelompok-kelompok etnis tersebut untuk mencapai kemajuan ekonomi, distribusi kepemilikan usaha dan aktivitas wiraswasta di Amerika Serikat masih menunjukkan ketimpangan yang signifikan berdasarkan latar belakang ras dan etnis. Terlepas dari berbagai narasi kesuksesan wirausahawan Asia yang sering diangkat, analisis statistik terkini terhadap data sensus Amerika Serikat mengungkapkan bahwa individu berkulit putih memiliki probabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu keturunan Asia, Afrika-Amerika, dan Latin untuk menjadi wirausahawan di sektor industri yang dipandang memiliki prestise tinggi dan berpotensi menghasilkan keuntungan besar (Chaudhary. 2015).
Fenomena ini menggambarkan kompleksitas dalam konteks kewirausahaan etnis, di mana peluang dan hambatan struktural saling berinteraksi, membentuk lanskap kewirausahaan yang tidak seragam di antara berbagai kelompok etnis. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketimpangan tersebut, serta pengembangan kebijakan yang dapat mendorong kesetaraan peluang dalam bidang kewirausahaan.
2. 3. 4. 3. Religius
Kewirausahaan religius merupakan suatu konsep yang menggabungkan aspek kewirausahaan dengan tujuan-tujuan keagamaan, serta mengeksplorasi bagaimana keyakinan religius mempengaruhi aktivitas kewirausahaan. Meskipun agama merupakan elemen fundamental dalam masyarakat, bidang ini relatif kurang mendapat perhatian dalam studi kewirausahaan (Smith., Conger., McMullen., & Neubert. 2019). Integrasi dimensi religius ke dalam penelitian kewirausahaan berpotensi untuk memperluas pemahaman kita tentang fenomena ini, termasuk menggeser fokus dari orientasi profit semata kepada tujuan-tujuan yang lebih beragam, serta mempengaruhi praktik, proses, dan sasaran kewirausahaan (Smith., Conger., McMullen., & Neubert. 2021).
Dalam upaya untuk mengkonseptualisasikan kewirausahaan religius secara lebih komprehensif, Gümüsay (2015) mengajukan model tiga pilar. Model ini terdiri dari tiga pilar, yaitu pilar kewirausahaan, pilar sosial-ekonomi/etika, dan pilar religio-spiritual.
Ketiga pilar ini berinteraksi dalam mengejar nilai-nilai ekonomi, nilai-nilai etis, dan aspek-aspek metafisik. Model ini menawarkan kerangka kerja yang lebih holistik untuk memahami kompleksitas kewirausahaan religius dan implikasinya terhadap praktik bisnis dan masyarakat secara luas.
Penelitian lebih lanjut dalam bidang ini diperlukan untuk mengungkap dinamika antara keyakinan religius dan aktivitas kewirausahaan, serta untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi ini dapat membentuk lanskap kewirausahaan di masa depan.
2. 3. 4. 4. Feminis
Kewirausahaan feminis merupakan sebuah paradigma yang mengintegrasikan nilai-nilai dan pendekatan feminis ke dalam aktivitas kewirausahaan, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan perempuan dan anak perempuan (Orser., Elliott., & Leck. 2015). Paradigma ini sering dimanifestasikan melalui penciptaan entitas bisnis yang didesain oleh perempuan, untuk perempuan, mencerminkan prinsip representasi dan pemberdayaan.
Motivasi wirausahawan feminis bersifat multidimensional, menggabungkan aspirasi untuk menciptakan kekayaan ekonomi dengan dorongan untuk mengkatalisasi perubahan sosial. Landasan operasional mereka dibangun di atas etika kerja sama, kesetaraan, dan saling menghormati (Orser., & Elliott. 2011). Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai keberhasilan finansial, tetapi juga berupaya untuk mengatasi ketimpangan gender yang telah lama ada dalam lingkungan bisnis dan masyarakat secara luas.
Implikasi dari kewirausahaan feminis dapat bersifat transformatif, Roos (2019) menyoroti potensi efek pemberdayaan dan emansipasi yang dapat dihasilkan dari inisiatif-inisiatif ini. Melalui penciptaan model bisnis yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi perempuan, serta melalui demonstrasi kepemimpinan perempuan dalam arena bisnis, kewirausahaan feminis berpotensi untuk mengubah norma-norma sosial dan ekonomi yang ada.
2. 3. 4. 5. Kelembagaan (kolektif)
Konsep kewirausahaan kolektif, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam aktivitas kewirausahaan, telah mendapatkan perhatian signifikan dalam literatur akademis. Edith Penrose, ekonom kelahiran Amerika yang berkarir di Inggris, memberikan kontribusi fundamental terhadap pemahaman ini. Dalam karyanya yang berpengaruh, Penrose (1959) menyoroti sifat kolektif kewirausahaan dalam konteks organisasi modern, menegaskan bahwa integrasi sumber daya manusia merupakan faktor krusial dalam mengidentifikasi dan menciptakan peluang bisnis secara optimal.
Perspektif ini kemudian diperluas oleh sosiolog Paul DiMaggio, yang mengembangkan konsep kewirausahaan institusional. DiMaggio (1988) berpendapat bahwa institusi-institusi baru muncul ketika aktor-aktor terorganisir dengan sumber daya yang memadai (pengusaha institusional) melihat di dalamnya peluang untuk merealisasikan kepentingan yang sangat mereka hargai. Konseptualisasi ini menekankan peran agen dalam pembentukan dan transformasi institusi, menggabungkan elemen kewirausahaan dengan teori institusional.
Gagasan kewirausahaan institusional telah memperoleh aplikasi luas dalam berbagai konteks penelitian. Levy dan Scully (2007) mengaplikasikan konsep ini dalam analisis perubahan institusional, sementara Khan., Munir., & Willmott (2007) menggunakannya untuk memahami dinamika kekuasaan dalam konteks organisasi. Greenwood., Raynard., Kodeih., Micelotta., & Lounsbury. (2017) lebih lanjut mengembangkan pemahaman tentang kompleksitas institusional dan peran kewirausahaan dalam navigasi lingkungan institusional yang beragam. Almeida., Dokko., & Rosenkopf. (2014) mengeksplorasi implikasi kewirausahaan institusional dalam konteks inovasi dan perubahan teknologi.
Sintesis perspektif-perspektif ini menunjukkan evolusi pemahaman kewirausahaan dari fokus individual ke penekanan pada aspek kolektif dan institusional. Hal ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor sosial, organisasional, dan institusional dalam studi kewirausahaan kontemporer.
2. 3. 4. 6. Milenial
Istilah pengusaha milenial (millennial entrepreneur) merujuk pada individu-individu yang terlibat dalam aktivitas kewirausahaan dan termasuk dalam generasi milenial, juga dikenal sebagai Generasi Y. Kohort ini umumnya didefinisikan sebagai mereka yang lahir antara tahun 1981 dan 1996 (Rauch. 2018), yang dinisbatkan sebagai keturunan dari generasi Baby Boomer dan awal Generasi X (Strauss., & Howe. 2000), generasi milenial memiliki karakteristik unik yang dibentuk oleh pengalaman tumbuh dalam era digitalisasi dan eksposur intensif terhadap media masa.
Wirausahawan milenial memiliki keunggulan kompetitif dalam hal penguasaan teknologi digital dan pemahaman mendalam tentang model bisnis kontemporer. Kompetensi ini memungkinkan mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan teknologi dalam konteks bisnis dengan efektif. Contoh paradigmatik dari fenomena ini adalah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, yang merepresentasikan potensi inovasi disruptif yang dapat dihasilkan oleh pengusaha milenial (Henry. 2015).
Namun, meskipun terdapat ekspektasi tinggi terhadap kesuksesan wirausahawan milenial, beberapa penelitian terkini menunjukkan realitas yang lebih kompleks. Analisis komparatif antara milenial yang berwirausaha dan yang tidak berwirausaha mengindikasikan bahwa tingkat kesuksesan kelompok kedua cenderung lebih tinggi. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perbedaan konteks generasional dan sikap yang berbeda secara signifikan dari generasi sebelumnya.
Beberapa faktor yang menjadi hambatan signifikan bagi wirausahawan milenial meliputi kondisi ekonomi makro, beban utang pendidikan, serta kompleksitas kepatuhan regulasi (Wilmouth. 2016). Faktor-faktor ini menciptakan lingkungan yang menantang bagi milenial yang ingin memulai dan mengembangkan usaha baru.
2. 3. 4. 7. Baru Lahir
Istilah pengusaha yang baru lahir (nascent entrepreneur) berdasar pada individu yang berada dalam proses inisiasi suatu usaha bisnis (Reynolds., & White. 1997). Dalam perspektif ini, pengusaha yang baru lahir dapat dipandang sebagai agen yang mengejar peluang, yang meliputi potensi untuk memperkenalkan produk atau layanan inovatif, mengeksplorasi pasar baru, atau mengembangkan metode produksi yang lebih efisien dengan orientasi profit (Casson. 1982; Shane., & Venkataraman. 2000). Namun, sebelum usaha tersebut terealisasi secara konkret, peluang tersebut masih bersifat konseptual atau ide bisnis (Davidsson. 2006).
Karakteristik krusial dari peluang yang dikejar oleh pengusaha yang baru lahir adalah sifatnya yang perseptual, didukung oleh keyakinan subjektif mengenai feasibilitas dan potensi keberhasilan dari inisiatif yang direncanakan (Dimov. 2007; Shepherd. 2007). Validitas dan nilai intrinsik dari peluang ini tidak dapat dikonfirmasi secara ex ante, melainkan terungkap secara gradual melalui serangkaian tindakan yang dilakukan pengusaha dalam proses pendirian usaha, sebagaimana dijelaskan dalam Effectuation Theory yang dikembangkan oleh Saras Sarasvathy (2001).
Trajektori pengusaha yang baru lahir dapat berujung pada dua kemungkinan utama, yaitu penghentian inisiatif bisnis jika dipandang tidak lagi menarik atau layak, atau terwujudnya entitas bisnis yang operasional. Dalam konteks ini, usaha yang baru lahir mengalami evolusi temporal yang dapat mengarah pada diskontinuitas atau keberhasilan sebagai entitas operasional.
Perbedaan antara pengusaha pemula, serial, dan portofolio adalah contoh kategorisasi berbasis perilaku (Ucbasaran. 2009) dan telah menjadi fokus penelitian yang signifikan. Studi Bozward., & Rogers-Draycott. (2017); Alsos., & Kolvereid. (1998), mengeksplorasi urutan peristiwa dalam proses pendirian usaha. Penelitian tentang kewirausahaan tahap awal cenderung menekankan serangkaian kegiatan yang terlibat dalam kemunculan usaha baru, bukan sekadar tindakan tunggal eksploitasi peluang (Delmar., & Shane. 2004; Gartner. 1985; Lichtenstein. 2007).
Pendekatan ini berpotensi untuk menguraikan tindakan kewirausahaan ke dalam sub-aktivitas fundamentalnya dan menjelaskan interaksi kompleks antar berbagai komponen. Hal ini mencakup hubungan timbal balik antara aktivitas-aktivitas tersebut, keterkaitan antara suatu kegiatan (atau rangkaian kegiatan) dengan motivasi individual dalam membentuk keyakinan peluang, serta hubungan antara aktivitas dan akumulasi pengetahuan yang diperlukan untuk membentuk keyakinan peluang. Melalui penelitian semacam ini, para akademisi dapat mulai membangun teori tentang landasan mikro dari tindakan kewirausahaan.
Para peneliti yang berfokus pada kewirausahaan tahap awal cenderung lebih menitikberatkan pada serangkaian tindakan dalam proses kemunculan usaha baru, dibandingkan dengan tindakan tunggal eksploitasi peluang (Delmar., & Shane. 2004; Kim. 2015; Lichtenstein. 2007). Pengusaha pada tahap awal terlibat dalam berbagai aktivitas kewirausahaan, termasuk tindakan-tindakan yang membuat konsep bisnis mereka lebih konkret, baik bagi diri sendiri maupun pihak lain. Contohnya mencakup pencarian dan akuisisi fasilitas serta peralatan, pencarian dukungan finansial, pembentukan entitas hukum, penyusunan tim, serta dedikasi waktu dan energi penuh untuk pengembangan usaha (Carter. 1996).
2. 3. 4. 8. Berbasis Proyek
Pengusaha proyek adalah individu yang secara berulang terlibat dalam pembentukan atau penciptaan organisasi temporer (Ferriani. 2009). Organisasi-organisasi ini memiliki masa hidup yang terbatas dan didedikasikan untuk mencapai tujuan atau sasaran spesifik, serta dibubarkan segera setelah proyek selesai. Industri yang didominasi oleh perusahaan berbasis proyek meliputi rekaman suara, produksi film, pengembangan perangkat lunak, produksi televisi, media baru, dan konstruksi (Faulkner,. & Anderson. 1987).
Karakteristik yang membedakan pengusaha proyek dari perspektif teoretis adalah kebutuhan mereka untuk secara berulang merakit kembali usaha temporer dan memodifikasinya sesuai dengan tuntutan peluang proyek baru yang muncul. Seorang pengusaha proyek mungkin perlu mengadaptasi pendekatan dan komposisi tim yang digunakan dalam satu proyek untuk menyesuaikan dengan kebutuhan proyek berikutnya.
Pengusaha proyek secara konsisten menghadapi permasalahan dan tugas yang khas dalam proses kewirausahaan (DeFillippi., & Spring. 2004). Pengusaha tersebut dihadapkan pada dua tantangan kritis yang selalu menjadi ciri penciptaan usaha baru: mengidentifikasi peluang yang tepat untuk meluncurkan usaha proyek dan menyusun tim yang paling sesuai untuk mengeksploitasi peluang tersebut. Mengatasi tantangan pertama mengharuskan pengusaha proyek untuk mengakses beragam informasi yang diperlukan guna menangkap peluang investasi baru. Sementara itu, menyelesaikan tantangan kedua membutuhkan pembentukan tim kolaboratif yang harus sesuai dengan tantangan spesifik proyek dan mampu berfungsi secara efektif dalam waktu singkat untuk meminimalisir risiko kinerja yang mungkin terdampak secara negatif.
Varian lain dari kewirausahaan proyek melibatkan kolaborasi antara pengusaha dengan mahasiswa bisnis untuk menyelesaikan pekerjaan analitis terkait ide-ide bisnis mereka. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa, tetapi juga memungkinkan pengusaha untuk mendapatkan perspektif baru dan analisis mendalam terhadap konsep bisnis mereka.
2. 3. 4. 9. Sosial
Pada tahun 2010, mahasiswa penyelenggara dari Green Club di Newcomb College Institute membentuk sebuah organisasi kewirausahaan sosial. Kewirausahaan sosial didefinisikan sebagai penggunaan perusahaan rintisan dan inisiatif kewirausahaan lainnya untuk mengembangkan, mendanai, dan menerapkan solusi inovatif terhadap permasalahan sosial, budaya, atau lingkungan (Guzman, 2005). Konsep ini memiliki aplikasi yang luas dan dapat diterapkan pada berbagai jenis organisasi dengan beragam skala, tujuan, dan landasan ideologis (Dees. 2001).
Berbeda dengan pengusaha konvensional yang umumnya mengukur kinerja menggunakan metrik bisnis seperti laba, pendapatan, dan apresiasi nilai saham, wirausahawan sosial, baik yang beroperasi sebagai organisasi nirlaba maupun yang mengintegrasikan tujuan nirlaba dengan aktivitas komersial, cenderung berfokus pada penciptaan pengembalian ke masyarakat yang positif. Konsekuensinya, mereka perlu mengembangkan dan menggunakan metrik evaluasi yang berbeda dan lebih komprehensif.
Kewirausahaan sosial umumnya berupaya untuk memperluas cakupan tujuan sosial, budaya, dan lingkungan yang sering diasosiasikan dengan sektor sukarela (Thompson. 2002). Bidang-bidang yang menjadi fokus kewirausahaan sosial meliputi (namun tidak terbatas pada), pengentasan kemiskinan, peningkatan layanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat (Wilden. 2018).
Dalam beberapa kasus, entitas bisnis yang berorientasi profit dapat didirikan untuk mendukung tujuan sosial atau budaya suatu organisasi, meskipun hal ini bukan merupakan tujuan utama. Sebagai ilustrasi, sebuah organisasi yang bertujuan menyediakan perumahan dan lapangan kerja bagi tunawisma mungkin mengoperasikan sebuah restoran. Restoran tersebut berfungsi ganda: sebagai sumber pendanaan dan sebagai sarana penyediaan lapangan kerja bagi para tunawisma.
Fenomena kewirausahaan sosial ini menawarkan perspektif baru dalam memahami interseksi antara aktivitas bisnis dan tanggung jawab sosial. Diperlukan mengeksplorasi efektivitas model-model kewirausahaan sosial yang berbeda, mengembangkan metrik evaluasi yang lebih robust, serta menganalisis dampak jangka panjang dari inisiatif-inisiatif kewirausahaan sosial terhadap perubahan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
2. 3. 4. 10. Biosfer
Kewirausahaan biosfer merupakan suatu bentuk aktivitas kewirausahaan yang bertujuan untuk menghasilkan nilai tambah bagi biosfer dan jasa ekosistem (Frederick. 2018). Konsep ini menjadi bagian integral dari tren yang lebih luas, di mana institusi pendidikan tinggi bisnis berupaya untuk mengintegrasikan topik-topik lingkungan secara lebih komprehensif ke dalam kurikulum mereka (Jack, 2021). Fenomena ini mencerminkan kesadaran yang semakin meningkat akan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam konteks bisnis dan ekonomi global.
Dalam paradigma kewirausahaan biosfer, para pelaku usaha tidak hanya berfokus pada pencapaian keuntungan finansial semata, tetapi juga mempertimbangkan dampak positif yang dapat mereka berikan terhadap ekosistem dan lingkungan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang semakin ditekankan dalam berbagai sektor, termasuk dunia usaha dan pendidikan tinggi.
2. 3. 5. Teori-Teori Kewurausahaan (Entrepreneurship)
2. 3. 5. 1. Teori Kewirausahaan Klasik
2. 3. 5. 1. 1. Jean-Baptiste Say
Say mengembangkan dan mempopulerkan konsepsi bahwa seorang wirausaha merupakan individu yang memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya produktif serta bersedia menanggung risiko dalam upaya menghasilkan nilai ekonomi. Dalam perspektif Say, wirausaha memainkan peran krusial sebagai penggerak utama dalam proses produksi ekonomi (Say. 1803). Pandangan ini menekankan peran sentral wirausaha dalam mengorganisasi dan mengoordinasikan faktor-faktor produksi, serta kemampuan mereka untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang ekonomi yang ada.
Kontribusi Say terhadap teori kewirausahaan ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan pemikiran ekonomi selanjutnya, terutama dalam memahami dinamika inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Konsep ini juga menyoroti pentingnya kemampuan wirausaha dalam mengelola ketidakpastian dan mengambil keputusan strategis dalam konteks ekonomi yang kompleks.
2. 3. 5. 1. 2. Joseph Schumpeter
Schumpeter memperkenalkan konsep creative destruction sebagai elemen fundamental dalam teori kewirausahaan. Menurut pandangan Schumpeter, wirausaha berperan sebagai agen perubahan yang secara signifikan mengubah dinamika pasar melalui inovasi. Proses ini melibatkan penciptaan produk atau layanan baru yang memiliki potensi untuk menggantikan atau menggeser produk dan layanan yang telah ada sebelumnya, sehingga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi (Schumpeter. 1942).
Konsep destruksi kreatif Schumpeter menekankan sifat dinamis dan evolusioner dari ekonomi kapitalis. Dalam paradigma ini, wirausaha tidak hanya dipandang sebagai pelaku ekonomi yang pasif, melainkan sebagai kekuatan transformatif yang secara aktif membentuk dan mengubah struktur pasar. Inovasi yang dihasilkan oleh wirausaha dipandang sebagai mekanisme kunci yang mendorong perkembangan ekonomi, menciptakan peluang baru, dan pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Teori Schumpeter ini memberikan perspektif yang lebih dinamis terhadap proses pembangunan ekonomi, dengan menempatkan inovasi dan kewirausahaan sebagai faktor sentral dalam pertumbuhan dan transformasi ekonomi jangka panjang.
2. 3. 5. 2. Teori Kewirausahaan Psikologis
2. 3. 5. 2. 1. David McClelland
McClelland mengembangkan teori kebutuhan berprestasi (need for achievement) yang memberikan perspektif psikologis terhadap fenomena kewirausahaan. Menurut teori ini, wirausaha memiliki dorongan internal yang kuat untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih menantang dan cenderung mengambil risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Motivasi berprestasi yang tinggi ini menjadi landasan fundamental bagi wirausaha dalam mengambil keputusan yang berisiko dan melakukan inovasi (McClelland. 1961).
Teori McClelland menekankan bahwa karakteristik psikologis, khususnya kebutuhan berprestasi, memainkan peran krusial dalam membentuk perilaku kewirausahaan. Individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi cenderung mencari situasi di mana mereka dapat mengambil tanggung jawab pribadi untuk menyelesaikan masalah, menetapkan tujuan yang menantang namun realistis, dan mencari umpan balik konkret atas kinerja mereka.
Kontribusi McClelland terhadap teori kewirausahaan membuka perspektif baru dalam memahami motivasi dan perilaku wirausaha. Teori ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang faktor-faktor yang mendorong individu untuk menjadi wirausaha, tetapi juga memberikan wawasan berharga tentang bagaimana karakteristik psikologis dapat mempengaruhi keberhasilan kewirausahaan.
Implikasi dari teori ini meluas ke berbagai bidang, termasuk pendidikan kewirausahaan dan pengembangan kebijakan yang bertujuan untuk memupuk semangat kewirausahaan dalam masyarakat. Pemahaman tentang peran kebutuhan berprestasi dalam kewirausahaan dapat membantu dalam merancang program pelatihan dan intervensi yang lebih efektif untuk mendorong perkembangan kewirausahaan.
2. 3. 5. 2. 2. Julian Rotter
Rotter mengembangkan konsep locus of control (pusat kendali) yang memiliki relevansi signifikan dalam konteks kewirausahaan. Teori ini mengemukakan bahwa wirausaha yang memiliki internal locus of control (pusat kendali internal) meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan nasib mereka sendiri melalui usaha dan keputusan pribadi. Keyakinan ini menjadi faktor pendorong yang kuat bagi mereka untuk mengambil inisiatif dan menghadapi risiko dalam aktivitas bisnis (Rotter. 1966).
Konsep pusat kendali Rotter memberikan perspektif psikologis yang penting dalam memahami perilaku kewirausahaan. Individu dengan pusat kendali internal cenderung memiliki karakteristik berikut:
Proaktif dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang bisnis.
Lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian.
Cenderung mengambil tanggung jawab atas hasil dari tindakan mereka, baik positif maupun negatif.
Lebih inovatif dan adaptif dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis.
Teori Rotter memperluas pemahaman kita tentang aspek kognitif dan psikologis yang mendasari keberhasilan kewirausahaan. Implikasi dari teori ini meluas ke berbagai bidang, termasuk pendidikan kewirausahaan, pengembangan kebijakan, dan praktik manajemen sumber daya manusia dalam konteks kewirausahaan.
Pemahaman tentang peran pusat kendali dalam kewirausahaan dapat membantu dalam merancang intervensi yang lebih efektif untuk mendorong perkembangan kewirausahaan, seperti program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa kendali internal dan kepercayaan diri wirausaha.
2. 3. 5. 3. Teori Kewirausahaan Ekologis
2. 3. 5. 3. 1. Theodore Schultz
Schultz (1975), mengembangkan teori modal manusia yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang kewirausahaan. Teori ini menekankan bahwa kapasitas wirausaha dalam mengidentifikasi dan mengkapitalisasi peluang bisnis memiliki korelasi erat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. Dalam konteks ini, modal manusia mencakup spektrum yang luas, meliputi pengetahuan, pengalaman, dan pelatihan, yang secara kolektif memperkuat kemampuan wirausaha untuk berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis.
Teori modal manusia Schultz menyoroti beberapa aspek krusial dalam kewirausahaan:
Pendidikan formal dan informal berperan sebagai katalis dalam meningkatkan kapasitas wirausaha untuk menganalisis peluang pasar dan mengembangkan strategi bisnis yang efektif.
Pengalaman profesional dan industri memberikan wawasan praktis yang memungkinkan wirausaha untuk mengantisipasi tantangan dan menavigasi kompleksitas dunia bisnis dengan lebih baik.
Pelatihan khusus dan pengembangan keterampilan berkontribusi pada peningkatan efisiensi operasional dan kemampuan inovasi wirausaha.
Akumulasi pengetahuan dan keterampilan sepanjang waktu meningkatkan fleksibilitas kognitif wirausaha, memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tren pasar.
Implikasi dari teori Schultz meluas ke berbagai domain, termasuk kebijakan pendidikan, strategi pengembangan kewirausahaan, dan praktik manajemen sumber daya manusia. Teori ini menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dalam pengembangan modal manusia sebagai strategi untuk meningkatkan kapasitas kewirausahaan dan, pada akhirnya, mendorong pertumbuhan ekonomi.
2. 3. 5. 3. 2. Howard Stevenson
Stevenson menitikberatkan perhatiannya pada aspek perilaku wirausaha dengan mengemukakan bahwa kewirausahaan merupakan upaya pencarian peluang yang melampaui sumber daya yang dimiliki saat ini. Definisi ini mengimplikasikan bahwa wirausahawan secara proaktif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang, tanpa terbatas pada sumber daya yang tersedia. Mengedepankan fleksibilitas dan inovasi sebagai strategi utama dalam mengatasi berbagai kendala yang dihadapi (Stevenson., & Jarillo. 1990).
2. 3. 5. 4. Teori Kewirausahaan Sosial
2. 3. 5. 4. 1. Muhammad Yunus
Muhammad Yunus, penerima Penghargaan Nobel Perdamaian, dikenal luas sebagai pelopor konsep kewirausahaan sosial melalui pendirian Grameen Bank. Yunus mengembangkan teori yang menyatakan bahwa wirausahawan sosial memiliki tujuan utama untuk menghasilkan dampak sosial yang positif, seperti pengentasan kemiskinan atau peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan menerapkan model bisnis yang berkelanjutan (Yunus. 2007).
2. 3. 5. 4. 2. Greg Dees
Dees menganggap kewirausahaan sosial sebagai kombinasi antara inovasi, proaktif, dan berani mengambil risiko, tetapi dengan tujuan utama untuk memaksimalkan dampak sosial daripada keuntungan finansial. Ini memperluas pandangan tradisional tentang kewirausahaan dengan menambahkan dimensi sosial yang signifikan. Dengan demikian, kewirausahaan sosial tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat (Dees. 1998).
2. 3. 6. Teori-Teori Dokter Entrepreneur (Entrepreneurship Bidang Kesehatan)
2. 3. 6. 1. Definisi Dokter
Menurut Konsil Kedokteran Indonesia (2019), dokter adalah seorang profesional medis yang memiliki lisensi untuk mendiagnosis, merawat, dan mencegah penyakit atau kondisi kesehatan lainnya pada manusia. Dokter bertanggung jawab untuk memberikan perawatan medis melalui berbagai metode, seperti pemeriksaan fisik, penggunaan tes diagnostik, meresepkan obat-obatan, serta melakukan prosedur medis atau pembedahan. Selain itu, dokter juga memberikan nasihat kesehatan dan pencegahan penyakit kepada pasien. Profesi ini memerlukan pendidikan dan pelatihan yang ekstensif, termasuk pendidikan formal di sekolah kedokteran, pelatihan klinis, dan lulus ujian kompetensi untuk praktek kedokteran (World Health Organization. 2023).
2. 3. 6. 2. Teori Inovasi dalam Kesehatan
2. 3. 6. 2. 1. Clayton Christensen
Christensen memperkenalkan konsep disruptive innovation yang telah memperoleh popularitas di berbagai sektor industri, termasuk bidang kesehatan. Menurut teori ini, inovasi disruptif dalam ranah kesehatan berpotensi menciptakan paradigma baru dalam penyediaan layanan kesehatan yang lebih efektif dan terjangkau. Hal ini membuka peluang bagi para dokter untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan dengan merancang solusi-solusi inovatif yang dapat mengubah lanskap pelayanan kesehatan secara fundamental.
Inovasi disruptif dalam konteks ini merujuk pada transformasi sistem atau proses yang ada menjadi lebih sederhana, lebih mudah diakses, dan lebih terjangkau, sehingga dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Dalam bidang kesehatan, ini dapat berupa pengembangan teknologi kesehatan baru, model bisnis inovatif, atau pendekatan baru dalam manajemen perawatan pasien. (Hwang., & Christensen. 2008; Topol. 2012; Herzlinger.2006).
Peran dokter sebagai wirausaha dalam konteks ini mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi peluang inovasi, merancang solusi kreatif, dan mengimplementasikan ide-ide baru yang dapat meningkatkan kualitas dan aksesibilitas layanan kesehatan. Hal ini dapat melibatkan pengembangan aplikasi kesehatan mobile, telemedicine, atau model layanan kesehatan berbasis komunitas yang lebih efisien (Christensen., Grossman., & Hwang. 2009).
2. 3. 6. 3. Teori Perubahan Sistem Kesehatan
2. 3. 6. 3. 1. Michael Porter
Porter dan Teisberg (2006), memperkenalkan konsep pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare), yang menekankan pentingnya peningkatan nilai bagi pasien melalui efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan kesehatan. Konsep ini mendorong para tenaga medis, khususnya dokter, untuk mengadopsi pola pikir wirausaha dalam upaya menciptakan layanan kesehatan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, dengan fokus utama pada hasil perawatan pasien dibandingkan dengan volume layanan yang diberikan.
Dalam paradigma pelayanan kesehatan berbasis nilai, kualitas perawatan diukur berdasarkan hasil yang dicapai pasien relatif terhadap biaya yang dikeluarkan. Pendekatan ini mengubah fokus dari sekadar memberikan layanan sebanyak mungkin menjadi mengoptimalkan hasil kesehatan pasien per unit biaya. Hal ini menuntut dokter untuk berinovasi dalam praktik mereka, mengembangkan model perawatan yang lebih efisien, dan berkolaborasi lintas disiplin untuk mencapai hasil terbaik bagi pasien.
Implikasi dari konsep ini bagi dokter sebagai entrepreneur meliputi pengembangan model bisnis inovatif yang menyelaraskan insentif dengan hasil kesehatan pasien, pemanfaatan teknologi dan analisis data untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas perawatan, perancangan alur kerja dan proses perawatan yang lebih terstruktur dan terukur, peningkatan transparansi dalam hal biaya dan hasil perawatan, dan olaborasi yang lebih erat dengan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem kesehatan (Porter. 2010; Kaplan., & Porter. 2011; Teisberg., Wallace., & O'Hara. 2020).
2. 3. 6. 4. Teori Kewirausahaan Kesehatan Digital
2. 3. 6. 4. 1. Eric Topol
Topol (2015), memusatkan perhatiannya pada kewirausahaan di bidang teknologi kesehatan, dengan menekankan potensi besar teknologi digital seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), genomik, dan wearable device dalam merevolusi layanan kesehatan. Pandangan ini membuka peluang signifikan bagi dokter untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan melalui pengembangan atau adopsi teknologi mutakhir yang dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien secara substansial.
Entrepreneurial dokter di bidang teknologi kesehatan mencakup beberapa aspek kunci, seperti inovasi digital dengan mengembangan atau penerapan solusi digital seperti aplikasi kesehatan mobile, platform telemedicine, atau sistem pendukung keputusan klinis berbasis AI, personalisasi perawatan dengan memanfaatan genomik dan data biomolekuler lainnya untuk merancang perawatan yang lebih tepat sasaran dan personal bagi setiap pasien, pemantauan kesehatan jarak jauh dengan penggunaan wearable device dan Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara real-time dan proaktif, analisis data kesehatan dengan memanfaatan big data dan analitik canggih untuk mengidentifikasi tren kesehatan, memprediksi risiko, dan mengoptimalkan strategi perawatan dan yang terakhir dengan robotika medis untuk meningkatkan presisi dan efisiensi prosedur medis.
Dengan mengadopsi pendekatan kewirausahaan ini, dokter dapat berperan aktif dalam mentransformasi lanskap pelayanan kesehatan, meningkatkan akurasi diagnosis, efektivitas pengobatan, dan pengalaman pasien secara keseluruhan. Hal ini juga mendorong terciptanya model bisnis inovatif dalam industri kesehatan yang dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan secara global (Agarwal., Gao., DesRoches., & Jha. 2010; Koertge., & Tiwari. 2020).
2. 4. Tinjauan Kritis dan Celah Penelitian
Critical review atau tinjauan kritis merupakan suatu evaluasi mendalam terhadap literatur yang relevan dengan topik penelitian. Dalam melakukan tinjauan kritis, peneliti tidak hanya merangkum literatur yang ada, tetapi juga melakukan analisis komprehensif terhadap kekuatan, kelemahan, dan kontribusi dari berbagai studi terdahulu (Smith. 2020). Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan yang telah mapan, serta menyoroti kekurangan, ambiguitas, atau inkonsistensi dalam literatur yang ada.
Beberapa karakteristik utama tinjauan kritis meliputi adalah analisis sistematis, evaluasi objektif, sintesis informasi, identifikasi kesenjangan, argumentasi kritis, dan kontekstualisasi dengan menempatkan temuan-temuan dalam konteks yang lebih luas dari bidang penelitian dan implikasinya terhadap teori atau praktik (Booth., Sutton., & Papaioannou. 2016).
Melalui tinjauan kritis, peneliti dapat membangun landasan yang kuat untuk penelitian, mengidentifikasi celah dalam pengetahuan yang ada, dan memberikan kontribusi yang berarti terhadap perkembangan bidang studi.
Celah penelitian (research gap) merupakan celah atau kekurangan dalam khasanah pengetahuan yang ada, yang diidentifikasi melalui proses tinjauan kritis terhadap literatur yang relevan (Johnson. 2019). Kesenjangan ini menunjukkan area-area di mana penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperluas pemahaman atau memecahkan masalah yang belum terjawab dalam suatu bidang studi. Para peneliti memanfaatkan kesenjangan ini sebagai dasar untuk menjustifikasi signifikansi penelitian yang mereka lakukan, serta untuk mengarahkan tujuan dan pertanyaan penelitian (Alvesson., & Sandberg. 2011). Berikut gap 33 penelitian terdahulu terkait dokterpreneur:
2. 4. 1. Tinjauan Kritis Teori-Teori Kewirausahan
Penelitian peneliti yang menggunakan paradigma post positivis dan pendekatan kuasi kualitatif serta studi kasus menghasilkan inti penelitian sebagai berikut:
Pertama, dokterpreneur menghadapi konflik antara etika medis dan tuntutan bisnis.
Kedua, resistensi terhadap teknologi atau model bisnis baru adalah hambatan utama, yang bisa diatasi melalui edukasi dan pelatihan.
Ketiga, melakukan rekomendasi untuk dukungan organisasi melalui pelatihan dan penciptaan lingkungan kerja seimbang.
Keempat, fokus pada dokterpreneur dan tantangan spesifik dalam peran ganda dokter.
Kurangnya fokus pada dokter milenial dan bagaimana mereka beradaptasi dengan peran manajerial dan kewirausahaan dalam konteks teknologi modern.
Banyak studi berfokus pada tantangan yang dihadapi dokter dalam peran manajerial, termasuk konflik identitas, kurangnya keterampilan manajemen, dan ketegangan antara nilai-nilai profesional dan manajerial.
Berikut adalah kritikal review yang berisi analisis persamaan, perbedaan, dan gap antara hasil penelitian peneliti tentang dokterpreneur dengan teori-teori kewirausahaan klasik, psikologis, ekologis, dan sosial.
2. 4. 1. 1. Persamaan dengan Penelitian Peneliti
2. 4. 1. 1. 1. Konflik antara Etika Medis dan Tuntutan Bisnis:
Teori Kewirausahaan Klasik (Jean-Baptiste Say dan Joseph Schumpeter)
Kewirausahaan dalam teori klasik seringkali melibatkan pengambilan risiko dan penggabungan sumber daya untuk menciptakan nilai ekonomi. Dalam konteks dokterpreneur, terdapat tantangan serupa dalam menggabungkan aspek bisnis dengan etika medis, yang merupakan sumber daya penting dalam praktik kedokteran.
Teori Kewirausahaan Psikologis (McClelland)
McClelland menekankan pada dorongan untuk prestasi yang lebih tinggi, yang mirip dengan dorongan dokterpreneur untuk mencapai keseimbangan antara etika medis dan tuntutan bisnis. Mereka termotivasi oleh keinginan untuk sukses di kedua bidang.
Teori Kewirausahaan Sosial (Muhammad Yunus, Greg Dees)
Mirip dengan dokterpreneur, yang berusaha menyeimbangkan antara kepentingan bisnis dan dampak sosial, teori Yunus dan Dees berfokus pada penciptaan nilai sosial sambil tetap menjalankan entitas bisnis.
2. 4. 1. 1. 2. Resistensi terhadap Teknologi Baru
Teori Kewirausahaan Klasik (Schumpeter)
Konsep Schumpeter tentang "kreativitas destruktif" menggambarkan bagaimana inovasi dapat menggantikan teknologi atau praktik lama. Resistensi terhadap teknologi baru adalah bagian dari proses ini, di mana wirausaha dan dokterpreneur menghadapi tantangan dalam mengadopsi inovasi.
Teori Kewirausahaan Ekologis (Theodore Schultz)
Schultz menekankan pentingnya modal manusia dan pendidikan dalam mengadopsi peluang bisnis. Dalam konteks dokterpreneur, pendidikan dan pelatihan penting untuk mengatasi resistensi terhadap teknologi baru.
2. 4. 1. 1. 3. Dukungan Organisasi dan Pelatihan:
Teori Kewirausahaan Ekologis (Howard Stevenson)
Stevenson menekankan pada pencarian peluang dan fleksibilitas dalam mengatasi keterbatasan sumber daya. Dukungan organisasi dan pelatihan yang disarankan dalam penelitian Anda sejalan dengan gagasan Stevenson tentang pentingnya fleksibilitas dan pencarian peluang di luar keterbatasan yang ada.
2. 4. 1. 2. Perbedaan dengan Penelitian Peneliti
2. 4. 1. 2. 1. Fokus pada Peran Ganda Dokterpreneur
Teori Kewirausahaan Klasik
Teori klasik seperti yang dikemukakan oleh Say dan Schumpeter lebih berfokus pada aspek ekonomi dan inovasi yang mengganggu pasar. Mereka tidak secara spesifik membahas tantangan peran ganda seperti yang dihadapi dokterpreneur dalam menyeimbangkan antara peran medis dan bisnis.
Teori Kewirausahaan Psikologis
Meskipun McClelland dan Rotter menekankan pada motivasi internal dan kontrol, mereka tidak membahas secara spesifik bagaimana individu mengelola peran ganda dengan tuntutan etika yang berbeda, seperti dalam kasus dokterpreneur.
Teori Kewirausahaan Sosial
Yunus dan Dees berfokus pada dampak sosial dan pengentasan kemiskinan, sementara dokterpreneur menghadapi tantangan khusus dalam menggabungkan tuntutan medis dan bisnis dalam lingkungan yang sangat diatur.
2. 4. 1. 2. 2. Penggunaan Teknologi Terbaru
Teori Kewirausahaan Klasik dan Psikologis
Teori-teori ini sebagian besar dikembangkan sebelum era digital, sehingga tidak membahas tantangan dan peluang teknologi terbaru yang dihadapi oleh dokterpreneur di era milenial. Penelitian peneliti lebih relevan dengan kondisi saat ini yang melibatkan teknologi canggih seperti telemedicine, AI, dan wearable devices.
Teori Kewirausahaan Ekologis
Meskipun Stevenson menekankan fleksibilitas dalam pencarian peluang, teori ini tidak secara khusus menangani tantangan yang muncul dari adopsi teknologi baru di bidang kesehatan.
2. 4. 1. 3. Gap Teori
2. 4 .1. 3. 1. Integrasi Etika Medis dalam Teori Kewirausahaan
Tidak ada teori kewirausahaan yang secara khusus mengintegrasikan etika medis ke dalam model kewirausahaan mereka. Penelitian peneliti menyoroti gap ini dengan menunjukkan bahwa dokterpreneur harus menyeimbangkan antara etika medis dan tuntutan bisnis, sesuatu yang tidak dibahas dalam teori kewirausahaan tradisional.
2. 4. 1. 3. 2. Tantangan Adopsi Teknologi di Era Milenial
Sebagian besar teori kewirausahaan yang ada dikembangkan sebelum era milenial dan tidak secara spesifik membahas tantangan yang dihadapi dokterpreneur dalam mengadopsi teknologi baru. Penelitian peneliti mengisi gap ini dengan menekankan pentingnya pelatihan dan edukasi untuk mengatasi resistensi terhadap teknologi baru.
Teori kewirausahaan klasik dan psikologis tidak membahas pentingnya dukungan organisasi dalam bentuk pelatihan dan penciptaan lingkungan kerja yang seimbang bagi dokterpreneur. Ini adalah area yang unik dalam penelitian peneliti dan menunjukkan kebutuhan untuk memperbarui teori-teori ini agar relevan dengan konteks modern.
2. 4. 1. 4. Kesimpulan
Peneliti berusaha untuk membuat kesimpulan dari tabel diatasBerdasarkan tabel diatas.
Tantangan unik dokterpreneur di era milenial.
Tabel menunjukkan bahwa penelitian peneliti fokus pada aspek-aspek yang tidak sepenuhnya dibahas dalam teori kewirausahaan tradisional, terutama dalam konteks dokterpreneur dan era milenial.
Celah dalam teori kewirausahaan tradisional.
Senantiasa menunjukkan gap antara teori-teori kewirausahaan klasik, psikologis, ekologis, dan sosial dengan tantangan spesifik yang dihadapi dokterpreneur.
Resistensi terhadap teknologi.
Resistensi terhadap teknologi baru sebagai salah satu fokus penelitian peneliti yang tidak sepenuhnya dibahas dalam teori kewirausahaan tradisional.
Kebutuhan akan dukungan.
Disebutkan pentingnya dukungan organisasi dan pelatihan, yang merupakan aspek yang kurang dibahas dalam teori kewirausahaan klasik.
Perspektif baru dalam konteks medis:
Tabel menunjukkan bahwa penelitian membawa perspektif baru yang spesifik untuk konteks medis, terutama dalam hal menyeimbangkan etika medis dengan tuntutan bisnis.
Relevansi dengan teknologi:
Teori kewirausahaan tradisional kurang membahas tantangan dan peluang teknologi terbaru yang dihadapi oleh dokterpreneur di era milenial.
Penelitian peneliti berusaha mengisi beberapa gap yang ada dalam teori kewirausahaan tradisional dengan menekankan pada tantangan unik yang dihadapi oleh dokterpreneur di era milenial. Sementara ada persamaan dalam hal resistensi terhadap teknologi dan kebutuhan akan dukungan dalam pencarian peluang, penelitian peneliti membawa perspektif baru yang relevan dengan konteks medis dan teknologi yang belum sepenuhnya dijelaskan oleh teori kewirausahaan yang ada.
2. 4. 2. Tinjauan Kritis Teori-Teori Dokterpreneur (Entrepreneurship di Bidang Kesahatan)
Berikut adalah analisis mengenai persamaan, perbedaan, dan gap antara hasil penelitian peneliti peneliti tentang dokterpreneur dan teori-teori terkait dokter entrepreneur (entrepreneurship di bidang kesehatan).
2. 4. 2. 1. Persamaan dengan Penelitian Peneliti
2. 4. 2. 1. 1. Konflik antara Etika Medis dan Tuntutan Bisnis
Teori Perubahan Sistem Kesehatan (Michael Porter)
Penekanan Porter pada value-based healthcare sejalan dengan konflik yang dihadapi dokterpreneur dalam menyeimbangkan etika medis dan tuntutan bisnis. Kedua pendekatan ini berfokus pada peningkatan nilai bagi pasien, namun dengan pendekatan berbeda, di mana dokterpreneur juga harus memperhatikan aspek bisnis dalam praktik mereka.
Teori Inovasi dalam Kesehatan (Clayton Christensen)
Konsep disruptive innovation Christensen menunjukkan bagaimana perubahan dalam praktik kesehatan dapat mengganggu norma-norma tradisional, termasuk etika medis. Dokterpreneur yang mengadopsi inovasi ini juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan etika medis di tengah tuntutan bisnis.
2. 4. 2. 1. 2. Resistensi terhadap Teknologi Baru
Teori Kewirausahaan Kesehatan Digital (Eric Topol)
Penekanan Topol pada teknologi digital dalam kesehatan mencerminkan resistensi yang sering dihadapi dokterpreneur dalam mengadopsi teknologi baru. Seperti yang ditemukan dalam penelitian Anda, resistensi ini dapat diatasi melalui edukasi dan pelatihan, yang juga merupakan solusi yang direkomendasikan oleh Topol untuk memanfaatkan potensi teknologi digital.
2. 4. 2. 1. 3. Dukungan Organisasi dan Pelatihan
Teori Perubahan Sistem Kesehatan (Michael Porter)
Porter menekankan pentingnya efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan kesehatan, yang memerlukan dukungan organisasi yang kuat. Dukungan ini termasuk pelatihan yang memadai untuk dokterpreneur agar mereka dapat mengelola peran ganda mereka dengan baik, sama seperti yang Anda rekomendasikan dalam penelitian Anda.
2. 4. 2. 2. Perbedaan dengan Penelitian Peneliti
2. 4. 2. 2. 1. Fokus pada Peran Ganda Dokterpreneur
Teori Inovasi dalam Kesehatan (Clayton Christensen)
Christensen berfokus pada inovasi disruptif yang mengubah paradigma layanan kesehatan. Namun, teori ini tidak membahas secara spesifik tantangan yang dihadapi dokterpreneur dalam menjalani peran ganda sebagai penyedia layanan medis dan pengelola bisnis, yang menjadi fokus utama penelitian Anda.
Teori Kewirausahaan Kesehatan Digital (Eric Topol)
Meskipun Topol membahas pentingnya teknologi digital, teorinya tidak secara eksplisit mencakup tantangan etis yang mungkin timbul ketika dokter mencoba menyeimbangkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab medis mereka, suatu area yang sangat penting dalam penelitian Anda.
2. 4. 2. 2. 2. Pendekatan terhadap Tantangan Era Milenial
Teori Perubahan Sistem Kesehatan (Michael Porter)
Porter fokus pada peningkatan nilai melalui efisiensi, tetapi tidak secara langsung membahas tantangan spesifik yang dihadapi dokterpreneur di era milenial, terutama terkait dengan perkembangan teknologi digital dan perubahan demografi pasien milenial yang lebih paham teknologi.
2. 4. 2. 3. Celah Teori
2. 4. 2. 3. 1. Integrasi Etika Medis dengan Inovasi Teknologi
Tidak ada dari teori-teori yang disebutkan secara eksplisit mengintegrasikan tantangan etika medis dengan tuntutan bisnis dan inovasi teknologi yang dihadapi oleh dokterpreneur. Penelitian Anda menunjukkan adanya kebutuhan untuk model atau teori baru yang secara khusus menyeimbangkan aspek ini dalam konteks era milenial.
2. 4. 2. 3. 2. Tantangan Spesifik Dokterpreneur dalam Peran Ganda
Teori yang ada cenderung berfokus pada aspek inovasi teknologi atau perubahan sistem kesehatan secara umum, tetapi tidak secara spesifik menangani tantangan yang dihadapi dokterpreneur dalam mengelola peran ganda mereka sebagai profesional medis dan pengelola bisnis. Penelitian Anda mengisi gap ini dengan memberikan fokus yang lebih dalam pada tantangan spesifik tersebut.
2. 4. 2. 3. 3. Relevansi dengan Teknologi Terbaru di Era Milenial
Meskipun teori Topol menekankan pada kewirausahaan digital, tidak ada teori yang sepenuhnya menangani bagaimana dokterpreneur harus beradaptasi dengan teknologi terbaru di era milenial sambil mempertahankan praktik etis dan keseimbangan bisnis. Penelitian peneliti menambahkan perspektif ini dengan menyoroti resistensi terhadap teknologi baru dan pentingnya edukasi dan pelatihan sebagai solusi.
2. 4. 2. 4. Kesimpulan
Penelitian peneliti memberikan wawasan baru yang relevan untuk era milenial, terutama dalam konteks dokterpreneur yang menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan etika medis dengan tuntutan bisnis dan teknologi. Sementara ada beberapa persamaan dengan teori-teori yang ada, penelitian peneliti mengidentifikasi gap yang penting, khususnya dalam hal bagaimana dokterpreneur dapat mengelola peran ganda mereka dengan lebih efektif dalam lingkungan yang semakin kompleks dan technology driven.
2. 5. 15 Langkah Penelitian The True Quasi Qualitative
Penelitian kuasi kualitatif merupakan penelitian yang menggabungkan elemen-elemen kualitatif dan kuantitatif. Langkah-langkah ini memberikan kerangka kerja sistematis untuk melakukan penelitian kuasi kualitatif yang mendalam. Meskipun berparadigma postpositivisme, penelitian ini masih menempatkan teori sebagai panduan dalam menangkap dan memahami realitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggabungkan pendekatan kualitatif dengan unsur-unsur kuantitatif untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang masalah yang diteliti.
Langkah-langkah dalam penelitian kuasi kualitatif yang ditampilkan dalam gambar adalah:
Searching the Problem.
Mengidentifikasi masalah yang relevan dan signifikan untuk diteliti. Tahap ini melibatkan pemahaman mendalam tentang konteks dan latar belakang masalah yang akan diteliti.
Literature Review.
Melakukan tinjauan literatur untuk mengetahui penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan terkait topik tersebut. Ini membantu untuk memahami apa yang sudah diketahui dan apa yang masih perlu dijawab.
Research Problem
Merumuskan masalah penelitian berdasarkan hasil tinjauan literatur dan identifikasi masalah.
Founding Gap.
Mengidentifikasi kesenjangan dalam literatur yang ada, yaitu aspek-aspek yang belum banyak diteliti atau dijelaskan dengan baik oleh penelitian sebelumnya. Ini merupakan dasar untuk menentukan fokus penelitian baru. Gap ini bisa berdasarkan ketidaksesuaian antara teori dan realitas di lapangan, data empiris.
Constructing Hypothesis.
Menyusun hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ingin dijawab berdasarkan kesenjangan yang telah diidentifikasi.
Planning Data Sources.
Merencanakan sumber data yang akan digunakan dalam penelitian. Ini bisa mencakup berbagai jenis data seperti wawancara, observasi, dokumen, dan lain-lain.
Constructing Data Collection Methods.
Menyusun metode pengumpulan data yang sesuai, seperti membuat panduan wawancara, daftar observasi, atau instrumen pengumpulan data lainnya.
Using a Theoretical Framework.
Menggunakan kerangka teori yang relevan untuk membimbing analisis data dan interpretasi hasil penelitian. Kerangka teori membantu untuk memahami data dalam konteks yang lebih luas.
Data Collection.
Mengumpulkan data dari sumber yang telah direncanakan menggunakan metode yang telah ditentukan.
Analysis Data (Keep a Diary, Transcript, Coding, Themes, Categorization, and Memos).
Menjaga catatan harian penelitian, transkrip, melakukan pengkodean data, mengidentifikasi tema, melakukan kategorisasi, dan membuat memo analitik. Ini membantu dalam organisasi dan analisis data.
Trying to Find New Sources of Information.
Berusaha menemukan sumber informasi baru yang mungkin relevan dan penting untuk penelitian.
Triangulation.
Menggunakan berbagai sumber data, metode, teori, atau peneliti untuk memeriksa konsistensi dan validitas temuan penelitian.
Constructing Theory.
Menyusun teori berdasarkan temuan penelitian. Ini melibatkan penyusunan konsep-konsep dan hubungan antar konsep yang ditemukan dalam data.
Confirm Theory.
Mengonfirmasi teori yang telah disusun melalui uji coba atau analisis lebih lanjut. Ini memastikan bahwa teori tersebut valid dan dapat dipercaya.
Construct New Theory.
Membangun teori baru jika temuan penelitian menunjukkan bahwa teori yang ada tidak cukup menjelaskan fenomena yang diteliti.
BAB 3
PROSEDUR PENELITIAN
3. 1. Landasan Filosofis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian terfokus pada konsep dokterpreneur yang memperhatikan integrasi antara profesionalisme medis dan manajerialisme dalam praktik kedokteran sehari-hari. Penelitian ini menggali bagaimana dokter, yang berperan sebagai entrepreneur dalam dunia kesehatan, menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan antara tanggung jawab profesional dokter sebagai penyedia layanan medis dengan peran manajerial yang menuntut efisiensi dan profitabilitas. Pendekatan ini memerlukan analisis yang mendalam terhadap bagaimana nilai-nilai etika kedokteran dapat berbenturan dengan tuntutan manajemen, terutama dalam pengambilan keputusan yang melibatkan kesejahteraan pasien dan keberlanjutan finansial praktik medis.
Dalam konteks dokterpreneur, penelitian menyelidiki bagaimana profesionalisme medis, yang berfokus pada prinsip-prinsip etika seperti kejujuran, integritas, dan prioritas terhadap pasien, dapat tergeser atau dipengaruhi oleh kebutuhan manajerialisme yang lebih pragmatis dan berorientasi pada keuntungan. Penelitian ini harus menjawab pertanyaan apakah dan bagaimana dokterpreneur dapat menjaga komitmen terhadap etika kedokteran di tengah tekanan untuk menjalankan praktik yang menguntungkan secara finansial. Dengan demikian, pendekatan ini juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan dokter dalam menjalankan praktik mereka, seperti tekanan pasar, regulasi, dan kebutuhan untuk tetap kompetitif di industri kesehatan.
Lebih lanjut, pendekatan penelitian ini menekankan pada pengumpulan data yang dapat menggambarkan konflik nyata yang dialami oleh dokterpreneur dalam praktik sehari-hari. Ini bisa dilakukan melalui studi kasus, wawancara mendalam, dan observasi langsung terhadap praktik dokterpreneur.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuasi kualitatif yang dikembangkan oleh Prof. Burhan Bungin. Metode kuasi kualitatif menggabungkan elemen-elemen dari pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang diteliti.
Desain penelitian yang digunakan adalah desain deskriptif kualitatif. Desain ini dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam tentang persepsi, pengalaman dan harapan dokter terkait dengan peran manajerial. Desain ini bersifat deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis mengenai fenomena yang diteliti, dan bersifat kualitatif karena mengungkapkan kedalaman makna yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi tema-tema baru yang muncul selama proses penelitian.
3. 2. Objek dan Informan Penelitian
Dalam konteks penelitian kualitatif, pemilihan informan merupakan aspek penting yang mempengaruhi kualitas penelitian. Menurut Creswell (2021), informan adalah individu yang memiliki pengalaman langsung dengan fenomena yang sedang diteliti dan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang masalah tersebut. Pemilihan informan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa informan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dan beragam tentang fenomena yang sedang diteliti. Informan juga memiliki posisi dan wewenang yang memungkinkan untuk memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana sistem kesehatan beroperasi dan bagaimana fenomena yang sedang diteliti mempengaruhi praktik medis.
Kriteria informan yang digunakan meliputi:
Dokter yang memiliki pengalaman berkerja selama lebih dari 10 tahun.
Dokter yang bekerja di berbagai bidang medis dan termasuk di bidang manajerial.
Dokter yang memiliki usaha selian di bidang medis.
Informan pertama adalah seorang dokter yang sudah mengabdi selama lebih dari 25 tahun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Provinsi Jawa Timur, saat ini bertugas di sebuah Rumah Sakit Umum (RSU) milik provinsi Jawa Timur, menjabat sebagai kepala ruangan forensik di rumah sakit tersebut, pernah menjabat sebagai ketua komite medis rumah sakit, dan sudah beragam tugas manajerial di rumah sakit umum milik pemerintah tersebut. Informan kedua adalah seorang dokter yang sudah 15 tahun bekerja sebagai ASN Dinas Kesehatan Kota Surabaya, pernah bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah milik kota Surabaya, sejak pandemi COVID-19 beliau pindah dari RSUD ke salah satu puskemas di surabaya dan saat ini menjabat sebagai kepala puskesmas salah satu puskemas di Surabaya.
Dengan demikian, melalui prosedur pemilihan informan ini, penelitian ini berusaha untuk memahami fenomena yang sedang diteliti dari berbagai perspektif dan konteks, sejalan dengan pendekatan kualitatif yang dianjurkan oleh Creswell. Ini akan memungkinkan penelitian ini untuk menghasilkan temuan yang kaya dan beragam, yang mencerminkan kompleksitas dan nuansa fenomena yang sedang diteliti.
3. 3. Metode Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data mengikuti pendekatan kualitatif Creswell (2021, hal. 253), prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah:
Observasi, yaitu identifikasi hal yang dapat membantu peneliti memahami masalah penelitian, seperti lokasi, informan, peristiwa, dan aktifitas-aktifitasnya, yang dalam penelitian ini dilakukan secara terbuka.
Wawancara mendalam kepada informan yang dipilih melalui pemilihan yang cermat dan mengumpulkan data tentang pandangan pribadi informan sebagai individu yang mengalami fenomena. Pertanyaan wawancara dikembangkan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Dokumentasi data penelitian yang dinilai mendukung temuan.
Pendekatan terstruktur untuk pengumpulan data ini menekankan pentingnya prosedur pengumpulan data pada penelitian kualitatif dalam menangkap pengalaman peserta dan menghasilkan wawasan yang bermakna.
3. 4. Prosedur Penelitian
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mendeskripsikan pengalaman kehidupan manusia tentang suatu fenomena tertentu yang dijelaskan oleh informan. Penelitian ini berfokus pada mengeksplorasi pengalaman hidup individu untuk memahami esensi dari fenomena tertentu. Langkah-langkah penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, berdasarkan 5 langkah penelitian kualitatif dari Creswell (2018), yaitu:
Peneliti mengumpulkan informasi dengan interview, wawancara atau observasi. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah wawancara. Data dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan dengan sejumlah dokter yang untuk menggali lebih dalam dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai pandangan, pengalaman dan harapan sesuai dengan perspektif mereka terkait dengan peran manajerial.
Peneliti mengajukan pertanyaan terbuka kepada informan. Pertanyaan terbuka memungkinkan informan memberikan jawaban yang mendalam dan kaya akan informasi.
Peneliti menganalisa data untuk menyusun tema atau kategori. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan teknik analisis koding warna. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari data kualitatif.
Peneliti membentuk pola teori dari tema atau kategori.
Peneliti membangun teori.
Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan adalah Manual Data Analysis Produre (MDAP). MDAP ini adalah metode analisis data kualitatif yang dilakukan secara manual tanpa menggunakan perangkat lunak khusus. Proses ini melibatkan beberapa tahapan penting untuk memastikan data yang dianalisis dapat memberikan hasil yang valid dan dapat diandalkan.
Langkah-langkah MDAP sebagai berikut:
Pengumpulan Data.
Mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti wawancara, observasi, dokumen, dan catatan lapangan.
Transkripsi Data.
Mentranskripsi data mentah yang diperoleh dari wawancara atau rekaman audio ke dalam bentuk teks tertulis. Transkripsi ini harus dilakukan dengan teliti untuk memastikan semua informasi tertangkap dengan akurat.
Membaca dan Membaca Ulang Data.
Membaca keseluruhan data secara berulang-ulang untuk memahami konteks dan isi secara mendalam.
Koding.
Proses mengidentifikasi dan memberi label pada bagian-bagian data yang relevan dengan fokus penelitian. Koding ini bisa berupa kata, frase, segmen atau warna data yang dianggap penting.
Analisis Data Berwarna.
Analisis data dilakukan dengan melihat pola-pola yang muncul dari segmen-segmen data yang berwarna. Misalnya, dengan melihat semua segmen berwarna kuning, peneliti dapat mengidentifikasi pola-pola tersebut dengan masalah penelitian.
Membuat Kategori.
Mengelompokkan kode-kode yang telah dibuat ke dalam kategori. Kategori ini membantu mengorganisir data secara lebih sistematis.
Penyusunan Tema.
Mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari kategori yang telah dikelompokkan. Tema-tema ini adalah konsep-konsep utama yang akan digunakan untuk menjelaskan temuan penelitian.
Penggunaan NVivo
NVivo adalah perangkat lunak yang dirancang untuk membantu peneliti dalam melakukan analisis data kualitatif. Perangkat lunak ini sangat berguna untuk mengelola, mengorganisir, dan menganalisis data non-numerik atau tidak terstruktur, seperti wawancara, kelompok diskusi, survei, artikel, media sosial, dan lainnya. Langkah-langkah umum dalam analisis data menggunakan NVivo:
Persiapan Data.
Masukkan data transkrip wawancara, catatan lapangan, dokumen teks, file audio, file video, gambar, dan data dari media sosia ke dalam Nvivo.
Membuat Proyek Baru.
Buka NVivo dan buat proyek baru untuk penelitian Anda. Beri nama proyek sesuai dengan topik penelitian. Buat folder atau struktur yang sesuai untuk mengorganisir data, seperti folder untuk wawancara, dokumen, dan media lainnya.
Pengkodean Data.
Baca data secara menyeluruh dan mulai melakukan pengkodean awal. Buat kategori atau tema untuk menandai segmen data yang relevan. Setelah melakukan pengkodean awal, identifikasi tema-tema utama dan sub-tema dari data.
Pengelolaan Kategori.
Gabungkan ketegori yang memiliki kesamaan atau buat kategori baru berdasarkan pengkodean yang ada.
Analisis Data.
Menggunakan fitur query di NVivo untuk mencari kata kunci, frase, atau pola dalam data, untuk membantu mengidentifikasi tren dan hubungan antar tema.
Visualisasi Data.
Gunakan fitur peta konsep untuk membuat representasi visual dari hubungan antara tema-tema utama dalam data. Tinjau kembali pengkodean dan node untuk memastikan konsistensi dan relevansi. Lakukan revisi jika diperlukan.
Validasi Temuan.
Validasi temuan dengan membandingkan hasil analisis dengan data asli, memastikan bahwa interpretasi data akurat.
Pelaporan Hasil.
Penyusunan Laporan.
Data yang telah dianalisis kemudian disusun dalam bentuk laporan dengan penjelasan yang mendalam mengenai temuan dari setiap kategori berwarna.
Triangulasi Data
Penelitian kualitatif umumnya menggunakan tradisi trianggulasi metode, sumber data dan waktu. Semua data kemudian dianalisis secara tematik untuk menyusun gambaran komprehensif tentang masalah penelitian yang sedang diteliti. Triangulasi data dilakukan untuk memperkuat keandalan hasil penelitian.
Triangulasi data adalah aspek penting dalam penelitian kualitatif, melibatkan penggabungan berbagai metode, sumber data, dan titik waktu untuk meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan penelitian (Dzwigol. 2020). Dengan memanfaatkan triangulasi, peneliti dapat mengatasi bias yang terkait dengan penggunaan satu metode atau pengamat, yang mengarah ke studi yang lebih kuat dan dapat dipercaya (Noble., & Heale. 2019). Triangulasi memperkaya penelitian dengan menawarkan kumpulan data yang beragam untuk menjelaskan berbagai aspek dari suatu fenomena, dan memberikan penjelasan yang lebih seimbang. Pendekatan ini sangat penting dalam studi fenomenologis, di mana semua data dianalisis secara tematis untuk menciptakan pemahaman yang komprehensif tentang masalah penelitian, yang pada akhirnya memperkuat keandalan hasil penelitian (Abdalla., Oliveira., Azevedo., & Gonzalez. 2018)
Sumber data, yaitu setelah wawancara dan analisa data, maka hasilnya akan diberikan kembali ke informan, apakah hasil sudah sesuai dengan yang dirasakan oleh informan.
Ahli, yaitu tema yang didapatkan dari informan akan dihasilkan memos, hasil ini akan diberikan kepada ahli untuk dinilai.
BAB 4
SEJARAH ILMU KEDOKTERAN
4. 1. Sejarah Ilmu Kedokteran
França dan Lotti (2017) menegaskan bahwa untuk memahami perkembangan ilmu kedokteran kontemporer dan proyeksi perkembangannya di masa depan, sangat penting untuk menelaah sejarah ilmu kedokteran. Sejarah ilmu kedokteran merupakan episode perkembangan ilmu dan praktik dalam melakukan diagnosis, terapi, dan pencegahan penyakit manusia sejak era prasejarah hingga era modern. Narasi sejarah ilmu kedokteran merefleksikan evolusi peradaban, budaya, agama, filsafat, dan teknologi manusia di berbagai wilayah dan periode waktu.
Perkembangan ilmu kedokteran pada awalnya didasarkan pada praktik-praktik sihir, mantra, dan kepercayaan terhadap pengaruh roh jahat. Praktik-praktik kuno dari peradaban Asyur, Mesir Kuno, Babilonia, Tiongkok, Ibrani, dan Yunani menjadi fondasi awal ilmu kedokteran. Oster (1921), menekankan bahwa perkembangan konsep kebersihan diri dan lingkungan menjadi dasar penting dalam evolusi ilmu kedokteran. Tokoh-tokoh seperti Hippocrates, Galen, Paracelsus, Vesalius, Harvey, Sydenham, Hunter, Pasteur, Koch, Lister, Reed, Manson, Ross, dan Gorgas memberikan kontribusi signifikan dalam perkembangan ilmu kedokteran dari masa ke masa.
Ilmu kedokteran telah mengalami perkembangan pesat sejak zaman prasejarah hingga era kontemporer. Pada hakikatnya, perkembangan ilmu kedokteran berkaitan erat dengan hubungan antara manusia dan penyakit. Perkembangan ini tidak dapat dipisahkan dari konsep manusia sebagai subjek yang menderita kesakitan, dengan penyakit dipandang sebagai penyebabnya. Berdasarkan dua premis tersebut, muncul dua pendekatan utama dalam perkembangan ilmu kedokteran, yaitu pendekatan yang berfokus pada aspek kemanusiaan melahirkan ilmu etika medis, sementara pendekatan yang berfokus pada penyakit melahirkan ilmu kedokteran medis (Jacobalis, 2005).
Dalam subbab berikutnya, akan diuraikan perkembangan dunia kedokteran secara kronologis, mencakup beberapa era penting dalam sejarah peradaban manusia. Pembahasan akan meliputi perkembangan ilmu kedokteran pada era prasejarah hingga perkembangan ilmu kedokteran Indonesia.
Melalui tinjauan historis ini, akan dipaparkan evolusi praktik dan pengetahuan medis dari berbagai peradaban yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu kedokteran global. Analisis ini akan membantu dalam memahami akar sejarah dan landasan filosofis yang menjadi dasar perkembangan ilmu kedokteran modern.
4. 1. 1. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Pra Sejarah
Manusia purba merupakan entitas yang menjalani kehidupan sebagai pemburu dan pengumpul, menjelajahi permukaan bumi untuk mempertahankan eksistensinya. Mereka bertahan hidup dengan cara berburu hewan dan mengumpulkan tumbuhan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup. Kelly (2010) mengemukakan bahwa dalam kapasitasnya sebagai pemburu dan pengumpul, manusia purba telah memiliki kesadaran awal tentang teknik pengobatan luka dan pemeliharaan kesehatan. Konsekuensinya, upaya penyembuhan penderita sakit, pengobatan luka, serta usaha investigasi sumber penyakit telah berkembang sejak keberadaan manusia di muka bumi.
Perkembangan ini mengindikasikan bahwa ilmu kedokteran primitif telah muncul sebagai respons terhadap kebutuhan survival manusia purba. Kemampuan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya alam untuk tujuan pengobatan menunjukkan adanya proses kognitif dan observasi yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya.
Pada era prasejarah, manusia belum memiliki pengetahuan ilmiah tentang etiologi dan terapi penyakit. Manusia zaman itu masih mengandalkan pengobatan tradisional yang bersumber dari kearifan lokal, meliputi pemanfaatan flora, fauna, dan kepercayaan tertentu. Masyarakat primitif meyakini bahwa penyakit berasal dari entitas supernatural, kutukan, atau pelanggaran moral. Sebagai konsekuensinya, mereka menggunakan ritual tarian, mantra, jimat, atau persembahan untuk menyembuhkan atau mengusir penyakit.
Pratiwi (2006) mengemukakan bahwa pada era tersebut, masyarakat primitif telah melakukan prosedur trepanasi, yaitu tindakan melubangi kranium dengan cara pengeboran, dengan tujuan mengeluarkan roh jahat yang diyakini bersemayam di dalam kepala manusia.
Sejalan dengan pernyataan Jacobalis (2005), pada fase awal perkembangan ilmu kedokteran, penyakit dipahami sebagai manifestasi kutukan akibat infiltrasi roh jahat dari alam metafisik ke dalam tubuh manusia. Hal ini direpresentasikan melalui berbagai keluhan abnormal yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebagai respons, muncul upaya untuk mengusir roh jahat melalui mediasi individu yang dianggap memiliki kapasitas superior dalam berkomunikasi dengan entitas supernatural. Individu-individu ini dikenal dengan istilah syaman (dukun, witch doctor, medicine man).
Para syaman dianggap mempunyai kelebihan untuk berkomunikasi dengan roh dan diyakini berkuasa atas roh-roh tertentu. Pengobatan dilakukan atas 2 upaya, yaitu upaya dari orang yang sakit dan upaya kepada sumber penyakit, yaitu roh jahat yang merasuki tubuh manusia. Upaya pertama adalah kepatuhan orang yang sakit, mereka diperintahkan untuk tunduk dan patuh atas permintaan syaman karena jika tidak patuh akan membuat roh jahat marah yang mengakibatkan keadaan yang sakit menjadi lebih parah. Upaya kedua adalah upaya kepada sumber penyakit, yaitu mengusir roh jahat dengan ritual-ritual tertentu yang menggunakan persembahan binatang atau tumbuhan.
Syamanisme merupakan fenomena universal yang dapat ditemukan di hampir seluruh penjuru dunia, walaupun dengan istilah berbeda-beda. Praktik ini tersebar luas di berbagai wilayah, mencakup Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, India, Nusantara, Filipina, Korea, dan komunitas aborigin Australia. Universalitas praktik syamanisme ini mengindikasikan adanya kesamaan dalam pendekatan spiritual terhadap penyembuhan dan pemahaman tentang penyakit di berbagai kebudayaan primitif.
Kelly (2010) mengemukakan beberapa bukti arkeologis yang menunjukkan adanya praktik penyembuhan penyakit pada era prasejarah, yaitu (1) keberadaan Stonehenge di Inggris, yang diperkirakan berasal dari tahun 3000 SM, diduga berfungsi sebagai lokasi ritual penyembuhan, (2) lukisan-lukisan gua di Prancis yang berusia sekitar 17.000 tahun, menggambarkan figur antropomorfik bertopeng kepala hewan yang sedang melakukan ritual penyembuhan penyakit. Representasi visual ini memberikan wawasan tentang praktik syamanistik dalam konteks pengobatan primitif, (3) Penemuan tengkorak perempuan yang diperkirakan hidup pada tahun 3500 SM, dengan lubang di kranium, yang diasumsikan sebagai hasil dari teknik trepanasi. Trepanasi ini diduga dilakukan sebagai metode penyembuhan penyakit atau pengusiran roh jahat.
Bukti-bukti arkeologis ini memperkuat pemahaman tentang evolusi praktik kedokteran dari era prasejarah. Meskipun berdasarkan pemahaman supernatural, praktik-praktik ini menunjukkan adanya upaya sistematis dalam menangani penyakit dan merupakan cikal bakal perkembangan ilmu kedokteran modern.
4. 1. 2. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Mesir Kuno
Peradaban Mesir Kuno merupakan salah satu entitas terkemuka dalam sejarah peradaban manusia. Nicolaides (2013) menegaskan bahwa bangsa Mesir Kuno memiliki inovasi signifikan dalam bidang praktik medis, khususnya dalam aspek pembedahan. Mereka mengembangkan instrumen bedah berteknologi maju yang mengesankan, banyak di antaranya kini dipamerkan di Museum Mesir dan Museum Koptik di Kairo. Pengobatan Mesir Kuno melampaui pengobatan Yunani dan Romawi dalam hal keluasan pengetahuan dan kompleksitas, meskipun masih berada dalam spektrum antara ilmu empiris dan kepercayaan supranatural. Pengobatan Mesir Kuno dianggap sebagai fondasi pengobatan Barat modern.
Kelly (2010) menyatakan bahwa praktik kedokteran Mesir Kuno berlangsung dari sekitar 3300 SM hingga 252 SM. Jacobalis (2021) menambahkan bahwa perkembangan ilmu kedokteran Mesir Kuno sangat impresif karena melibatkan aspek religius dalam proses terapeutiknya. Peran dewa-dewa dalam mitologi Mesir Kuno terkait erat dengan kesehatan manusia, yang mengakibatkan dokter-dokter pada masa itu memperoleh status sosial yang tinggi dalam masyarakat.
Imhotep, yang hidup sekitar tahun 2600 SM, merupakan tokoh sentral dalam perkembangan ilmu kedokteran Mesir Kuno. Ia dikenal sebagai dokter, arsitek, imam, astrolog, dan penasihat raja. Imhotep dianggap sebagai bapak ilmu kedokteran oleh masyarakat Mesir Kuno. Ia juga berkontribusi dalam penulisan beberapa teks medis tertua yang masih ada, seperti Edwin Smith Surgical Papyrus, yang memuat tentang diagnosis dan pengobatan berbagai luka (ilmu bedah), Ebers Papyrus, yang berisi pedoman diagnosis dan terapi penyakit, dan Gynecological Kahun Papyrus, yang fokus pada ilmu kebidanan dan kandungan (Kelly, 2010).
Institusionalisasi pendidikan kedokteran di Mesir Kuno berlangsung di lembaga yang dikenal sebagai House of Life. Pratiwi (2006) menjelaskan bahwa para calon dokter menjalani proses pembelajaran yang intensif selama bertahun-tahun, mempelajari berbagai penyakit dan mengembangkan metode pengobatan. Kurikulum pendidikan meliputi kuliah terstruktur dan praktik berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada, mencakup teknik anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemberian terapi. Mereka juga dilatih dalam peracikan obat dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan, hewan, mineral, dan logam.
Jacobalis (2021) mencatat bahwa pada masa itu telah terdapat berbagai spesialisasi dalam bidang kedokteran di Mesir Kuno, seperti dokter mata, dokter perut (guardian of the colon), dan dokter gigi. Informasi ini didasarkan pada catatan Herodotus, seorang sejarawan Yunani yang mengunjungi Mesir pada abad ke-5 SM.
4. 1. 3. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman India
Sejarah kedokteran India terbagi menjadi dua periode utama: periode Vedik (sekitar 1500 SM - 800 SM) dan periode Ayur Vedik (800 SM - 1000 M). Kelly (2010) mencatat bahwa perkembangan kedokteran India kuno berlangsung seiring dengan kemajuan peradaban di sekitar Sungai Indus, ditandai dengan ditemukannya kuil-kuil pemujaan dewa penyembuh.
Kedokteran Vedik merupakan tradisi penyembuhan yang ditransmisikan secara lisan dari guru kepada murid. Konsep utamanya menekankan kesehatan optimal yang dibangun dari tiga pilar, yaitu pola hidup bersih, pola makan sehat, dan olahraga. Metode penyembuhan sangat bergantung pada kepercayaan religius dan elemen magis, sering melibatkan ritual pengakuan dosa dan upacara pengusiran roh jahat.
Kedokteran Ayur Vedik merupakan evolusi dari tradisi Vedik, lebih bersifat empiris dengan mengurangi unsur magis dan meningkatkan pendekatan berbasis data dan penelitian. Orientasinya tidak hanya pada penyembuhan, tetapi juga pemeliharaan kesehatan. Para praktisi Ayur Vedik meyakini proses penyembuhan harus melibatkan empat pilar, yaitu dokter, pembantu, pasien, dan obat.
Konsep fisiologi dan homeostasis dalam Ayur Vedik didasarkan pada keberadaan dosa dalam diri manusia, dipandang sebagai faktor penyebab ketidakseimbangan tubuh. Dokter Ayur Vedik berupaya mengeluarkan dosa melalui metode seperti flebotomi atau bekam. Selain itu, mereka juga menekankan pola hidup sehat melalui pengaturan diet dan aktivitas fisik (olah raga).
Charaka Samhita, ahli pengobatan yang hidup antara tahun 1000 SM - 800 SM, dianggap sebagai bapak kedokteran India. Karyanya menjadi rujukan selama dua abad. Charaka memperkenalkan berbagai teknik penyembuhan, termasuk identifikasi 107 titik vital manusia dan pengenalan organ vital. Berdasarkan data tersebut, ia berhasil menguraikan lebih dari 1000 jenis penyakit.
Untuk menegakkan diagnosis, Charaka memperkenalkan tiga teknik utama:
Anamnesis, yaitu mendengarkan secara detail keluhan pasien, mengidentifikasi hal-hal abnormal.
Palpasi, yaitu teknik perabaan untuk mencari korelasi antara informasi anamnesis dengan kondisi organ.
Auskultasi, yaitu pemeriksaan bagian dalam tubuh menggunakan alat bantu.
Dokter sering melakukan pemeriksaan tambahan, seperti analisis ekskreta tubuh, untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
Setelah era Charaka, muncul Sushruta Samhita, ahli pengobatan yang lebih fokus pada teknik pembedahan dan perawatan luka. Sushruta mengklasifikasikan pembedahan menjadi enam kategori, yaitu pemotongan (chedya), penyayatan kulit (lekhya), penusukan (vedhya), eksplorasi (esya), ekstraksi (ahrya), dan penjahitan (sivya).
Sushruta menetapkan persyaratan spesifik untuk setiap kategori pembedahan, seperti kebutuhan tempat tidur khusus untuk prosedur tertentu. Ia mencatat penggunaan 20 peralatan tajam dan 101 peralatan tumpul dalam teknik pembedahan.
Prosedur pembedahan dicatat secara detail, termasuk aspek kebersihan ruangan dan alat dengan antiseptik, serta manajemen nyeri menggunakan anggur (minuman keras) atau ganja. Sushruta juga merupakan salah satu dokter pertama yang mempelajari dan mendokumentasikan anatomi manusia secara rinci, meliputi tulang, otot, ligamen, sendi, saraf, pembuluh darah, dan organ dalam.
Perkembangan kedokteran India kuno menunjukkan evolusi dari praktik berbasis kepercayaan menuju pendekatan yang lebih sistematis dan empiris. Kontribusi tokoh-tokoh seperti Charaka dan Sushruta tidak hanya signifikan bagi perkembangan kedokteran di India, tetapi juga memiliki pengaruh yang luas terhadap praktik kedokteran di berbagai belahan dunia.
4. 1. 4. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Cina
Peradaban Cina, salah satu yang tertua dan terbesar di Asia, telah memberikan pengaruh signifikan terhadap budaya dan sejarah dunia. Ilmu kedokteran Cina memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari sistem kedokteran lainnya. Landasan utama kedokteran Cina adalah konsep Yin dan Yang, teori lima unsur (logam, kayu, air, api, dan tanah), serta konsep aliran energi (Qi) dalam tubuh manusia. Tujuan fundamental dari praktik kedokteran Cina adalah untuk mencapai keseimbangan dan harmoni antara tubuh, pikiran, dan lingkungan.
Akar kedokteran Cina dapat ditelusuri dari tiga kaisar legendaris yang dianggap sebagai pelopor dalam pengembangan ilmu kedokteran, yaitu:
Fu Xi (sekitar 2900 SM), dikenal sebagai pengembang konsep Yin dan Yang, yang menjadi dasar filosofis kedokteran Cina.
Shen Nong (sekitar 2700 SM), dianggap sebagai bapak akupunktur dan herbalisme Cina. Ia dipercaya telah mengidentifikasi berbagai tanaman obat dan efek terapeutiknya.
Huang Di (sekitar 2600 SM), menulis buku tentang prinsip utama pengobatan penyakit dalam, yang kemudian menjadi dasar teori kedokteran Cina.
Pada awal perkembangannya, seperti halnya kebudayaan kuno lainnya, kepercayaan terhadap pengaruh roh jahat pada kesehatan manusia masih kuat dalam praktik pengobatan Cina. Teknik pengobatan sering melibatkan ritual-ritual khusus yang mirip dengan praktik perdukunan. Namun, dalam evolusinya, kedokteran Cina mengalami pergeseran fokus yang signifikan.
Alih-alih berfokus pada rincian spesifik penyakit, kedokteran Cina berkembang menjadi sistem yang lebih holistik. Para dokter Cina memandang orang sakit dan penyakit sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pendekatan ini mengutamakan proses penyembuhan alamiah, berbeda dengan pendekatan Barat yang cenderung mencari teknik penyembuhan cepat dan memandang penyakit sebagai entitas terpisah dari pasien.
Kedokteran Cina bersandar pada klasifikasi dan interrelasi yang kompleks antara bagian-bagian tubuh dan alam semesta. Pendekatan ini sering dianggap sebagai pengobatan menyeluruh (holistik), berbeda dengan pengobatan Barat yang cenderung parsial atau terfokus pada gejala spesifik.
Dokter yang hebat adalah mengobati sebelum terjadi, itu adalah salah satu pepatah Cina, yang dihubungkan dengan kitab pengobatan prinsip penyakit dalam pada zaman kaisar Huangdi.
Huangdi (Kaisar Kuning, 2697-2597 SM) merupakan tokoh sentral dalam perkembangan kedokteran Cina kuno. Ia dianggap sebagai penulis Huangdi Neijing (Kitab Kedokteran Dalam Kaisar Kuning), yang menjadi dasar teori kedokteran Cina. Kitab ini mencakup berbagai aspek termasuk teori dasar, metode diagnosis, teknik pengobatan, prinsip akupunktur, dan moksibusi (pengobatan dengan menghangatkan titik-titik akupunktur menggunakan ramuan).
Metode pengobatan dalam kedokteran Cina kuno sangat beragam dan mencakup berbagai teknik, di antaranya adalah herbalisme yaitu penggunaan tumbuhan obat untuk mengobati berbagai penyakit dan menjaga kesehatan, dietetik yaitu pengaturan makanan sesuai dengan kondisi tubuh pasien untuk menjaga keseimbangan dan mempercepat penyembuhan, akupunktur yaitu penusukan jarum pada titik-titik tertentu di tubuh untuk merangsang aliran energi dan memperbaiki ketidakseimbangan, moksibusi, yaitu penghangatan titik-titik akupunktur dengan ramuan, biasanya menggunakan tanaman Artemisia vulgaris, pijat (Tui Na) yaitu pemijatan tubuh untuk merelaksasi otot dan saraf, serta melancarkan aliran Qi, Tai chi yaitu seni bela diri yang melatih pernapasan dan gerakan tubuh, berfungsi untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan energi dan Qi gong yaitu latihan pernapasan dan meditasi untuk meningkatkan energi vital dan memperkuat sistem tubuh.
Konsep Yin Yang, yang bermula pada dinasti Shang (sekitar 1700 SM), menjadi landasan pemahaman tentang keseimbangan dalam tubuh dan hubungannya dengan lingkungan serta alam semesta. Yin terkait dengan aspek-aspek seperti tanah, gelap, wanita, pasif, pertumbuhan, organ vital, sirkulasi, dan makanan. Sementara Yang terkait dengan langit, terang, laki-laki, aktif, tindakan, perubahan, dan organ serta saluran tubuh berongga.
Teori lima unsur (Wu Xing) merupakan konsep penting lainnya dalam kedokteran Cina. Kelima unsur itu adalah kayu, api, tanah, logam, dan air, yang memiliki korelasi dengan lima arah, musim, warna, bunyi, planet, dan organ tubuh. Sistem interrelasi ini membentuk dasar pemahaman tentang harmoni dan keseimbangan dalam tubuh manusia dan hubungannya dengan alam semesta.
Proses pelatihan dokter Cina sangat intensif dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dokter Cina dilatih untuk menggunakan indera (mata, hidung, telinga, kulit) dengan sangat terampil untuk mendeteksi kelainan pada tubuh manusia. Para dokter Cina telah mengembangkan sistem diagnosis yang sangat rinci, termasuk identifikasi 51 tipe nadi dan 37 warna lidah yang masing-masing merupakan indikator berbagai kondisi kesehatan dan penyakit.
Akupunktur dan moksibusi merupakan dua kontribusi terbesar peradaban Cina yang masih relevan dan banyak dipraktikkan hingga saat ini. Akupunktur bertujuan untuk menyeimbangkan aliran energi (chi) dalam tubuh, merangsang saraf, otot, dan jaringan ikat, serta memicu pelepasan endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami. Moksibusi, di sisi lain, menggunakan tanaman mugwort (Artemisia vulgaris) untuk menghasilkan panas pada titik-titik akupunktur. Tujuannya adalah untuk menghilangkan hambatan energi, meningkatkan sirkulasi darah, dan menyeimbangkan yin dan yang dalam tubuh.
Salah satu prinsip fundamental dalam kedokteran Cina adalah penekanan pada pencegahan penyakit. Hal ini tercermin dalam pepatah terkenal, “Dokter yang hebat adalah yang mengobati sebelum terjadi penyakit". Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dalam tubuh untuk mencegah timbulnya penyakit, alih-alih hanya fokus pada pengobatan setelah penyakit muncul.
Langkah pertama dalam menjaga kesehatan menurut tradisi Cina adalah pengondisian tubuh. Orang Cina menciptakan seni Tao Yin, yang kemudian dikenal sebagai Qigong atau latihan pernapasan. Praktik ini bertujuan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan aliran Qi dalam tubuh.
Pendekatan holistik dan fokus pada keseimbangan dalam kedokteran Cina kuno terus memberikan kontribusi signifikan pada praktik pengobatan modern dan alternatif di seluruh dunia. Meskipun beberapa aspek kedokteran Cina tradisional masih diperdebatkan dalam konteks ilmiah modern, banyak prinsip dan praktiknya yang telah terbukti efektif dan diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan kontemporer di berbagai negara.
4. 1. 5. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Yunani
Yunani merupakan negara dengan peradaban besar di Eropa yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan, salah satunya ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran di Yunani mengalami kemajuan pesat, terutama dalam bidang anatomi, fisiologi, patologi, farmakologi, dan bedah.
Tesarová (2012) menjelaskan sejarah kedokteran Yunani yang berfokus pada pengembangan pengobatan rasional ilmiah oleh Hipokrates, pendekatan perawatan pasien yang lebih sistematis, pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan, serta pendirian Sekolah Kedokteran di Alexandria.
Perkembangan ilmu kedokteran Yunani dimulai sejak zaman masyarakat mempercayai dewa Asklepios, yang kemudian berkembang hingga penetapan kaidah-kaidah dasar ilmu kedokteran oleh Hipokrates.
Perkembangan ilmu kedokteran pada periode klasik berkontribusi pada pengurangan faktor supranatural dalam ilmu kedokteran dalam memandang sebuah penyakit dan usaha manusia dalam mengenali penyebab alami yang dianggap sebagai penyebab suatu penyakit. Salah satu hasil penting pada periode ini adalah sumpah dokter oleh Hipokrates, yang masih relevan hingga saat ini (Ostrowski, 2022).
Ilmu kedokteran Yunani bersifat rasional, empiris, dan sistematis, berbeda dengan ilmu kedokteran di Mesir dan Tiongkok kuno yang lebih bersifat magis, religius, dan holistik.
Perkembangan ilmu kedokteran tidak hanya terjadi di Yunani, tetapi juga berkembang ke Romawi. Awalnya, masyarakat Romawi kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Namun, setelah kedatangan banyak dokter dari Yunani, cara pandang masyarakat Romawi terhadap kebersihan dan kesehatan berubah. Hal tersebut menyebabkan berkembangnya ilmu kedokteran di Kekaisaran Romawi pada tahun 293 Masehi.
Tokoh utama dalam perkembangan awal ilmu kedokteran Yunani adalah Apollo, yang diyakini sebagai dewa kesembuhan dan pengobatan. Dalam mitologi Yunani, Apollo juga dikenal sebagai pemilik tempat suci dan rumah pengobatan terkenal di Delphi.
Apollo merupakan putra Zeus dan Leto, serta saudara kembar Artemis. Apollo digambarkan sebagai dewa muda dan atletis yang pandai memainkan lira. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang senantiasa membawa busur perak dan berwatak keras, yang sering menghukum orang-orang yang menantang atau menghinanya. Apollo memiliki banyak keturunan, di antaranya Asklepios sebagai dewa pengobatan dan Orfeus sebagai musisi terhebat manusia.
Asklepios dikenal sebagai salah satu dewa pengobatan dan penyembuhan dalam mitologi Yunani. Menurut legenda, Asklepios mempelajari seni pengobatan dari seekor ular yang menghidupkan kembali ular lain yang telah mati dengan memberikan sejenis tumbuhan.
Asklepios menjadi tabib yang sangat terampil dan terkenal. Bahkan, menurut legenda, ia mampu menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dengan bantuan darah Medusa. Asklepios menikah dengan Epione, dewi penyembuhan, dan memiliki enam putri dan tiga putra yang semuanya berkecimpung dalam bidang pengobatan dan penyembuhan. Beberapa putra dan cucunya, seperti Machaon, Podaleirios, dan Hipokrates, juga menjadi tabib terkenal dalam sejarah Yunani.
Asklepios memiliki banyak tempat suci yang disebut Asclepeion, tempat orang-orang datang untuk mencari kesembuhan dari berbagai penyakit dan luka. Di sana dilakukan ritual seperti mandi, berkorban, dan tidur di dalam kuil dengan harapan mendapatkan mimpi yang memberikan petunjuk atau penyembuhan dari Asklepios atau keturunannya. Salah satu tempat suci Asklepios yang paling terkenal adalah di Delphi.
Asklepios digambarkan sebagai seorang pria berjanggut yang memegang tongkat dengan seekor ular melingkar di sekitarnya, yang disebut tongkat Asklepios. Tongkat ini menjadi simbol pengobatan hingga saat ini dan bahkan digunakan sebagai logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penggunaan ular sebagai simbol tambahan dari pengobatan didasarkan pada keyakinan bahwa ular melambangkan sikap kebijaksanaan, penyembuhan, dan keabadian, karena ular secara periodik mengganti kulitnya.
Di akhir perjalanan hidupnya, Asklepios dibunuh oleh Zeus, raja para dewa, karena dianggap mengganggu keseimbangan antara hidup dan mati dengan ilmunya yang mampu menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Meskipun kisah hidupnya berakhir tragis, Asklepios tetap dihormati sebagai dewa pengobatan dan penyembuhan oleh masyarakat Yunani dan juga oleh dunia.
Setelah era Asklepios, perkembangan ilmu kedokteran Yunani dilanjutkan oleh Hipokrates. Hipokrates, seorang dokter Yunani yang hidup pada tahun 460-377 SM, diakui sebagai Bapak Kedokteran karena jasanya dalam memisahkan ilmu medis dari takhayul dan mitologi. Ia juga menulis banyak karya yang membahas penyakit, obat, etika, dan anatomi.
Hipokrates adalah penulis kumpulan naskah kedokteran yang dikenal sebagai Corpus Hippocraticum (Karya-Karya Hipokrates). Kumpulan ini berisi tulisan yang mencakup berbagai aspek ilmu kedokteran, seperti anatomi, fisiologi, patologi, diagnosis, bedah, prognosis, epidemiologi, terapi, diet, dan etika praktik kedokteran.
Karya-karya ini menunjukkan perkembangan ilmu kedokteran sebagai suatu disiplin ilmiah yang berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman, bukan pada takhayul dan mitologi. Karya-karya tersebut juga menekankan pentingnya keseimbangan antara alam dan individu, serta hubungan antara dokter dan pasien (Iniesta, 2011).
Salah satu tulisan yang paling terkenal dalam Corpus Hippocraticum adalah Sumpah Hippocrates (Sari, 2020), yang menjadi dasar etika profesional bagi dokter hingga sekarang. Sumpah ini berisi janji-janji yang harus diucapkan oleh dokter sebelum memulai praktiknya, seperti menghormati guru-gurunya, tidak menyakiti pasiennya, menjaga kerahasiaan pasiennya, tidak melakukan aborsi atau eutanasia, dan lain-lain.
Gambar merupakan manuskrip kuno yang berisi teks dalam bahasa Yunani kuno, bagian dari Corpus Hippocraticum atau mungkin Sumpah Hippocrates itu sendiri. Sumpah Hippocrates memang memiliki signifikansi historis dan etis yang sangat besar dalam dunia kedokteran. Beberapa poin penting mengenai Sumpah Hippocrates, yaitu sumpah ini diyakini berasal dari abad ke-5 atau ke-4 SM, meskipun ada perdebatan tentang apakah Hippocrates sendiri yang menulisnya, sumpah ini mencakup berbagai prinsip etis, termasuk menghormati guru dan rekan seprofesi, mengutamakan kesejahteraan pasien, menjaga kerahasiaan pasien, tidak melakukan tindakan yang merugikan pasien, menolak praktik eutanasia dan aborsi.
Meskipun versi asli sumpah ini tidak lagi digunakan secara luas, prinsip-prinsip dasarnya telah diadaptasi ke dalam berbagai kode etik kedokteran modern.
Seiring waktu, sumpah ini telah mengalami modifikasi untuk mencerminkan perubahan dalam praktik medis dan nilai-nilai sosial.
Selain Sumpah Hippokrates, terdapat Aforisme Hippokrates yang terdiri atas beberapa bagian. Masing-masing bagian memuat sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan berbagai aspek kedokteran, seperti diagnosis, prognosis, terapi, diet, epidemi, anatomi, fisiologi, patologi, dan lain-lain.
Beberapa contoh Aforisme Hippokrates adalah (Adams, 2000):
Jangan menimbulkan kerugian.
Hidup itu singkat, dan seni itu panjang; krisis itu cepat berlalu; pengalaman itu berbahaya, dan kepatuhan itu sulit. Dokter dituntut tidak hanya siap untuk melakukan sesuatu yang menurutnya benar, tetapi juga membuat pasien dan lingkungan dapat bekerja sama.
Apa yang tidak dapat disembuhkan oleh obat, akan disembuhkan dengan pisau; apa yang tidak dapat disembuhkan dengan pisau akan disembuhkan dengan pembakaran; dan apa yang tidak dapat disembuhkan dengan pembakaran, sesungguhnya tidak dapat disembuhkan.
Ketika penyakit sudah mencapai puncaknya, maka perlu untuk menerapkan diet yang sedikit.
Di bagian tubuh mana pun yang berkeringat, di situlah adanya penyakit.
Di bawah pengaruh Hippokrates, kedokteran Yunani menjadi sangat berpusat pada pasien, hingga muncullah sebuah pernyataan "dokter adalah sahabat pasien". Diawali dengan menggali informasi dari pasien, lingkungan rumah, lingkungan kerja, riwayat penyakit terdahulu, menggunakan indera untuk melakukan pemeriksaan fisik, serta mencatat dan merangkum semua informasi untuk membuat sebuah kesimpulan yang bermanfaat bagi pasien dalam proses penyembuhannya (Kelly. 2010).
Sokrates, Plato, dan Aristoteles merupakan tiga filsuf Yunani yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu kedokteran. Masing-masing memiliki peran dan pemikiran yang unik, namun saling melengkapi dalam membentuk landasan filosofis, etis, dan ilmiah bagi praktik kedokteran.
Sokrates, yang hidup sekitar abad ke-5 SM, mengembangkan metode dialektika yang kemudian dikenal sebagai anamnesis dalam dunia kedokteran. Metode ini menggunakan dialog dengan pertanyaan untuk membangun sebuah kesimpulan dalam mencari kebenaran. Dalam praktik kedokteran, metode ini sangat bermanfaat bagi dokter untuk menentukan diagnosis penyakit pasien, mencari penyebab, dan memberikan pengobatan yang tepat. Selain itu, metode dialektika juga membantu dokter untuk berpikir kritis, logis, dan sistematis, serta menghindari kesalahan berpikir saat menghadapi pasien.
Kontribusi Sokrates tidak hanya terbatas pada metode berpikir, tetapi juga mencakup pengembangan etika kedokteran. Sokrates mengajarkan bahwa dokter harus memiliki kebajikan, yaitu kualitas moral yang baik, seperti kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Sokrates juga menekankan pentingnya menghormati otonomi pasien, yaitu hak pasien untuk membuat keputusan sendiri tentang kesehatan dan pengobatan mereka, tanpa paksaan atau manipulasi dari dokter. Lebih lanjut, Sokrates mengajarkan bahwa dokter harus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan pasien, yaitu kondisi fisik, mental, dan sosial yang baik, serta mencegah dan mengurangi penderitaan pasien.
Plato, salah satu murid Sokrates, melanjutkan dan mengembangkan pemikiran gurunya. Mengajarkan metode dialektika, namun dengan pendekatan yang lebih idealis. Plato percaya bahwa ada dunia ide yang abadi, sempurna, dan tidak berubah, yang merupakan sumber dari segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Plato juga berpendapat bahwa manusia memiliki jiwa yang berasal dari dunia ide, dan jiwa ini dapat mengenal kebenaran melalui akal.
Dalam konteks kedokteran, Plato mengembangkan konsep tentang keseimbangan tubuh, jiwa, dan pikiran sebagai syarat kesehatan. Mengajarkan bahwa dokter harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang alam, manusia, dan penyakit, serta memiliki etika yang baik dan bertanggung jawab terhadap pasien. Plato juga mengkritik praktik kedokteran yang hanya berdasarkan pengalaman dan empirisme, tanpa memperhatikan prinsip-prinsip filosofis dan rasional.
Aristoteles, murid Plato yang kemudian menjadi guru Alexander Agung, memiliki pemikiran yang lebih realis dibandingkan gurunya. Aristoteles berpendapat bahwa dunia nyata adalah sumber dari segala pengetahuan, dan pengetahuan ini dapat diperoleh melalui pengamatan, pengalaman, dan eksperimen. Aristoteles juga percaya bahwa segala sesuatu memiliki bentuk dan materi, serta tujuan dan fungsi tertentu. Ia menekankan pentingnya logika dan klasifikasi sebagai cara untuk memahami dan menjelaskan fenomena alam.
Dalam dunia kedokteran, Aristoteles berperan dalam mengembangkan teori humoralisme. Teori ini menyatakan bahwa kesehatan manusia ditentukan oleh keseimbangan empat cairan tubuh (humor), yaitu darah (sanguis), lendir (flegma), empedu kuning (kholera), dan empedu hitam (melankholia). Masing-masing humor berkaitan dengan salah satu unsur alam (udara, air, api, dan tanah), salah satu musim (semi, dingin, panas, dan gugur), dan salah satu sifat kepribadian (sanguinis, flegmatis, koleris, dan melankolis).
Berdasarkan teori humoralisme, apabila salah satu humor tidak seimbang atau tercemar, maka akan timbul penyakit. Dokter-dokter Yunani saat itu berusaha untuk mengembalikan keseimbangan humor dengan cara memberikan obat-obatan dari bahan-bahan alami, melakukan tindakan medis seperti pembekaman (penghisapan darah dengan teknik tertentu), melakukan pembedahan (pembukaan luka atau abses untuk mengeluarkan nanah atau cairan lainnya), atau memberikan nasihat-nasihat tentang gaya hidup sehat.
Selain itu, Aristoteles juga mengembangkan konsep tentang tiga jiwa (vegetatif, sensitif, dan rasional) yang menggerakkan tubuh manusia, dan fungsi-fungsi organ tubuh yang berkaitan dengan jiwa-jiwa ini.
Meskipun Plato dan Aristoteles memiliki pandangan yang berbeda, kontribusi mereka saling melengkapi dalam dunia kedokteran. Plato memberikan landasan filosofis dan etis bagi kedokteran, sedangkan Aristoteles memberikan landasan ilmiah dan empiris bagi kedokteran.
Ketiga filsuf ini (Sokrates, Plato, dan Aristoteles), memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dasar-dasar ilmu kedokteran yang di kenal saat ini. Sokrates memberikan metode berpikir kritis dan etika kedokteran, Plato menyumbangkan konsep keseimbangan tubuh, jiwa, dan pikiran, serta pentingnya pengetahuan yang komprehensif, sedangkan Aristoteles memberikan pendekatan ilmiah dan sistematis dalam memahami tubuh manusia dan penyakit.
Pemikiran-pemikiran mereka tidak hanya mempengaruhi perkembangan kedokteran di zaman Yunani kuno, tetapi juga terus memiliki dampak pada praktik kedokteran hingga saat ini. Metode anamnesis yang berakar dari dialektika Sokrates masih digunakan dalam diagnosis medis modern. Konsep keseimbangan dari Plato masih relevan dalam pendekatan holistik terhadap kesehatan. Sementara itu, pendekatan ilmiah dan sistematis Aristoteles menjadi dasar bagi penelitian medis dan klasifikasi penyakit yang kita kenal saat ini.
Tokoh besar dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya adalah Aleksander Agung yang merupakan murid Aristoteles. Aleksander Agung menghasilkan perubahan mendasar terhadap ilmu kedokteran, yaitu lebih menekankan pada metode empiris bagi dokter dalam mempraktekkan teknik pengobatan dan penyembuhan.
Mengembangkan kemampuan dokter dalam mengamati dan membuat sistematikan yang terdiri dari tiga langkah fundamental dalam proses pencarian penyakit pada pasien, yaitu anamnesa (mengetahui sejarah kasus penyakit), pemeriksaan fisik (mengunjungi orang sakit dan melakukan pemeriksaan) dan membuat diagnosa (membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah diperoleh).
Pada masa Aleksander Agung, perkembangan dunia kedokteran semakin menghilangkan peran magis dalam proses penyembuhan penyakit, dan menjadi lebih ilmiah dalam membuat kesimpulan penyakit dengan menggunakan dan menganalisis data yang diperoleh. Ilmu kedokteran Yunani bersifat rasional, empiris, dan sistematis, berbeda dengan ilmu kedokteran di Mesir dan Tiongkok kuno yang lebih bersifat magis, religius, dan holistik. Hal ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak dokter dan ilmuwan di masa depan, seperti Ibnu Sina, yang mengagumi kecerdasan Aleksander Agung di bidang ilmu kedokteran (Kelly. 2010).
4. 1. 6. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Romawi
Migrasi para praktisi kedokteran Yunani ke Roma pada masa awal Kekaisaran Romawi telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu kedokteran di wilayah Romawi. Tokoh-tokoh seperti Archagatos, Asclepiades, dan Soranos menjadi pionir dalam praktik kedokteran di Roma. Apresiasi terhadap kontribusi mereka tercermin dalam pemberian kewarganegaraan Romawi kepada semua praktisi asing bebas pada tahun 46 SM, serta pembebasan dari kewajiban pajak dan tugas publik pada abad-abad berikutnya (Supady. 2020).
Heryant (2015) mencatat bahwa sebagian besar praktisi kedokteran di Roma Kuno memiliki akar budaya Yunani, dan banyak yang mengadopsi pendekatan Hippokratik dalam praktik mereka. Teori humoralisme, yang menekankan keseimbangan empat cairan tubuh (empedu hitam, empedu kuning, lendir, dan darah), menjadi dasar dalam diagnosis dan pengobatan berbagai penyakit pada masa itu.
Dokter kala itu memainkan peran sentral dalam pengembangan sistem kesehatan publik. Mendirikan rumah sakit untuk merawat warga sipil dan prajurit yang terluka, serta membuat berbagai inovasi dalam bidang bedah, seperti penggunaan alat-alat bedah yang lebih canggih, pemanfaatan obat bius lokal atau umum dari bahan-bahan alami (seperti opium atau mandragora), penerapan teknik-teknik antiseptik untuk mencegah infeksi (seperti membersihkan luka dengan air mendidih atau cuka), serta penggunaan teknik-teknik penjahitan untuk perawatan luka atau bedah.
Salah satu tokoh ilmu kedokteran Romawi yang paling terkenal adalah Galen. Ia adalah seorang dokter yang melayani beberapa kaisar Romawi, seperti Marcus Aurelius, Commodus, dan Septimius Severus. Galen menulis lebih dari 500 buku tentang ilmu kedokteran yang menjadi rujukan utama bagi para dokter. Ia mengembangkan teori humoralisme dengan menambahkan konsep temperamen (keadaan tubuh yang dipengaruhi oleh humor) dan kompleksion (keadaan tubuh yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan). Galen juga melakukan banyak eksperimen pada hewan untuk mempelajari anatomi dan fisiologi tubuh manusia.
Hadi (2019) menyatakan bahwa buku-buku Galen menjadi standar pengobatan di Eropa selama berabad-abad. Galen mengembangkan sistem yang komprehensif tentang fisiologi, patologi, dan pengobatan dengan menggabungkan pengetahuan dari Hipokrates, Aristoteles, dan sekolah-sekolah medis lainnya, serta menambahkannya dengan hasil-hasil eksperimennya sendiri.
Kelly (2010) menjelaskan bahwa Galen adalah orang pertama yang melakukan pembedahan otak dan mata, serta operasi katarak, meletakkan dasar standar untuk kedokteran modern, seperti sterilisasi alat-alat, penggunaan obat-obatan, dan etika medis, menjadi pelopor dalam pembuatan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dengan mencampur beberapa bahan, yang sekarang ini disebut sebagai Farmasi Galenika, dan menemukan formula krim dingin, yang secara esensial sama dengan krim yang dikenal saat ini (Tim Farmasi UII, 2018).
Kelly (2010), menyebutkan bahwa karya-karya Galen memiliki pengaruh besar dalam kedokteran Eropa, Islam, dan Timur. Tulisan-tulisannya banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Latin, Arab, Persia, dan Suryani. Ia juga dihormati sebagai otoritas medis oleh para dokter, sarjana, dan filsuf selama berabad-abad, masih dalam tulisan Kelly, bahwa dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran, Romawi menjadi lebih baik tidak hanya dalam pengobatan, tetapi juga dalam penerapan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan, seperti pengolahan air bersih, penyediaan tempat mandi, pengelolaan sampah, dan sanitasi.
4. 1. 7. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Islam
Awal mula konsep magis-religius tentang penyakit dimulai sejak zaman prasejarah, di mana fenomena kesehatan dikaitkan dengan sebab-sebab gaib. Seiring berkembangnya peradaban Yunani, muncul pendekatan rasional terhadap dunia kedokteran yang secara bertahap mencakup pengobatan. Peradaban Mesir juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan perspektif pengobatan rasional dan naturalis.
Dalam peradaban Yunani pra-Hipokrates, terdapat berbagai istilah untuk merujuk pada agen penyembuhan, seperti iatromantis, pholarcos, ouliads, dan asclepiads. Seiring waktu, penyembuhan melalui ramalan secara bertahap digantikan oleh teknik pengobatan baru yang didasarkan pada teori rasional tentang kesehatan dan penyakit yang disebut techne iatrike (Castro., & Arias. 2014).
Islam merupakan agama dan peradaban yang berkembang pesat di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Setelah kemunculan Islam, ilmu kedokteran mengalami kemajuan yang luar biasa. Pendekatan kedokteran Islam menggabungkan pengetahuan dari berbagai sumber, seperti Al-Qur'an (kitab suci umat Islam), Hadis (perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW), warisan pengobatan dari peradaban Yunani, Romawi, Persia, India, dan Tiongkok, dan dengan melakukan penelitian, eksperimen, dan observasi, yang mencakup berbagai bidang ilmu kedokteran, seperti anatomi (struktur tubuh), fisiologi (fungsi tubuh), patologi (penyakit tubuh), farmakologi (obat-obatan), dietetik (makanan sehat), terapi (pengobatan), bedah (operasi), oftalmologi (ilmu mata), dan psikiatri (ilmu jiwa), yang dengan pendekatan holistik ini memungkinkan kedokteran Islam untuk berkembang secara komprehensif.
Kedokteran Islam memiliki sejarah panjang yang berlangsung dari abad ke-7 hingga abad ke-16 Masehi. Selama periode ini, kontribusi ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kedokteran dunia. Mereka tidak hanya melestarikan dan menerjemahkan karya-karya klasik, tetapi juga melakukan inovasi dan penemuan baru yang memperkaya khazanah ilmu kedokteran global.
Keberhasilan kedokteran Islam dalam mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai sumber dan melakukan penelitian empiris menjadikannya sebagai jembatan penting antara kedokteran kuno dan kedokteran modern. Warisan intelektual ini terus memberikan inspirasi dan landasan bagi perkembangan ilmu kedokteran hingga saat ini.
4. 1. 7. 1. Masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin
Kedokteran Islam memiliki akar yang kuat sejak masa Nabi Muhammad SAW, yang merupakan utusan Allah SWT dan teladan bagi umat Islam. Beliau mengajarkan pentingnya kesehatan bagi manusia melalui beberapa aspek, seperti pengobatan, pencegahan penyakit, menjaga kebersihan, dan mengonsumsi makanan yang halal dan baik (Kasule. 2008). Nabi Muhammad SAW juga memberikan contoh-contoh pengobatan, baik yang dilakukan oleh beliau sendiri maupun oleh para sahabatnya, seperti penggunaan madu, kurma, daun bidara, minyak zaitun, dan bekam (Rahman. 1997).
Beberapa hadis yang berkaitan dengan ilmu kedokteran disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, di antaranya:
"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat pada penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah SWT." (HR. Bukhari)
"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya." (HR. Muslim)
"Berobatlah kalian, wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya kecuali satu penyakit yaitu usia tua." (HR. Abu Dawud)
Hadis-hadis ini menjadi landasan penting bagi perkembangan kedokteran Islam selanjutnya, mendorong umat Islam untuk terus mencari dan mengembangkan metode pengobatan (Iqbal. 2009).
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, perkembangan kedokteran Islam berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin, yaitu masa pemerintahan empat khalifah penerus beliau, yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra. Pada periode ini, ilmu kedokteran Islam masih bersifat sederhana dan tradisional. Para dokter masih mengandalkan pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, melanjutkan praktik-praktik yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW (Syed. 2002).
Meskipun demikian, seiring dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam, terjadi interaksi yang signifikan antara dokter-dokter muslim dengan dokter dari berbagai peradaban lain, seperti Persia, Yunani, Romawi, India, dan Tiongkok. Interaksi ini membuka peluang bagi pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam bidang kedokteran (Pormann., & Savage-Smith. 2007). Proses akulturasi ini menjadi katalis penting bagi perkembangan ilmu kedokteran Islam di masa-masa selanjutnya, memadukan ajaran dasar dari Nabi Muhammad SAW dengan pengetahuan medis dari berbagai peradaban, yang pada akhirnya membentuk karakteristik unik kedokteran Islam (Majeed, 2005).
4. 1. 7. 2. Masa Kekhalifahan Umayyah
Kekhalifahan Umayyah, yang memerintah wilayah Islam dari tahun 661 hingga 750 Masehi, menandai era baru dalam perkembangan ilmu kedokteran Islam. Pada masa ini, terjadi proses penerjemahan literatur ilmiah dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab, yang menjadi katalis bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam (Haddad. 2018).
Salah satu tokoh penting dalam kekhalifahan Umayyah yang berkontribusi signifikan terhadap perkembangan ini adalah Umar bin Abdul Aziz (memerintah 717-720 M). Beliau memerintahkan penerjemahan buku-buku kedokteran, yang kemudian ditulis ulang oleh Pangeran Aleksandria Harun. Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam transfer pengetahuan dari peradaban sebelumnya ke dalam khazanah keilmuan Islam (Pormann., & Savage-Smith. 2007).
Di antara tokoh ilmu kedokteran Islam yang menonjol pada masa Umayyah adalah Al-Harith bin Kaladah (wafat sekitar tahun 777 M). Sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW dan dokter pribadi khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan, Al-Harith memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu kedokteran Islam. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Persia dan India, yang memungkinkannya menguasai berbagai cabang ilmu kedokteran, termasuk bedah, farmakologi, oftalmologi, dan psikiatri (Syed. 2002).
Keahlian Al-Harith bin Kaladah yang mencakup berbagai disiplin ilmu kedokteran mencerminkan karakteristik holistik dari pendekatan kedokteran Islam pada masa itu. Pengetahuannya yang luas tidak hanya berkontribusi pada praktik pengobatan di istana khalifah, tetapi juga berperan dalam meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran Islam di masa-masa selanjutnya (Majeed. 2005).
4. 1. 7. 3. Masa Kekhalifahan Abbasiyah
Kekhalifahan Abbasiyah, yang memerintah wilayah Islam dari tahun 750 hingga 1258 Masehi, menandai era keemasan ilmu kedokteran Islam. Pada masa ini, terjadi perkembangan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya kedokteran, yang ditandai dengan munculnya banyak cendekiawan dan dokter yang menghasilkan karya-karya monumental (Pormann., et.all. 2007).
Salah satu faktor kunci yang mendukung kemajuan ilmu kedokteran Islam pada masa Abbasiyah adalah pembangunan Baitul Hikmah. Lembaga ilmu pengetahuan ini didirikan oleh khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan kemudian diperluas oleh khalifah Al-Ma'mun (813-833 M). Baitul Hikmah menjadi pusat penerjemahan naskah-naskah ilmiah dari berbagai bahasa, terutama Yunani, ke dalam bahasa Arab, yang memfasilitasi transfer dan pengembangan pengetahuan (Haddad. 2018).
Di antara tokoh ilmu kedokteran Islam yang paling terkemuka pada masa Abbasiyah adalah Muhammad bin Zakariya Ar-Razi (854-925 M). Dikenal sebagai bapak kedokteran Islam, Ar-Razi adalah seorang dokter, arsitek, imam, dan penulis produktif yang menghasilkan lebih dari 200 buku tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan, dengan fokus utama pada ilmu kedokteran. Kontribusi Ar-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran ditandai oleh pendekatan eksperimental dan observasional yang diterapkan (Tibi. 2006).
Ar-Razi dikenal atas beberapa penemuan revolusionernya dalam bidang kedokteran, termasuk penggunaan alkohol sebagai antiseptik, kapas sebagai perban, termometer untuk mengukur suhu tubuh, dan teknik bedah batu ginjal. Karya-karya monumentalnya, seperti Kitab Al-Hawi Fi At-Tibb (Buku Besar Kedokteran), Kitab Al-Mansuri Fi At-Tibb (Buku Kedokteran untuk Al-Mansur), dan Kitab Al-Judari Wa Al-Hasbah (Buku Tentang Cacar dan Campak), menjadi rujukan utama bagi dokter-dokter selama berabad-abad (Syed. 2002).
Tokoh ilmu kedokteran Islam lainnya yang sangat berpengaruh pada masa Abbasiyah adalah Abu Ali Al-Husain bin Abdullah bin Sina (980-1037 M), yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna. Ibnu Sina, seorang polymath, berkontribusi signifikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran, filsafat, astronomi, dan matematika. Ia menghasilkan lebih dari 450 buku, dengan fokus utama pada ilmu kedokteran dan filsafat (Majeed. 2005).
Pendekatan Ibnu Sina dalam pengembangan ilmu kedokteran ditandai oleh sistematisasi dan penyempurnaan teori-teori sebelumnya. Ia juga berkontribusi dalam penemuan obat-obatan dan teknik pengobatan baru untuk berbagai penyakit, termasuk asma, diabetes, kanker, dan gangguan jiwa. Karya-karya klasiknya dalam bidang kedokteran, seperti Kitab Asy-Syifa (Buku Penyembuhan) dan Kitab Al-Qanun Fi At-Tibb (Buku Hukum Kedokteran), menjadi referensi utama dalam pendidikan dan praktik kedokteran di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad (Pormann., et.all. 2007).
Perkembangan ilmu kedokteran pada masa Kekhalifahan Abbasiyah mencerminkan sintesis yang unik antara warisan pengetahuan dari peradaban sebelumnya dan inovasi yang dihasilkan oleh para cendekiawan Muslim. Era ini ditandai oleh pendekatan ilmiah yang kuat, eksperimentasi, dan dokumentasi yang sistematis, yang meletakkan dasar bagi kemajuan ilmu kedokteran modern.
4. 1. 7. 4. Masa Kekhalifahan Utsmaniyah
Kekhalifahan Utsmaniyah adalah dinasti yang memerintah wilayah Islam dari tahun 1299 hingga 1923 Masehi. Pada masa ini, ilmu kedokteran Islam masih tetap berkembang meskipun tidak sepesat pada masa Abbasiyah. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh dari ilmu kedokteran Eropa yang mulai masuk ke wilayah kekuasaan Utsmaniyah melalui perdagangan dan diplomasi (Shefer-Mossensohn, 2009). Namun demikian, masih ada beberapa cendekiawan dan dokter yang menghasilkan karya-karya penting dalam bidang ilmu kedokteran. Salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu kedokteran Islam pada masa Utsmaniyah adalah pembangunan madrasah-madrasah, institusi pendidikan tinggi yang mengajarkan berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran. Lembaga-lembaga ini berperan penting dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam (Ihsanoglu. 2004).
Di antara tokoh ilmu kedokteran Islam yang menonjol pada masa Utsmaniyah adalah Serafeddin Sabuncuoglu (1385-1470 M). Sebagai dokter obstetri, ginekologi, dan ahli bedah, Sabuncuoglu menghasilkan karya monumental berjudul Cerrahiyyetu'l Haniyye, yang merupakan buku ilmu bedah bergambar pertama. Buku ini memuat berbagai prosedur operasi bedah, seperti amputasi, trepanasi, dan sirkumsisi, dilengkapi dengan ilustrasi detail (Uzel, 1992).
Tokoh penting lainnya adalah Ali bin Abbas Al-Majusi (930-994 M), yang dikenal dengan nama Haly Abbas. Karyanya yang paling terkenal, Kitab Al-Maliki Fi At-Tibb, merupakan ensiklopedi kedokteran komprehensif yang mencakup berbagai aspek seperti anatomi, fisiologi, patologi, farmakologi, dietetik, terapi, dan bedah. Karya ini menjadi referensi penting dalam pendidikan dan praktik kedokteran selama berabad-abad (Pormann., et.all. 2007).
Perkembangan ilmu kedokteran pada masa Utsmaniyah mencerminkan sintesis antara tradisi kedokteran Islam klasik dan pengaruh baru dari Eropa. Era ini ditandai oleh inovasi dalam teknik bedah, pengembangan farmakologi, dan peningkatan pemahaman tentang anatomi dan fisiologi manusia.
4. 1. 7. 5. Masa Islam Modern
Ilmu kedokteran Islam telah mengalami perjalanan panjang yang penuh dinamika, mulai dari masa kejayaannya pada abad ke-7 hingga ke-16, hingga menghadapi berbagai tantangan pada era modern. Kontribusi ilmuwan muslim dalam berbagai bidang pengetahuan, khususnya kedokteran, selama periode tersebut sungguh menakjubkan dan patut menjadi bahan kajian mendalam.
Pada abad ke-7, Islam muncul dari gurun Semenanjung Arab dan berhasil menaklukkan kekaisaran Mesir, Persia, Romawi, dan Timur Dekat kuno. Peradaban Islam dengan cepat mengintegrasikan unsur-unsur budaya dari wilayah-wilayah tersebut ke dalam identitasnya sendiri. Antara abad ke-7 hingga ke-12, dunia Islam menjadi pusat peradaban yang gemilang, dengan pencapaian luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, filsafat, dan kesenian. Meskipun bahasa Arab menjadi lingua franca, peradaban Islam tetap memperkaya warisannya dengan unsur-unsur dari Yunani, Romawi, Yahudi, Kristen, dan Timur Dekat.
Kedokteran menjadi bagian integral dari kebudayaan Islam abad pertengahan. Ilmu kedokteran Islam dibangun di atas warisan yang ditinggalkan oleh para dokter dan cendekiawan Yunani dan Romawi. Para dokter dan cendekiawan Islam sangat dipengaruhi oleh pemikiran Galen dan Hippocrates, serta para cendekiawan Yunani dari Aleksandria, Mesir. Cendekiawan Islam menerjemahkan karya-karya tersebut dari bahasa Yunani ke bahasa Arab, kemudian mengembangkan pengetahuan medis baru berdasarkan teks-teks tersebut.
Untuk memudahkan pemahaman dan pengajaran tradisi Yunani, para cendekiawan Islam menyusun dan mensistematisasi pengetahuan medis Greco-Romawi yang luas dan terkadang tidak konsisten dengan menulis ensiklopedia dan ringkasan. Melalui versi Arab inilah para dokter Barat kemudian mempelajari kedokteran Yunani, termasuk karya-karya Hippocrates dan Galen.
Antara abad ke-8 dan ke-13, para cendekiawan Muslim memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu kedokteran, meliputi kedokteran eksperimental, uji klinis, serta pemahaman anatomi dan fisiologi. Beberapa tokoh terkemuka dalam perkembangan ilmu kedokteran Islam adalah:
Al-Razi (865-925 M) yang menulis Kitab al-Hawi fi al-tibb (Buku Komprehensif tentang Kedokteran), sebuah buku teks 23 jilid yang menjadi kurikulum utama kedokteran di sekolah-sekolah Eropa hingga abad ke-14.
Ibn Sina (980-1037 M) yang menulis Al-Qanun fi al-Tibb (Kanon Kedokteran), sebuah ensiklopedia kedokteran yang menggabungkan pengamatan pribadinya dengan informasi medis dari Galen dan filsafat Aristoteles.
Mansur (1380-1422 M) yang menulis buku anatomi berilustrasi warna pertama.
Namun, setelah abad ke-16, dunia Islam mengalami serangkaian peristiwa yang berkontribusi pada kemunduran politik dan ekonomi, yang pada gilirannya berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran. Peristiwa-peristiwa ini meliputi Perang Salib, invasi Mongol, bencana alam, hilangnya dominasi perdagangan internasional, kapitulasi Kekaisaran Ottoman terhadap kepentingan Barat, serta kebangkitan imperialisme Eropa.
Dalam konteks ini, pernyataan Ibn Khaldun (1332-1406), sejarawan Arab terkemuka, menjadi sangat relevan. Ia menyatakan bahwa "Ilmu pengetahuan hanya berkembang dalam masyarakat yang makmur." Sejarah telah berulang kali membuktikan kebenaran pernyataan ini, di mana perkembangan ilmu pengetahuan selalu sejalan dengan kejayaan dan kemakmuran suatu imperium atau bangsa. Infrastruktur yang dihasilkan oleh kemakmuran menjadi landasan bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Pada masa modern, ilmu kedokteran Islam mengalami kemunduran akibat penjajahan dan dominasi Barat terhadap dunia Islam. Ilmu kedokteran Barat menjadi lebih unggul dan populer. Namun demikian, masih ada beberapa cendekiawan dan dokter yang berusaha untuk menghidupkan kembali ilmu kedokteran Islam dengan cara melakukan penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu kedokteran Islam dalam praktik medis modern.
Dua tokoh penting dalam upaya revitalisasi ilmu kedokteran Islam pada masa modern adalah:
Muhammad Hamidullah (1908-2002), seorang dokter, sejarawan, ahli hukum, dan penulis asal India. Ia merupakan salah satu pendiri Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan menulis banyak buku tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama ilmu kedokteran Islam. Karyanya yang terkenal, The Prophet's Establishing a State and His Succession, membahas konsep-konsep politik, sosial, ekonomi, dan kesehatan dalam Islam.
Abdul Latif Al-Baghdadi (1920-2010), seorang dokter, ahli farmakologi, dan penulis asal Irak. Ia merupakan salah satu pelopor dalam bidang farmakologi klinis dan toksikologi di dunia Arab. Karyanya yang terkenal, History of Medicine in Iraq (Sejarah Kedokteran di Irak), membahas perkembangan ilmu kedokteran di Irak sejak zaman pra-Islam hingga zaman modern.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, warisan ilmu kedokteran Islam tetap memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu kedokteran global. Upaya untuk menghidupkan kembali dan mengintegrasikan ilmu kedokteran Islam dengan praktik medis modern terus dilakukan oleh para cendekiawan dan praktisi kesehatan Muslim kontemporer.
Kekayaan pengetahuan dan metodologi yang dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim terdahulu dapat memberikan perspektif baru dan inspirasi dalam menghadapi tantangan kesehatan modern. Integrasi antara kearifan tradisional dan kemajuan teknologi modern berpotensi menghasilkan pendekatan holistik dalam praktik kedokteran.
Dimasa yang akan datang, diperlukan upaya sistematis dalam penelitian, pengembangan kurikulum, dan kolaborasi internasional untuk mengeksplorasi dan merevitalisasi khazanah ilmu kedokteran Islam. Dengan demikian, generasi yang akan datang tidak hanya beromantisme semata dengan menghormati warisan intelektual masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi dalam pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif dan manusiawi di masa depan.
4. 1. 8. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Pembaharuan Eropa (Zaman Renaisans)
Ilmu kedokteran telah mengalami evolusi yang signifikan sejak zaman Renaisans hingga era modern. Perjalanan ini ditandai oleh penemuan-penemuan revolusioner dan kemajuan teknologi yang mengubah wajah praktik medis secara fundamental. Pada zaman ini, Eropa mengalami kebangkitan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan budaya setelah mengalami masa kegelapan pada Abad Pertengahan. Ilmu kedokteran di Eropa juga mengalami kemajuan yang besar pada zaman ini dengan adanya banyak cendekiawan dan dokter yang melakukan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu kedokteran.
Zaman Renaisans menjadi titik balik bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, termasuk kedokteran, setelah mengalami masa kegelapan pada Abad Pertengahan. Salah satu faktor pendorong utama adalah penemuan mesin cetak, yang memfasilitasi penyebaran pengetahuan secara lebih luas dan cepat. Hal ini memungkinkan transmisi ilmu kedokteran Islam ke Eropa, yang kemudian menjadi dasar bagi kemajuan selanjutnya.
Dua tokoh sentral dalam revolusi ilmu kedokteran pada era Renaisans adalah Andreas Vesalius dan William Harvey. Vesalius (1514-1564), seorang dokter dan ahli anatomi asal Belgia, mempelopori anatomi modern melalui praktik diseksi tubuh manusia secara langsung. Karyanya yang monumental, De Humani Corporis Fabrica (Tentang Struktur Tubuh Manusia), memuat ilustrasi anatomi yang sangat detail dan akurat, mengubah paradigma pemahaman struktur tubuh manusia.
William Harvey (1578-1657), seorang dokter dan ahli fisiologi Inggris, memberikan kontribusi besar dalam bidang fisiologi modern. Melalui eksperimen dan observasi sistematis, Harvey berhasil mengungkap sistem peredaran darah dalam tubuh manusia. Temuannya ini dipaparkan dalam karya fenomenal De Motu Cordis (Tentang Gerakan Jantung), yang menjelaskan teori sistem peredaran darah secara komprehensif.
4. 1. 9. Perkembangan Ilmu Kedokteran Zaman Modern
Memasuki era modern, ilmu kedokteran mengalami akselerasi perkembangan yang luar biasa, sejalan dengan kemajuan pesat dalam bidang teknologi, industri, komunikasi, dan transportasi. Cakupan ilmu kedokteran meluas, mencakup berbagai bidang spesialis seperti mikrobiologi, imunologi, farmakologi, genetika, dan bioteknologi. Kolaborasi internasional dan interdisipliner menjadi kunci dalam mendorong inovasi dan penemuan baru.
Alexander Fleming (1881-1955), dokter dan ahli mikrobiologi asal Skotlandia, menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam kedokteran modern. Penemuannya yang revolusioner adalah penisilin, antibiotik pertama yang efektif melawan bakteri patogen. Karya ilmiahnya, On the Antibacterial Action of Cultures of a Penicillium, with Special Reference to their Use in the Isolation of B. influenzae, menjadi landasan bagi pengembangan terapi antibiotik yang menyelamatkan jutaan nyawa.
Dalam bidang genetika, James Watson (1928) dan Francis Crick (1916-2004) memberikan kontribusi yang mengubah paradigma pemahaman kita tentang dasar molekuler kehidupan. Penemuan struktur Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) oleh kedua ilmuwan ini, yang dipaparkan dalam artikel berjudul Molecular Structure of Nucleic Acids: A Structure for Deoxyribose Nucleic Acid, membuka era baru dalam genetika molekuler dan menjadi fondasi bagi perkembangan kedokteran genomik.
Perkembangan ilmu kedokteran di era modern menunjukkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengubah pemahaman kita tentang tubuh manusia dan penyakit. Penemuan-penemuan revolusioner seperti struktur anatomi yang akurat, sistem peredaran darah, antibiotik, dan struktur DNA telah membentuk dasar praktik kedokteran modern.
Kolaborasi interdisipliner, penelitian berbasis bukti, dan pemanfaatan teknologi mutakhir menjadi kunci dalam mengembangkan solusi medis yang lebih efektif dan personal.Tantangan ke depan meliputi pengembangan terapi gen, medicina presisi, kecerdasan buatan dalam diagnosis dan pengobatan, serta penanggulangan penyakit baru dan resistensi antimikroba. Dengan berpijak pada fondasi kuat yang dibangun oleh para pionir kedokteran, dokter msa depan memiliki peluang untuk menciptakan terobosan-terobosan baru yang akan membentuk masa depan pelayanan kesehatan.
4. 1. 10. Perkembangan Ilmu Kedokteran Indonesia
Kedokteran di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan beragam, yang mencerminkan perkembangan peradaban Indonesia sejak zaman kolonial hingga zaman modern.
4. 1. 10. 1. Zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) (1602 – 1798) sampai Pemerintahan Deandels
Dalam bukunya Loedin (2015), menyebutkan bahwa pada tahun 1798 Laksamana Madya Stavorinus menerbitkan karya tentang perjalanannya dari Belanda ke Hindia, mengunjungi Batavia, Semarang, Makassar, Ambon, dan Ternate antara 1774-1778. Stavorinus menggambarkan Batavia sebagai tempat tinggal yang tidak menyenangkan, tidak sehat, dan memiliki tingkat kematian tinggi. Tulisan Stovarinus tentang Batavia adalah tempat tinggal yang tidak menyenangkan, tidak sehat dan kematian yang sering terjadi. Ia berpendapat bahwa kondisi itulah yang menyebabkan Inggris tidak tertarik untuk merebut Batavia, bahkan disebutkan bahwa ketidaksehatan Batavia sudah cukup untuk menaklukkan bangsa lain yang ingin menguasai Batavia.
Disebutkan juga, seorang perwira Jerman yang bertugas di bawah komando Jenderal Jacob Abraham Uitenhage de Mist bernama Baron Karl von Wolzogen yang melakukan perjalanan dari Afrika ke Batavia pada Nopember 1790 menuliskan perasaan gembiranya saat naik kapal dan meninggalkan Batavia, yang dianggapnya sebagai tempat yang paling berbahaya dan kuburan bagi orang Jerman.
Karena banyaknya keluhan tentang kesehatan di Batavia, maka de Heeren Zeventienen (tuan tujuh belas, sebutan untuk dewan pimpinan VOC) mengirim dr. Jacobus Bontius (Jacob de Bondt) ke Batavia dan menjadi dokter pertama di Hindia. Selama di Batavia dr. Jacobus Bontius menulis buku Methodus Medendi, yang berisi tenatng sembilan belas penyakit yang popular di Batavia saat itu.
4. 1. 10. 2. Zaman Kolonial Belanda
Zaman kolonial Belanda merupakan periode ketika Indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda dari tahun 1602 hingga 1942. Pada masa tersebut, perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia masih sangat terbatas dan tidak merata. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengandalkan pengobatan tradisional yang bersumber dari pengetahuan lokal, tumbuh-tumbuhan, dan kepercayaan animisme. Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia, terutama yang bermukim di kota-kota besar dan berinteraksi dengan orang-orang Belanda, yang dapat menikmati pelayanan kesehatan modern yang disediakan oleh dokter-dokter Belanda atau Eropa.
Salah satu faktor penyebab ketimpangan kesehatan ini adalah kurangnya dokter pribumi yang memiliki pendidikan kedokteran formal. Pada awalnya, pemerintah kolonial Belanda tidak mengizinkan orang-orang pribumi untuk menempuh pendidikan kedokteran di universitas-universitas Belanda atau Eropa. Hanya beberapa orang pribumi yang beruntung dapat memperoleh kesempatan tersebut, seperti Mas Asmaoen, Mas Boenjamin, dan Abdul Rivai, yang menjadi dokter lulusan Belanda pertama pada awal abad ke-20.
Untuk mengatasi kekurangan dokter pribumi ini, pemerintah kolonial Belanda kemudian mendirikan sekolah-sekolah kedokteran khusus untuk orang-orang pribumi di Indonesia. Sekolah kedokteran pertama yang didirikan oleh Belanda adalah STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), yang berarti Sekolah untuk Pendidikan Dokter Pribumi. STOVIA didirikan pada tahun 1851 di Batavia (sekarang Jakarta) dengan tujuan untuk mencetak dokter-dokter pribumi yang dapat membantu dokter-dokter Belanda dalam menangani masalah kesehatan di Indonesia.
STOVIA merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, salah satu fakultas kedokteran tertua dan terkemuka di Indonesia. Beberapa tokoh nasional dan perintis kedokteran Indonesia merupakan lulusan STOVIA, seperti Mohammad Hatta, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Soetomo Tjokronegoro, dan Achmad Mochtar.
Selain STOVIA, pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan sekolah kedokteran lainnya untuk orang-orang pribumi di Indonesia, seperti NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), yang berarti Sekolah Dokter Hindia Belanda. NIAS didirikan pada tahun 1913 di Surabaya dengan tujuan untuk mencetak dokter-dokter pribumi yang dapat bertugas di daerah-daerah terpencil di Indonesia. NIAS merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, salah satu fakultas kedokteran terkemuka di Indonesia. Beberapa tokoh nasional dan perintis kedokteran Indonesia merupakan lulusan NIAS, seperti Soetarjo Kartohadikusumo, Soeharso, R.M. Soerachman Tjokroadisoerjo, dan Soeharto.
4. 1. 10. 3. Zaman Pendudukan Jepang
Zaman pendudukan Jepang merupakan periode ketika Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Pada masa tersebut, perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia mengalami kemunduran akibat kebijakan represif dan eksploitatif pemerintah pendudukan Jepang. Pihak Jepang menutup seluruh sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda dan menggantinya dengan institusi baru yang menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar.
Pemerintah pendudukan Jepang juga mengambil alih semua fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia dan memanfaatkannya untuk kepentingan militer. Selain itu, mereka melakukan berbagai eksperimen biologi dan kimia yang tidak manusiawi terhadap tawanan perang dan rakyat Indonesia.
Salah satu contoh kekejaman Jepang dalam bidang kedokteran adalah Unit 731, sebuah unit militer rahasia yang melakukan penelitian dan pengembangan senjata biologi dan kimia dengan menggunakan manusia sebagai subjek uji coba. Unit ini dipimpin oleh Shirō Ishii, seorang dokter dan jenderal Jepang yang dijuluki "Mengele dari Timur". Unit 731 melakukan berbagai eksperimen mengerikan, seperti menyuntikkan bakteri patogen, membekukan anggota tubuh, dan memotong organ tanpa anestesi. Korban Unit 731 diperkirakan mencapai lebih dari 10.000 orang, termasuk warga Cina, Korea, Mongolia, Rusia, dan Indonesia.
4. 1. 10. 4. Zaman Kemerdekaan
Periode kemerdekaan Indonesia, yang berlangsung dari tahun 1945 hingga 1949, merupakan masa krusial dalam perkembangan ilmu kedokteran di negara ini. Pada era tersebut, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kedaulatannya dari agresi militer Belanda dan sekutunya. Seiring dengan semangat nasionalisme yang menggelora, bidang kedokteran mengalami kemajuan yang signifikan.
Dokter-dokter pribumi, yang sebelumnya terpinggirkan oleh pemerintah kolonial, kini tampil sebagai ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Indonesia yang sedang berjuang. Mereka juga berperan aktif dalam pembentukan organisasi profesi kedokteran yang bersifat nasionalis, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).
Di antara tokoh-tokoh kedokteran yang menonjol pada masa itu, terdapat R.M. Soeharso (1908-1989) dan Tjipto Mangunkusumo (1896-1943). R.M. Soeharso, seorang dokter bedah dan pejuang kemerdekaan, dikenal sebagai pelopor di bidang ortopedi dan rehabilitasi. Kontribusinya yang signifikan terhadap perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia tercermin dalam pendirian Rumah Sakit Dr. Soeharso di Surakarta, yang merupakan rumah sakit ortopedi dan rehabilitasi pertama di negeri ini.
Sementara itu, Tjipto Mangunkusumo, selain dikenal sebagai dokter, juga merupakan seorang politisi dan pejuang kemerdekaan. Ia berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui keterlibatannya dalam pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) bersama Soekarno dan Mohammad Hatta. Dedikasi Tjipto Mangunkusumo terhadap rakyat Indonesia terabadikan dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, yang menjadi rumah sakit umum pertama di Indonesia.
4. 1. 10. 5. Zaman Modern
Pada era modern, pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1950 hingga saat ini, ilmu kedokteran di negara ini mengalami perkembangan yang signifikan. Kemajuan ini ditopang oleh pesatnya perkembangan teknologi, intensifnya kegiatan penelitian, serta peningkatan kualitas pendidikan kedokteran. Para praktisi medis Indonesia tidak hanya mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat, tetapi juga berkontribusi secara substansial dalam pengembangan ilmu kedokteran di tingkat global.
Seiring dengan kemajuan tersebut, terbentuk berbagai organisasi profesi kedokteran yang bersifat spesialis dan profesional. Di antaranya adalah Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Organisasi-organisasi ini berperan penting dalam mengembangkan kompetensi para dokter spesialis serta memajukan bidang kedokteran di Indonesia.
Di antara tokoh-tokoh kedokteran Indonesia yang memberikan kontribusi signifikan pada era modern, terdapat Arief Rachman Hakim (1921-2009) dan Sangkot Marzuki (1945-). Arief Rachman Hakim, seorang dokter sekaligus ahli patologi dan peneliti, dikenal sebagai pelopor dalam bidang patologi kanker di Indonesia. Kontribusinya yang besar dalam pengembangan ilmu dan pelayanan kanker membuatnya dijuluki "Bapak Onkologi Indonesia". Salah satu peran terbesarnya adalah pendirian Yayasan Kanker Indonesia (YKI), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan rehabilitasi kanker di Indonesia.
Sementara itu, Sangkot Marzuki, seorang dokter yang juga ahli biologi molekuler dan peneliti, dikenal sebagai pelopor dalam bidang bioteknologi dan genomika di Indonesia. Kontribusinya yang signifikan dalam penelitian dan pengembangan ilmu genetika membuatnya dianugerahi gelar "Bapak Genetika Indonesia". Salah satu pencapaian terbesarnya adalah pendirian Eijkman Institute for Molecular Biology, yang menjadi lembaga penelitian biologi molekuler pertama di Indonesia.
Kedua tokoh ini merepresentasikan kemajuan pesat ilmu kedokteran Indonesia di era modern, yang ditandai dengan spesialisasi yang semakin mendalam serta kontribusi yang semakin global.
4. 2. Perubahan Paradigma Ilmu Kedokteran
Seiring berjalannya waktu, ilmu kedokteran mengalami beberapa perubahan paradigma yang signifikan, mencerminkan perkembangan pengetahuan manusia, peradaban, dan konteks sosial yang melingkupinya. Paradigma dalam ilmu kedokteran merujuk pada cara pandang atau sudut pandang mengenai kesehatan, penyakit, serta pengobatan yang dianut oleh para praktisi dan ilmuwan di bidang kedokteran. Perubahan ini mencerminkan perjalanan panjang dari kepercayaan magis-religius menuju pendekatan yang lebih rasional dan empiris, hingga akhirnya mengintegrasikan aspek biopsikososial dalam memahami kesehatan manusia.
Berikut adalah perubahan paradigma ilmu kedokteran:
4. 2. 1. Paradigma Magis-Religius ke Paradigma Rasional-Empiris
Pada masa prasejarah dan Mesir kuno, ilmu kedokteran masih kental dengan kepercayaan magis dan religius. Penyakit pada masa itu diyakini sebagai akibat dari gangguan roh jahat, kutukan, atau dosa. Pengobatan pun dilakukan dengan cara-cara yang bersifat ritualistik, seperti tarian, mantra, penggunaan jimat, atau bahkan pengorbanan. Ini adalah cerminan dari pemahaman manusia yang belum mampu menjelaskan fenomena penyakit secara ilmiah.
Perubahan signifikan terjadi pada zaman Yunani dan Roma kuno, di mana ilmu kedokteran mulai beralih dari paradigma magis-religius menuju pendekatan yang lebih rasional dan empiris. Penyakit tidak lagi dianggap sebagai hasil kutukan atau dosa, melainkan disebabkan oleh faktor-faktor alamiah, seperti ketidakseimbangan humor atau cairan tubuh (darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam). Pengobatan mulai didasarkan pada observasi, eksperimen, dan logika. Tokoh-tokoh besar seperti Hippocrates dan Galen memiliki peran penting dalam perubahan paradigma ini. Mereka meletakkan dasar bagi pemahaman bahwa kesehatan dapat dipelajari dan ditangani melalui pendekatan ilmiah yang sistematis.
4. 2. 2. Paradigma Humoralisme ke Paradigma Mikrobiologi
Pada masa Islam dan Renaisans, paradigma humoralisme yang dikembangkan oleh Hippocrates dan Galen masih mendominasi. Kesehatan manusia diyakini bergantung pada keseimbangan empat cairan tubuh tersebut. Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-19, ilmu kedokteran mengalami revolusi besar dengan ditemukannya mikroorganisme sebagai penyebab penyakit oleh Louis Pasteur dan Robert Koch. Penemuan ini menggeser paradigma dari humoralisme menuju mikrobiologi.
Paradigma mikrobiologi menyatakan bahwa penyakit disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit yang masuk ke dalam tubuh manusia dan mengganggu fungsi normal sel-sel tubuh. Pengobatan pada era ini berfokus pada pemberian antibiotik atau vaksin untuk membunuh atau mencegah infeksi mikroorganisme tersebut. Revolusi mikrobiologi ini membawa dampak besar dalam pengendalian penyakit menular dan menjadi tonggak penting dalam sejarah ilmu kedokteran modern.
4. 2. 3. Paradigma Biomedis ke Paradigma Biopsikososial
Memasuki abad ke-20, ilmu kedokteran didominasi oleh paradigma biomedis, yang melihat penyakit sebagai gangguan fisik pada organ atau sistem tubuh yang dapat diukur secara objektif dengan bantuan alat-alat medis. Paradigma ini menempatkan tubuh manusia sebagai mesin yang rusak dan perlu diperbaiki dengan intervensi medis, seperti pemberian obat-obatan atau tindakan bedah.
Namun, pada akhir abad ke-20, paradigma ini mulai diakui memiliki keterbatasan. Penelitian mulai menunjukkan bahwa faktor-faktor psikologis dan sosial juga memainkan peran penting dalam kesehatan dan penyakit. Inilah yang menjadi dasar dari munculnya paradigma biopsikososial. Paradigma ini mengakui bahwa penyakit merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor biologis (seperti genetika, imunitas, hormon), psikologis (seperti emosi, stres, perilaku), dan sosial (seperti lingkungan, budaya, ekonomi). Dengan demikian, pendekatan pengobatan yang lebih holistik diperlukan, yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mental, spiritual, dan sosial pasien.
4. 3. Dampak Perubahan Paradigma terhadap Praktik Kedokteran
Perubahan paradigma ini tidak hanya berdampak pada cara pandang terhadap penyakit dan pengobatan, tetapi juga memengaruhi praktik kedokteran secara keseluruhan. Metode pengobatan yang didasarkan pada tahayul dan kepercayaan magis pada abad pertengahan, misalnya, berkontribusi pada kondisi kesehatan yang buruk, termasuk terjadinya epidemi massal dan penurunan kualitas hidup penduduk. Dalam konteks modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran telah membawa perubahan signifikan dalam cara penyakit didiagnosis dan diobati.
Seiring dengan berkembangnya ilmu kedokteran, masyarakat kini memiliki harapan besar terhadap kemajuan medis. Penemuan-penemuan baru dalam bidang genetika, farmakologi, dan teknologi medis telah membuka kemungkinan baru dalam pengobatan penyakit yang sebelumnya sulit diatasi. Namun, hal ini juga menimbulkan kecemasan, terutama terkait dengan dampak etis dan sosial dari penerapan teknologi medis tersebut.
Sejarah ilmu kedokteran menunjukkan bahwa pengetahuan medis tidak berkembang dalam ruang hampa, melainkan selalu dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan politik. Oleh karena itu, penting bagi para praktisi dan ilmuwan kedokteran untuk tidak hanya memahami aspek ilmiah dari profesi mereka, tetapi juga mempertimbangkan implikasi etis, sosial, dan budaya dari pekerjaan mereka. Dengan demikian, perubahan paradigma dalam ilmu kedokteran dapat terus berlanjut, membawa manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan manusia secara keseluruhan.
Penelusuran sejarah perkembangan paradigma ilmu kedokteran ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana pengetahuan medis dibentuk, bagaimana teknologi berkontribusi dalam kemajuan medis, serta bagaimana kondisi sosial, budaya, dan politik memengaruhi praktik kedokteran. Pandangan historis ini memungkinkan kita untuk lebih memahami tantangan dan peluang yang dihadapi oleh ilmu kedokteran di masa kini, serta membantu kita dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan.
Daftar Pustaka
Adams, F. (2000). Aphorisms by Hippocrates. Retrieved from http://classics.mit.edu/: http://classics.mit.edu/Hippocrates/aphorisms.1.i.html
Agarwal, R., Gao, G., DesRoches, C., & Jha, A. K. . (2010). Research Commentary - The Digital Transformation of Healthcare: Current Status and the Road Ahead. Information Systems Research, 796-809.
Almeida, P., Dokko, G., & Rosenkopf, L. (2014). Innovation and knowledge creation: Cross-sector partnerships in a changing world. Organization Science, 1448-1467.
Alvesson, M., & Sandberg, J. (2011). Generating Research Questions Through Problematization. Academy of Management Review, 36(2), 247-271. Academy of Management Review, 247-271.
Andrews, G. J. (2002). Medical Geography: A History and Future Prospective. Springer.
Aniket Sonsale, Reshma Bharamgoudar. (2017). Equipping Future Doctors: Incorporating Management and Leadership into Medical Curriculums in the United Kingdom. Perspect Med Educ , 71–75.
Anna Prenestini , Marco Sartirana, and Federico Lega. (2021). Involving Clinicians in Management: Assessing Views of Doctors and Nurses on Hybrid Professionalism in Clinical Directorates. BMC Health Services Research.
Annalise Weckesser, Elaine Denny. (2022). BJOG Perspectives – qualitative research: analysing data and rigour. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 1406-1407.
Antony Garelick, Leonard Fagin. (2005). The Doctor–Manager Relationship. Advances in Psychiatric Treatment , 241-249.
Audretsch, D. B., Bozeman, B., Combs, K. L., Feldman, M., Link, A. N., Siegel, D. S., Stephan, P., Tassey, G., & Wessner, C. (2002). The economics of science and technology. The Journal of Technology Transfer, 157.
Baker, L. R. (2013). The Medical Profession in Ancient Egypt. University of Texas Press.
Bashshur, R., Shannon, G., Krupinski, E., & Grigsby, J. (2013). Telemedicine: Theory and Practice. Springer.
Blackwell, E. (1895). Pioneer Work in Opening the Medical Profession to Women. Longman.
Booth, A., Sutton, A., & Papaioannou, D. (2016). Systematic Approaches to a Successful Literature Review (2nd ed. London: SAGE Publications Ltd.
Bungin, B. (2022). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik. dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Carlen, J. (2016). A Brief History of Entrepreneurship: The Pioneers, Profiteers, and Racketeers Who Shaped Our World. New York: Columbia University Press.
Carreón-Camacho, D. P. (2023). Health science professions. Universidad Autónoma del Estado de Hidalgo (UAEH), 5-7.
Chaudhary, A. R. (2015). Racialized Incorporation: The Effects of Race and Generational Status on Self-Employment and Industry-Sector Prestige in the United States. International Migration Review, 318-354.
Christensen, C. M., Grossman, J. H., & Hwang, J. (2009). The Innovator's Prescription: A Disruptive Solution for Health Care. New York. New York: McGraw-Hill Education.
Christian Voirol, Marie-France Pelland, Julie Lajeunesse, Jean Pelletier,Rejean Duplain, Josee Dubois, Silvy Lachance, Carole Lambert, Julia Sader & Marie-Claude Audetat. (2021). How Can We Raise Awareness of Physician’s Needs. Journal of Healthcare Leadership , 109-117.
Crammond, R. (2020). Entrepreneurship: Origins and Nature. In Advancing Entrepreneurship Education in Universities. Palgrave Macmillan, Cham.
Dees, J. G. (1998). Enterprising nonprofits. Harvard Business Review, 76(5), 55-67. Harvard Business Review, 55-67.
Dees, J. G. (2001). The Meaning of "Social Entrepreneurship". .
Dictionary, B. (2018, November 16). Business Dictionary. Retrieved from What is entrepreneurship? Definition and meaning: http://www.businessdictionary.com
DiMaggio, P. (1988). Interest and agency in institutional theory. Institutional patterns and organizations: Culture and environment, 3-22.
Dzwigol, H. (2020). Methodological and Empirical Platform of Triangulation in Strategic Management. Academy of Strategic Management Journal, 4.
Fausto Di Vincenzo, Daria Angelozzi, and Federica Morandi. (2021). The Microfoundations of Physicians Managerial Attitude. BMC Health Services Research, 2-8.
Francis, C. (2003). Kaiser Permanente: a Propensity for Partnership. British Medical Journal.
Frederick, H. H. (2018). The emergence of biosphere entrepreneurship: Are social and business entrepreneurship obsolete? International Journal of Entrepreneurship and Small Business, 289-313.
Gayatri K, Uma Warrier. (2022). Doctors as Leaders: How Essential is Leadership Training for Them?”. Vilakshan - XIMB Journal of Management, 20-27.
Ghaphery, J. L. (1997). History of Modern Medicine. Semantic Scholar.
Gordon, J. (1998). Manifesto for a New World Medicine. Subtle Energies & Energy Medicine Journal Archives, 27-50.
Grazia Antonacci, Julie Whitney, Matthew Harris, and Julie E. Reed. (2023). How do Healthcare Providers Use National Audit Data for Improvement? BMC Health Services Research.
Greenwood, R., Raynard, M., Kodeih, F., Micelotta, E. R., & Lounsbury, M. (2017). Institutional complexity and organizational responses. Academy of Management Annals, 317-371.
Gümüsay, A. A. (2015). Entrepreneurship from an Islamic Perspective. Journal of Business Ethics, 199-208.
Haddad, F. S. (2018). Arab medical schools in the period between Jundi-Shapur and the rise of Baghdad. Journal of the International Society for the History of Islamic Medicine, 23-30.
Hadi, L. (2019). Peran Harun Al Rasyd dalam Perkembangan Ilmu Kedokteran pada masa Dinasti Abbasiyah (768-809 M).
Haipeng Wang, Yinzi Jin, Dan Wang, Shichao Zhao, Xingang Sang, and Beibei Yuan. (2020). Job Satisfaction, Burnout, and Turnover Intention among Primary Care Providers in Rural China: Results from Structural Equation Modeling. BMC Family Practice, 1-10.
Hawa Edriss, Brittany N Rosales, Connie Nugent, Christian Conrad, Kenneth Nugent. (2017). Islamic Medicine in the Middle Ages. The American Journal of the Medical Sciences.
Helen Dickinson, Lain Snelling, Chris Ham, Peter Spurgeon. (2017). Are we nearly there yet? A study of the English National Health Service as professional bureaucracies. Journal of Health, Organization and Management, 430-444.
Helen Noble, Roberta Heale. (2019). Triangulation in research, with examples. BMJ, 67-68.
Henry, Z. (2015). 5 Millennial Entrepreneurs Who Started with Nothing and Made a Fortune. Inc.com.
Heryant. (2015, Januari 1). Perkembangan Rekam Medis Sebelum Abad Pertengahan. Retrieved from heryant.web.ugm.ac.id: https://heryant.web.ugm.ac.id/rekam-medis/sejarah-rekam-medis-bagian1-perkembangan-rekam-medis-sebelum-abad-pertengahan/
Herzlinger, R. E. (2006). Why Innovation in Health Care Is So Hard. Harvard Business Review, 58-66.
Hwang, J., & Christensen, C. M. . (2008). Disruptive Innovation In Health Care Delivery: A Framework For Business-Model Innovation. Health Affairs, 1329-1335.
Hyz, A., Lament, M. B., & Bukowski, S. I. (2021). Competitiveness and economic development in Europe: Prospects and challenges.
Ifrah Harun, Rosli Mahmood and Hishamuddin Md. Som. (2020). Role Stressors and Turnover Intention among Doctors in Malaysian Public Pospitals: Work–Family Conflict and Work Engagement as Mediators. Emerald Insight, 1-16.
Ihsanoglu, E. (2004). Science, Technology and Learning in the Ottoman Empire: Western Influence, Local Institutions, and the Transfer of Knowledge. Ashgate Publishing.
Ilia Nadareishvili, Theodore Bazas, Nicola Petrosillo, Vojko Berce, John Firth, Armando Mansilha, Mihaela Leventer, Alessandra Renieri, Mauro Zampolini, and Vassilios Papalois. (2023). The Medical Community’s Role in Communication Strategies during Health Crises—Perspective from European Union of Medical Specialists (UEMS). Infectious Disease Reports , 370–376.
Indonesia, K. K. (2019). Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.
Iniesta, I. (2011). Hippocratic Corpus. British Medical Journal, 342.
Investopedia. (2022, December 25). Investopedia. Retrieved from Entrepreneur: What it means to be one and how to get started: https://www.investopedia.com
Iqbal, M. (2008). The Science of Islam. Greenwood Publishing Group.
Ivan Spehar, Jan C Frich and Lars Erik Kjekshus. (2012). Clinicians Experiences of Becoming a Clinical Manager: a Qualitative Study. BMC Health Services Research, 1-12.
Jack, A. (2021). Business schools respond to a growing need to produce social-minded leaders. Retrieved from Financial Times: https://www.ft.com/content/496ff396-2c9b-4e81-b1f5-736bfa4e6baf
Jacobalis, S. (2005). Perkembangan Ilmu Kedokteran, Etika Medis dan Bioetika. Jakarta: Sagung Seto.
Jones, Campbell; Murtola, Anna-Maria. (2012). Entrepreneurship, crisis, critique. Cheltenham, Gloucestershire: Edward Elgar Publishing.
Kaplan, R. S., & Porter, M. E. . (2011). How to Solve the Cost Crisis in Health Care. Harvard Business Review, 46-64.
Kasule, O. H. (2008). Historical roots of the Islamic medical paradigm. International Medical Journal Malaysia, 7(1), 1-10. International Medical Journal Malaysia, 1-10.
Kelly, K. (2010). Sejarah Kedokteran dari Jaman Pra-Sejarah hingga Kini. Yogyakarta: Mitra Setia.
Khan, F. R., Munir, K. A., & Willmott, H. . (2007). Khan, F. R., Munir, K. A., & Willmott, H. (2007). A dark side of institutional entrepreneurship: Soccer balls, child labour and postcolonial impoverishment. Organization Studies, 1055-1077.
Koertge, J., & Tiwari, A. . (2020). Digital Health Entrepreneurship. In Biodesign. Cambridge: Cambridge University Press.
Lahiri, S. (2023). A Qualitative Research Approach is an Inevitable Part of Research Methodology : An Overview . International Journal For Multidisciplinary Research, 1-13.
Levy, D., & Scully, M. (2007). The institutional entrepreneur as modern prince: The strategic face of power in contested fields. Organization Studies, 971-991.
Limb, M. (2014). What is Deterring Doctors from Management Roles? British Medical Journal.
Lindgren, M., & Packendorff, J. (2009). Social constructionism and entrepreneurship: Basic assumptions and consequences for theory and research.
Loedin, A. (2005). Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.
Majeed, A. (2005). How Islam changed medicine. BMJ, 331(7531), 1486-1487. BMJ, 1486-1487.
Márcio Moutinho Abdalla, Leonel Gois Lima Oliveira, Carlos Eduardo Franco Azevedo, Rafael Kuramoto Gonzalez. (2018). Quality in Qualitative Organizational Research: types of triangulation as a methodological alternative. Administracao Ensino E Pesquisa, 66-98.
Mark Dodgson, David Gann. (2010). Josiah Wedgwood: The World's Greatest Innovator', Innovation: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford Academic.
Marko Orel, Manuel Mayerhoffer. (2021). Qualitative Research Methods for the Exploration of Coworking Environments. The Qualitative Report, 1364-1382.
McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. D. Van Nostrand Company, Inc.
Mehmood, T., Alzoubi, H. M., Alshurideh, M., Al-Gasaymeh, A., & Ahmed, G. . (2019). Schumpeterian entrepreneurship theory: Evolution and relevance. Academy of Entrepreneurship Journal , 1-10.
Miza Nina Adlini. Anisya Hanifa Dinda., Sarah Yulinda., Octavia Chotimah., Sauda Julia Merliyana. (2022). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka. Edumaspul : Jurnal Pendidikan, 974-980.
Monaghesh, E., & Hajizadeh, A. . (2020). Monaghesh, E., The role of telehealth during COVID-19 outbreak: a systematic review based on current evidence. BMC Public Health, 1-9.
Müllner, M. (2003). Doctors and Managers. British Medical Journal.
Myles Sergeant, PEng, MD, FCFP1 and Ana Hategan, MD, FRCPC. (2023). What Healthcare Leadership Can Do in a Climate. The Canadian College of Health Leaders, 190–194.
Navale, Ashok Bhanudas. (2013). Developing Entrepreneur Skills for Corporate Work Research Directions. Research Directions, 4.
Neergaard, H., & Ulhøi, J. P. (2007). Handbook of qualitative research methods in entrepreneurship. Edward Elgar Publishing.
Niazi, F. K. (2022). Medical Jousting: Going for the kill! Journal of Rawalpindi Medical College, 522-523.
Nicolaides, A. (2013). Assessing Medical Practice and Surgical Technology in the Egyptian Pharaonic Era. Semantic Scholar.
O’Dowd, A. (2022). Serving the Community: the Returning GP. British Medical Journal, 1.
Oparin, O. (2022). Religious Paradigms of Medieval Medicine. Semantic Scholar.
Organization, W. H. (2023). Global Strategy on Human Resources for Health: Workforce 2030. Geneva: WHO Press.
Orser, B. J., Elliott, C. . (2011). Feminine capital: Unlocking the power of women entrepreneurs. Stanford University Press.
Orser, B. J., Elliott, C., & Leck, J. . (2015). Feminist attributes and entrepreneurial identity. Gender in Management: An International Journal, 378-395.
Oster, W. (192I). The Evolution of Modern Medicine. Yale: The Yale University Press.
Penrose, E. T. (1959). The Theory of the Growth of the Firm. Oxford: Basil Blackwell.
Peter Lees, Stephen H Powis. (2017). Out of Darkness and into Enlightenment. BMJ Leader, 1-12.
Pormann, P. E., & Savage-Smith, E. (2007). Medieval Islamic medicine. Georgetown: Georgetown University Press.
Porter, M. E. (2010). What Is Value in Health Care? New England Journal of Medicine, 363(26), 2477-2481. New England Journal of Medicine, 2477-2481.
Porter, M. E., & Teisberg, E. O. . (2006). Redefining Health Care: Creating Value-Based Competition on Results. Boston: Harvard Business School Press. Boston: Harvard Business School Press.
Pratiwi, W. M. (2006). Sejarah Kedokteran dan Pendidikan Kedokteran (Dunia dan Indonesia). Retrieved from Biofar: https://biofar.id/sejarah-kedokteran-dan-pendidikan-kedokteran/
Pyrgakis, V. N. (2010). More is Not Better: Concerning Congresses. Hellenic J Cardio, 189-191.
Rahman, F. (1997). Health and medicine in the Islamic tradition. ABC International Group, Inc.
Rauch, J. (2018). Generation Next: Millennials Will Outnumber Baby Boomers in 2019. Pew Research Center.
Rick Iedema, Pieter Degeling, Jeffrey Braithwaite and Les White. (2003). ‘It’s an Interesting Conversation I’m Hearing’: The Doctor as Manager. SAGE Publications, 15-33.
Rokom. (2013, September 27). Tenaga Kesehatan: Profesional dalam Tugas, Melayani dengan Hati. Retrieved from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20130927/408833/tenaga-kesehatan-profesional-dalam-tugas-melayani-dengan-hati/
Roos, A. (2019). Embeddedness in context: Understanding gender in a female entrepreneurship network. Entrepreneurship & Regional Development, 279-292.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 1-28.
Sandberg, J., & Alvesson, M. (2011). Ways of constructing research questions: gap-spotting or problematization? . Organization, 23-44.
Sari, A. M. (2020, Agustus 6). Hippocrates : Sosok Di Balik Munculnya Medis. Retrieved from Narasi Sejarah: https://narasisejarah.id/hippocrates-sosok-di-balik-munculnya-medis/
Schumpeter, J. A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. Harper & Brothers.
Schumpeter, J. A. (1976). Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge.
Shane, S., & Venkataraman, S. (2000). The promise of entrepreneurship as a field of research. Academy of Management Review. Academy of Management Review, 217–226.
Shefer-Mossensohn, M. (2009). Ottoman Medicine: Healing and Medical Institutions, 1500-1700. Sunny Press.
Shultz, T. W. (1975). The value of the ability to deal with disequilibria. Journal of Economic Literature, 827-846.
Smith, B. R., Conger, M. J., McMullen, J. S., & Neubert, M. J. . (2019). Why believe? The promise of research on the role of religion in entrepreneurial action. Journal of Business Venturing Insights, 11.
Smith, B. R., Conger, M. J., McMullen, J. S., & Neubert, M. J. . (2021). The importance of religion in shaping entrepreneurial intentions and behaviours: A systematic review and research agenda. Journal of Business Venturing Insights, 15.
Starr, P. (1982). The Social Transformation of American Medicine.
Stevens, R. (1971). American Medicine and the Public Interest. Yale University Press.
Stevenson, H. H., & Jarillo, J. C. . (1990). A paradigm of entrepreneurship: Entrepreneurial management. Strategic Management Journal, 11(5), 17-27. Strategic Management Journal, 17-27.
Strauss, W., & Howe, N. (2000). Millennials Rising: The Next Great Generation. Vintage Books.
Sugiyono. (2021). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Supady, J. (2020). Ancient Greek Medicine during Hellenistic Age and the Roman Empire. Semantic Scholar.
Syed, I. B. (2002). Islamic medicine: 1000 years ahead of its times. Journal of the Islamic Medical Association of North America, 34(1), 2-7. Journal of the Islamic Medical Association of North America, 2-7.
Teisberg, E., Wallace, S., & O'Hara, S. . (2020). Defining and Implementing Value-Based Health Care: A Strategic Framework. Academic Medicine, 682-685.
Tesarová, D. (2012). The History of Medicine in the Ancient Time. National Library of Medicine.
Thompson, J. L. (2002). The world of the social entrepreneur. International Journal of Public Sector Management, 412-431.
Tim Farmasi UII. (2018, Januari 25). Tokoh-tokoh Berjasa dalam Bidang Farmasi. Retrieved from Pharmacy UII: https://pharmacy.uii.ac.id/sarjana2018/01/25/tokoh-tokoh-berjasa-dalam-bidang-farmasi/
Tom Forbes, Jerry Hallier and Lorna Kelly. (2004). Doctors as managers: investors and reluctants in a dual role. Health Services Management Research, 167-176.
Topol, E. (2015). The Patient Will See You Now: The Future of Medicine Is in Your Hands. New York: Basic Books.
Topol, E. J. (2012). The Creative Destruction of Medicine: How the Digital Revolution Will Create Better Health Care. New York: Basic Books. New York: Basic Books.
Uzel, I. (1992). Serafeddin Sabuncuoglu, Cerrahiyyetu'l Haniyye. Turki: Türk Tarih Kurumu Yayınları.
Walter Lips Castro, Catalina Urenda Arias. (2014). Medicine in the pre-hippocratic civilization of ancient greece. Semantic Scholar.
Wardhana, M. (2016). Filsafat Kedokteran. Vaikuntha International Publication.
Wilmouth, D. (2016). The Missing Millennial Entrepreneurs. U.S. Small Business Administration Office of Advocacy Economic Research Series.
Wootton, R. (1996). Telemedicine: A cautious welcome. BMJ, 1375-1377.
Yunus, M. (2007). Creating a world without poverty: Social business and the future of capitalism. Public Affairs. Public Affairs.
Comments
Post a Comment